Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Biarkan dia mati membusuk


__ADS_3

...208...


"Tutup mulutmu, dan sekarang pergi dari sini." Syaila mendorong tubuh Aelin dengan keras hingga hampir tersungkur di lantai.


Hap.


Untung saja, ada Maya yang masuk dengan cepat ke dalam ruangan tersebut dan menangkap tubuh Aelin yang sudah lemas.


"Anda tidak bisa mengusir, Nona Aelin," ujar Maya yang berhasil membuat semua wajah berubah menjadi bingung.


"Hei, pelayan tidak berguna berani sekali kamu mengaturku!" hardik Syaila yang mulai kebakaran jenggot. Ia ingin segera mengakhiri drama ini, tapi kenapa Maya harus muncul.


Aelin menatap sendu pada pelayannya selama ini. Kali ini ia tidak terkejut lagi kalau ada satu lagi orang yang juga membohongi dirinya selama ini. Luka yang ia terima sudah sangat dalam menyakitkan, jadi menerima luka satu lagi tidak ada apa-apanya lagi.


"Tuan Davin, Anda tidak bisa membiarkan Nona pergi dari rumah ini karena Nona sedang hamil."


Deg.


Ketiga pasang mata seketika melebar dengan sempurna. Mereka begitu kaget mendengar hal itu, terutama Davin.


"Apa?" Syaila membulatkan mulutnya tidak percaya. Tidak mungkin kalau Aelin hamil. Ketakutan menyeruak ke dalam dirinya. Takut kalau Davin berhenti marah dan memaafkan Aelin. Kemudian mereka akan bersama, dan dirinya pasti diceraikan oleh Davin.


"Tidak," lirih Antonio menatap Aelin yang terduduk di lantai dengan tatapan tidak percaya.


Aelin menatap ke arah Davin yang masih terdiam dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Ia berencana untuk memberitahu hal besar ini sebagai hadiah kejutan untuk sang suami. Namun, Davin tahu dari bibir orang lain. Hak itu pun diambil takdir darinya.

__ADS_1


Davin mendekat ke arah Aelin. Ia berjongkok di depan sang istri. Kedua tatapan mereka saling bertaut satu sama lain. Saling menyelami manik mata indah yang begitu menghanyutkan. Syaila yang melihat hal itu mulai cemas. Davin mengangkat tangannya menyentuh dagu Aelin.


"Hhh, ternyata kamu tidur dengan pria itu sampai mempunyai anak," tekan Davin sambil mencengkram keras dagu Aelin hingga bibir wanita itu manyun ke depan.


Hati Aelin pecah untuk kesekian kalinya. Kali ini adalah yang paling menyakitkan karena Davin tidak menganggap bayinya sendiri. Dada Aelin sungguh terasa sangat sesak hingga ia bernafas dengan tidak teratur. Cengkraman tangan Davin yang ada di dagunya tidak ada rasanya dari sakit hati yang sedang ia derita.


"Seharusnya, aku sudah membunuhmu bersama dengan ayahmu yang tidak berguna itu," lanjut Davin dengan ekspresi iblis. Aelin membulatkan kedua matanya kaget mendengar kenyataan yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Dunia yang kejam dengan situasi yang begitu mengerikan ini seakan berhenti berputar bagi Aelin.


Memori ingatan dalam kepalanya melayang mengingat kejadian saat sang ayah tiba-tiba sakit dan meninggal secara mendadak. Ternyata, semua itu perbuatan Davin. Air mata Aelin kembali tumpah dengan bola mata yang sudah memerah karena terus menangis. Semua yang terjadi padanya dengan begitu kejam adalah perbuatan dari pria yang sangat ia cintai. Kenapa, ia harus percaya pada sosok Davin dan jatuh cinta? Dimana, pria yang ia cintai tak ubah seperti monster bahkan lebih menyeramkan dari iblis.


