Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Kenyataan pahit


__ADS_3

...44🐳...


"Kak Antonio mendengar ku bukan?" Tanya Aelin dengan nada yang semakin memaksa.


Antonio melipat bibir nya dalam, bagaimana cara nya diri nya menyampaikan kabar buruk ini.


Ia tahu pasti Aelin akan sangat sedih saat mendengar kondisi Mr. Arkelin.


Tapi ia tidak bisa menyembunyi kan hal ini dari Aelin, karna bagaimana pun Aelin adalah putri dari majikan nya.


Aelin berhak mengetahui apa yang menimpa ayah nya.


Antonio menghembus kan nafas nya kasar, menguat kan hati nya yang saat ini sedang hancur berantakan, dengan pikiran- pikiran yang semakin menumpuk bahkan mungkin lebih tinggi dari gunung.


"Peri kecil kesayangan kakak, dengar kan kakak baik- baik. Papy saat ini tidak berada dalam kondisi baik- baik saja."


Jleb...


Duar...


Tubuh Aelin langsung melemas seketika, seolah- olah tulang- tulang nya berubah menjadi encer.


Sementara hati nya rasa nya tertusuk belati tajam yang langsung menembus punggung nya.


Ia rasa nya tengah berada di dalam ledakan boom yang berhasil menghancur kan tubuh nya hingga berkeping- keping.


Air mata Aelin semakin merembes dengan begitu deras, bahkan kini ia terisak dengan tangis sesenggukan.


Ternyata firasat nya bukan lah kebohongan. Insting nya terbukti nyata.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangis Aelin semakin mengencang, di mana Antonio bisa mendengar suara isak tangis yang bagi nya seperti ribuan anak panah yang menancap pada diri nya.


Rasa cinta pada Aelin sudah menjebak nya terlalu dalam, hingga luka Aelin juga ikut melukai diri nya.


"Memang nya apa yang terjadi dengan papy kak.?. Hiks... Hiks... " Seru Aelin dengan suara parau karna menangis yang terdengar begitu menyayat hati.


"Kilang minyak papy mengalami kebakaran hebat, hingga membuat seluruh kilang itu terbakar habis. Aku dan papy mu datang untuk mengecek tempat kejadian, namun aku tidak mengira jika papy mu akan mengalami syok bahkan hingga serangan jantung..."


"Tapi papy sudah baik- baik saja kan..? Dia sudah di tangani oleh dokter bukan kak?"


"Hmmm... Tapi sayang nya, saat ini kondisi papy kritis...."


Bammm.....


Lagi- lagi Aelin terpaku seribu bahasa, mendengar perkataan Antonio.


Rasa nya tubuh nya di hancur kan kembali oleh palu besar yang menghantam nya.


Bagaimana bisa ini terjadi?


Kritis.?


Kondisi ayah nya buruk.


Tangis Aelin semakin pecah , ke dua mata nya terlihat sembab dan bengkak dengan bola mata yang memerah karna terus menangis sejak tadi.

__ADS_1


"Hiks... Hiks... Astaga kenapa ini terjadi pada ku..?" Batin Aelin terpukul.


Ujian macam apa lagi ini?


Ia tidak bisa kehilangan satu- satu nya keluarga nya.


Kenapa takdir nya begitu kejam, bahkan kini nyawa ayah nya juga ingin di renggut.


Sebenar nya apa kesalahan nya, hingga hidup nya hancur berantakan seperti ini.


"Aelin... Aelin ... dengar kan kakak... Berhenti menangis, jangan berpikir- pikir aneh- aneh. Papy pasti bisa melewati masa sulit nya... Berdoa lah agar papy selamat..."


Tut....


Panggilan telpon tersebut berakhir, dengan kata- kata penenang dari Antonio yang sama sekali tidak mempan untuk Aelin.


Aelin menjatuh kan begitu saja ponsel nya, hingga terjatuh ke atas kasur nya.


Tubuh nya langsung ambruk, menabrak permukaan kasur yang empuk, namun terasa sangat keras bagi Aelin.


