
...147💚...
"Eehhhhmmmm..." Lengkuh Aelin ketika merasa kan pelipis nya yang terasa berdenyut perih.
Perlahan pandangan Aelin yang memudar kini terlihat jelas, di mana netra nya menangkap wajah Stefan yang tersenyum manis kepada nya.
"Sayang kamu sudah bangun..?" Ujar Davin yang langsung memeluk tubuh Aelin.
Untuk sejenak ia benar- benar merasa takut.
"Iya.. Aku baik- baik saja sayang..." Jawab Aelin dengan lirih, lalu mendorong tubuh Davin untuk melepas kan diri nya.
Aelin terenyuh melihat Davin yang terlihat sangat mencemas kan diri nya.
"Maaf kan aku... Maaf kan aku sayang..." Davin meminta maaf sembari mencium rakus ke dua tangan Aelin.
Demi apa pun ia merasa sangat bersalah.
Aelin tersenyum tipis.
"Sudah tidak apa- apa . Itu semua hanya kecelakaan saja.. Tapi kenapa kamu mengamuk seperti itu.. Apa ada masalah?" Tanya Aelin menatap lekat wajah suami nya yang masih pucat.
Davin terdiam mendapat kan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Ia tidak mungkin mengata kan jika diri nya sangat gelisah dan dilema, karna ia harus memilih antara Aelin dan Syaila.
"Suami monster mu pasti sedang merasa gelisah, sehingga dia mengamuk seperti itu..."Selosor Stefan menyindir Davin. Di mana tatapan nya fokus dengan peralatan medis nya.
"Stefan... Benar- benar ingin membongkar semua nya.. Brengsek..." Umpat Davin tidak suka dengan apa yang di kata kan oleh Stefan.
"Gelisah? Gelisah kenapa?" Aelin menaut ka ke dua alis nya bingung.
Untuk apa suami nya gelisah?
Memang nya masalah apa yang membuat Davin sampai semarah itu?
Pikir Aelin dengan pertanyaan- pertanyaan yang mulai bermunculan.
Davin terdiam, lidah nya terasa kelu.
Apa yang harus ia kata kan untuk menjawab perkataan Aelin.
Melihat Davin yang hanya diam saja, Stefan tersenyum miring.
Tentu saja sahabat nya itu tidak bisa menjawab pertanyaan istri nya.
Jika ia menjawab pertanyaan itu maka semua kebohongan dan permainan nya akan berakhir.
__ADS_1
Stefan sudah sangat sering membujuk Davin untuk mengakhiri ini semua.
Meminta Davin untuk melepas kan Aelin dan membiar kan wanita malang itu menata hidup nya kembali.
Namun Davin begitu egois, dia tidak ingin melepas kan Aelin dan tetap mengikat Aelin di sisi nya.
Dan kini Syaila istri Davin yang sudah lama koma sudah tersadar.
Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Davin untuk menyelesai kan masalah yang sudah ia buat sendiri.
"Kenapa kamu hanya Diam Davin? Ayo jawab lah pertanyaan istri mu.. Aku juga ingin mendengar apa yang sudah membuat diri mu sampai kalang kabut seperti itu..?" Cecar Stefan dengan pertanyaan yang semakin mendesak Davin.
Davin menatap lekat wajah cantik Aelin. Di mana wajah itu meminta jawaban dari mulut nya.
"Aku seperti itu karna masalah pekerjaan.. Ada rekan bisnis ku yang ingin menjatuh kan diri ku..." Ucap Davin dengan menghela nafas nya.
Ia memilih jawaban itu karna bagi nya hal itu yang saat ini paling masuk akal.
Lagi pula ia tidak berbohong sama sekali , karna memang kenyataan nya jika Antonio ingin menghancur kan usaha nya.
Stefan mencebik kan bibir nya, mendengar alasan yang sangat masuk akal yang di kata kan Davin.