Davin menghempaskan wajah Aelin. Melihat betapa hancurnya Aelin membuat ia tersenyum jahat. Inilah hal yang memang harus terjadi. Pembalasan dendam yang sempat tertunda kini telah terbayar tuntas. Aura kehidupan wanita itu sudah menguap diterbangkan angin. Hanya tersisa kepedihan dan luka yang akan tetap ada sampai dia meregang nyawa.


"Papi ... Brengsek kau Davin. Pembunuh!" teriak Aelin histeris menuangkan sesak di dadanya yang begitu menyakitkan. Seluruh organ dalam tubuhnya terasa membusuk seketika. Bagaimana bisa, ada orang sekejam ini. Dia merampas kehormatan, menghancurkan masa depannya, dan merampas tempat berteduh satu-satunya.


"Bayi itu memang bukan anakku, tapi anakmu dengan laki-laki lain---"


"Cukup!" bentak Aelin memotong ucapan Davin. Ia sudah sangat terluka, tapi ia tidak sanggup mendengar identitas bayinya di pertanyakan.


"Jangan menodai bayiku yang belum lahir dengan kata-kata burukmu itu. Aku tidak ingin bayiku mendengar kalau dia tidak dianggap oleh ayahnya sendiri. Aku seorang ibu, aku tidak bisa mendengar hal buruk apapun untuk bayiku. Kau telah berhasil menyakiti, melukai, menghancurkan, dan membuatku merasa mati berulang lagi. Kau juga telah berhasil menodai cinta yang kumiliki, tapi aku mohon jangan nodai bayiku. Setiap tangisku akan menjadi kutukan bagimu. Setiap Air mataku yang menetes karenamu. Akan selalu menjadi masa kelam yang akan selalu kau ingat. Setiap derita yang kau torehkan di setiap inci tubuhku, akan menjadi karma penyesalan yang akan terus membelengu jiwamu. Ini bukan sekedar umpatan atau kutukan belaka, tapi ini api kemarahan seorang wanita yang sudah kau hancurkan hidupnya. Aku membencimu," raung Aelin mengeluarkan unek-unek menyakitkan dalam hatinya yang sudah hancur lebur berbentuk debu.


Davin mengeram semakin marah mendengar umpatan celaka yang dilontarkan Aelin. Wanita itu memang tidak tahu malu, setelah mengkhianati dirinya hingga mengandung, bukan merasa malu tapi dia malah mengutuk dirinya. Davin meraih kedua bahu Aelin meremas dengan sangat keras hingga kulit Aelin terkelupas.


"Aku akan mengambil seluruh kehidupanmu. Merenggut setiap senyummu. Menghisap semua sari pati hidupmu. Hingga kamu memohon untuk tiada, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jangan salahkan takdir ataupun siapapun karena ini adalah salahmu telah berani mengkhianati seorang Davin Arselion," balas Davin mendorong keras tubuh Aelin yang sudah tak bertenaga.


"Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak akan meminta kematian karena saat ini aku hidup tanpa nyawa. Aku mungkin bisa bernafas, tapi aku tidak hidup."

__ADS_1


"Maya, bawa dia pergi ke kamarnya. Dia tidak akan pergi dari rumah ini. Aku ingin melihat dia mati membusuk di rumah ini!" titah Davin mutlak yang membuat Maya ternganga.


"Kebenaran akan selalu menjadi cahaya yang terang, tapi saat kamu menemukan cahaya itu. Maka itu tidak berguna lagi. Kegelapan akan selalu bersamamu, Tuan Davin Arselion."


"Maya, aku bilang bawa dia pergi sebelum aku membunuhnya di sini!" bentak Davin lagi. Maya segera membantu Aelin untuk bangkit dan membawa wanita malang itu keluar dari ruangan mengerikan tersebut.


Syaila menghela nafas lega, akhirnya semua drama selesai sesuai dengan keinginannya. Ia pikir, tadi Davin akan memaafkan Aelin karena menerima kabar kehamilan wanita itu. Namun, untung saja, Davin berpikiran pintar sehingga rencananya tidak gagal.


"Dav, kenapa kamu tidak mengusir Aelin?" tanya Syaila hati-hati membuka suara.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2