"Hiks... Hiks... Hiks...." Aelin masih bergelung dengan tangisan nya.


Meratapi nasib nya yang begitu malang.


Aelin melipat tubuh nya, memeluk ke dua lutut nya.


Manangis dan meringgis mengutuk nasib nya yang sangat suram.


Perlahan demi perlahan, hidup nya hancur dengan cobaan yang datang bertubi- tubi.


Ia sangat menyesal, mengabai kan sang ayah beberapa hari yang lalu.


Seharus nya ia tidak bersikap seperti itu. Karna sang ayah tidak mau sang anak ternoda dan di campak kan begitu saja.


Kenapa ia begitu egois?


Kenapa semua nya terjadi pada diri nya?


Apa belum cukup duka nya, hingga lagi- lagi takdir mengirim duka yang jauh lebih besar.


Aelin terus menangis dalam diam, pikiran nya benar- benar kosong dengan hati yang hancur berkeping- keping.


...----------------...


Davin melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Ia ingin segera sampai di rumah sang mertua, dan menyeret kembali istri nya yang sudah berani pergi tanpa izin nya.


Ia sudah memberi izin untuk membiar kan Aelin tetap bersekolah, dengan tujuan gadis itu akan merubah cara pandang diri nya dalam penilain gadis itu.


Ia ingin Aelin terjebak dalam pesona nya, sehingga ia selalu bersiap lembut pada bocah itu.


Tapi seperti nya Aelin benar- benar mengirim sinyal perang bagi nya.


Lihat saja setelah ia menyeret istri siri nya itu kembali ke rumah nya, ia pasti kan Aelin akan mendapat kan pelajaran. Pekik Davin dengan amarah yang terlihat mengukus dari atas kepala nya.

__ADS_1


Drrrttt....


Drrrt...


Drrrrtttt....


Ponsel Davin tiba- tiba berdering, membuat kekesalan dan kemarahan Davin semakin tersulut.


"Benda sialan ini sejak tadi terus berdering..." Umpat Davin marah, namun tetap mengangkat telpon yang ternyata dari Darren.


"Berani sekali kamu menelpon ku asisten persetan...! Setelah kamu membuat ku kalang kabut menjemput bocah tengil itu... Semakin hari ternyata kamu semakin melunjak, apa kamu sudah bosan bekerja untuk ku.. Aku tidak mau tahu, setelah ku akhiri panggilan ini kamu ku pecat...!!!" Teriak geram Davin dengan emosi yang sudah mencapai level tertinggi.


Ia sangat kesal dan marah pada Darren, untuk pertama kali nya Darren kepercayaan nya melakukan sesuatu yang membuat nya sangat kesal.


Ia menugas kan Darren untuk mengawasi Aelin.


Mengantar dan menjemput bocah itu, dan memastikan jika Aelin tidak pergi kemana pun.


Tapi bukan nya mengerjakan tugas nya dengan benar, Davin malah mendapati jika Aelin melawan arah jalan pulang.


Dan ia benar- benar sangat marah dengan keteledoran Darren.


"Maaf Tuan tapi ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yang membuat saya harus meninggal kan tugas dari Tuan..." Jawab Darren dengan suara datar nya, tanpa takut sedikit pun. Meski ia sudah di marahi habis- habisan oleh sang majikan yang sudah kebakaran jenggot.


"Bajingan tugas apa lagi yang jauh lebih besar dari itu, kau tahu karna ulah mu. Bocah tengil itu tidak pulang ke rumah tapi pulang ke rumah papy nya...!!" Bentak Davin menggelegar.


Mengeluar kan amarah nya dengan makian pada sang asisten.


"Maaf sekali lagi untuk itu tuan.... Saya memang teledor akan menjalan kan tugas itu. Tapi anak buah saya mengabar kan jika dokter Nashila sudah sampai di bandara. Jadi tanpa pikir dua kali saya lebih memilih untuk menjemput dokter yang akan mengobati Nyonya..."


Cittttttt.....


Davin langsung menginjak pedal rem mendadak, membuat mobil tersebut berhenti dengan tiba- tiba.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2