"Terus lah berbohong Davin.. Aku akan melihat samapai kapan kamu mampu untuk menyembunyi kan semua ini.. Sebelum nya tidak ada kehadiran Syaila yang akan memperumit langkah mu.. Tapi kini Syaila sudah sadar. Aku ingin lihat bagaimana kamu menghadapi nya..." Batin Stefan dengan tatapan tajam pada Davin.
Aelin mengangkat tangan nya mengusap lembut rahang tegas Davin.
"Jangan khawatir semua nya akan baik- baik saja.. Tapi marah dan mengamuk seperti itu tidak akan membuat masalah mu selesai... Dalam bisnis bukan kah itu hal yang wajar.. Lalu kenapa kamu setakut itu...?" Aelin mencoba menenang kan kegelisahan suami nya.
"Di mana tas ku.?" Pekik Aelin saat ingatan nya mengingat tas selempang nya.
Ia tidak ingin obat itu jatuh dari tas nya dan rencana nya akan di ketahui oleh Davin.
"Ini nona tas anda..." Ucap Darren yang menyerah kan tas tersebut pada Aelin.
"Terimakasih Darren..." Aelin meletak kan tas nya di samping nya.
...----------------...
Darren, Davin dan Stefan berjalan menuju pintu utama.
Di mana Ke dua nya ingin mengantar kan Stefan sampai ke depan pintu.
Namun saat Stefan sudah keluar dari ambang pintu , langkah nya langsung terhenti.
"Davin sampai kapan kamu akan berbohong..?" Tanya Stefan dengan tegas. Di mana atmosfer di sekitar Davin menjadi berat.
Ia sudah bisa menduga jika Stefan akan bertanya seperti ini pada nya.
__ADS_1
Di antara Darren dan Stefan, Stefan lah yang selalu bersikap tegas kepada nya.
Davin memijat pangkal hidung nya.
"Aku sama sekali tidak berbohong Stef apa yang aku kata kan memang benar. Antonio sudah membuka identitas nya di depan publik.. Hal itu dia lakukan untuk menghancur kan diri ku... Bahkan dia susah berani terang- terangan merebut kolega bisnis ku..." Jelas Davin dengan menatap Stefan datar.
Stefan menatap lekat pada sahabat nya itu, menelisik kebohongan di ke dua mata elang Davin.
Tapi seperti nya kali ini Davin tidak berbohong.
Ia juga cukup terkejut mendengar apa yang di kata kan oleh Davin.
Antonio sudah membuka identitas nya, tentu saja itu akan membuat perusahaan Davin terancam.
"Tapi kenapa Antonio begitu terobsesi untuk menghancur kan bisnis mu? Padahal kalian berdua adalah kakak ipar dan adik ipar. Untuk apa Antonio menghancur kan suami dari perusahaan kakak kandung nya sendiri?" Tanya Stefan seperti seorang hakim yang sedang mendakwa tersangka.
Tapi mau bagaimana lagi, sesuatu yang terjadi tidak mungkin tidak memiliki sebab.
Sama seperti asap yang tidak akan muncul jika tidak ada api.
"Sial... Stefan benar- benar mendesak ku.. dia bertanya seperti aku adalah seorang penjahat.." Batin Davin memutar otak nya untuk menjawab pertanyaan menjebak Stefan.
"Apa karna Antonio tidak terima karna kamu sudah menghianati kakak nya?.." Selosor Stefan menebak karna sejak tadi Davin hanya terdiam.
Wajah Davin langsung menegang mendengar ucapan Stefan.
Melihat situasi yang semakin memanas, Darren segera menengahi ke dua nya.
"Sudah lah.. Kalian ini kenapa membahas hal itu di sini.. Bagaimana jika Nona Aelin sampai mendengar nya?"
"Jika Aelin mendengar nya itu lebih bagus, karna semua kebohongan majikan mu ini akan terbongkar... Davin aku sudah mengingat kan mu... Bahwa apa yang saat ini kami lakukan adalah salah.. Kamu jangan serakah dengan menjerat dua wanita dalam hidup mu... Kamu harus memilih sebelum kamu menyesal.." Kecam Stefan dengan menunjuk wajah Davin.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙
.