Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Kembali ke rencana awal.


__ADS_3

...129💛...


"Kamu ingin menghancur kan wanita malang itu lagi?" Sarkas Stefan menyindir Davin.


Terakhir kali ia pergi dari rumah ini dengan keaadan diri nya yang bertengkar dengan Davin, karna masalah Aelin di mana Davin mengata kan jika wanita malang itu hanya sebagai mainan balas dendam nya.


Tapi saat ia datang kembali ke rumah ini, ke dua mata polos nya langsung ternoda dengan keromantisan suami istri siri itu.


Sangat menyebal kan.


Davin berdecak kesal saat melihat kehadiran dua virus pengganggu yang sudah mengacau kan kebersamaan nya dengan Aelin.


Melihat wajah dua pria yang sedang menatap nya instens membuat Davin merasa kesal.


Terutama Stefan dokter cerewet itu yang lansung menyindir nya dengan pahit.


"Kenapa kau Diam Davin? Apa mulut mu sudah terkunci atau pertanyaan ku yang sedang membuat mu kesal?" Cecar Stefan dengan menatap wajah khas bantal Davin. Lalu menyingkap selimut sahabat nya itu. Di mana ia bisa melihat kaki Davin yang terpasang gift


"Ck... Bisa tidak kalian mengetuk pintu sebelum masuk.? Seperti nya kalian sudah melupa kan apa itu tata krama..." Balas Davin dengan datar.


Darren yang mendengar nada suara Davin yang mengandung kekesalan memutar ke dua bola mata nya malas, lalu merebah kan bokong nya di bibir kasur.


Siapa yang tidak akan kesal jika di ganggu sedang bermesraan. Apa lagi sahabat nya itu sedang merasa kan api asmara.


Stefan memeriksa kaki Davin. Begini lah pekerjaan nya yang bertambah karna Davin yang sedang sakit.


Ia harus sering datang ke rumah ini untuk merawat dan memantau kondisi Davin.


Meski ia marah pada Davin, tapi tetap saja ia bukan sahabat yang jahat yang tidak peduli pada sahabat nya ketika terluka.


Entah sampai kapan Davin akan menerus kan balas dendam nya, dengan membohongi wanita malang dan lugu itu.


"Aku rasa kaki mu akan sedikit lama untuk sembuh karna tulang kering yang retak... Dan untuk itu kamu harus rajin minum susu .. Jika kondisi mu sudah membaik kita akan lakukan terapi untuk melatih otot mu..." Stefan menjeda kalimat nya melirik ke arah Davin yang masih membuang wajah nya ke arah taman.


"Davin.. Apa kamu tidak merasa ini karma?"


Davin menatap ke arah Stefan yang menatap nya penuh rasa kasihan.

__ADS_1


Rasa nya ia begitu menyedih kan di hadapan pria yang bernotabene sebagai dokter itu.


"Yah karma, karna kamu telah menghancur kan kehidupan orang lain... Dendam mu tidak akan membawa kepuasaan, dendam mu hanya membawa luka Vin... Kamu menghancur kan hidup orang lain dan lihat takdir membuat mu tidak bisa berjalan tapi orang yang berada di sisi mu adalah wanita malang itu, wanita yang sudah kau buat hidup sendiri... Pertama kamu merebut kehormata nya, lalu kamu merampas ayah nya, dan sekali lagi kamu ingin membuat dia hancur dengan tipu muslihat mu yang murahan itu... Aku rasa karma ini tidak lah cukup untuk membayar apa yang sudah kamu lakukan pada nya... Kenapa tidak sekalian kamu meninggal dalam kecelakaan itu--"


"Davin mencintai Aelin...!" Sanggah Darren yang memotong perkataan Stefan yang terus saja mengoceh.


Davin dan Stefan menatap tajam pada Darren.


Stefan mengerut kan dahi nya lalu menatap secara bergantian antara Davin dan Darren.


Permainan macam apa lagi yang tengah di main kan Davin? Pikir Stefan di mana pikiran nya sudah melayang ke titik negatif.


Sementara Davin menatap tajam Darren. Di mana tatapan nya seolah membelah tubuh Darren menjadi berkeping- keping.


Mulut Darren selalu saja lemes. Seandai nya pria itu bukan sahabat nya sudah dari dulu ia membuat mulut itu diam.


"Cinta?" Stefan bertanya heran.


Darren yang di tatap oleh ke dua orang itu bersikap biasa saja.


Ia tidak ingin memasuk kan tatapan ke dua sahabat nya itu ke dalam hati. Terutama dengan tatapan Davin yang sudah ingin mencincang diri nya.


"Waooo Davin Arselion... Kau memang sangat hebat.. Kau berteduh di dua rumah, saat rumah mu yang satu nya sedang bocor bukan nya memperbaiki kamu malah mencari rumah lain untuk berteduh... Kamu memang brensek Davin..." Sarkas Stefan yang benar- benar tidak mengerti kelakuan Davin yang bagi nya sangat bejad.


Davin mengepal kan ke dua tangan nya dengan erat.


Darah nya terasa mendidih mendengar sindiran dan perkataan pahit yang di layang kan kepada nya.


Tapi ia tidak menampik apa yang di kata kan oleh ke dua sahabat nya itu memang benar.


Diri nya memang brengsek.


Diri nya memang bajingan.


Tapi perasaan hangat yang ia rasa kan saat bersama Aelin tidak bisa ia hindari.


"Jika kamu ke sini untuk mengobati ku maka lakukan.. Tapi jika kamu ke sini untuk menghina ku maka pergi lah.. Aku bisa menyewa Dokter lain selain diri mu..." Ketus Davin dengan menahan nafas nya.

__ADS_1


"Kalian bisa mengata kan apa pun... Perasaan dan hati seseorang tidak bisa di paksa dan di tebak di mana ia ingin berlabuh.. Aku tahu rasa ini tidak pantas aku miliki.. Perasaan yang ku miliki untuk Aelin memang salah... Dan aku akan segera menyingkir kan nya..." Lanjut Davin dengan hati nya yang terasa di remas.


Membayang kan jika diri nya sekali lagi menyakiti Aelin dan menghancur kan hidup Aelin maka entah wanita malang itu masih bisa bertahan atau tidak.


Stefan dan Darren terdiam saat mendengar ungkapan Davin yang terdengar begitu tulus dan penuh dengan derita.


Hati ke dua nya rasa nya sedikit nyilu.


Ternyata Davin berada dalam keadaan yang begitu dilema.


Rasa nya mereka bersalah dengan terus menyalah kan Davin.


Tapi semua nya tidak akan terjadi jika Davin tidak memulai drama balas dendam ini.


Hanya karna kemarahan sesaat Davin membabat habis kehidupan orang lain.


Dan sekarang seolah semua yang telah di lakukan malah menjadi bumerang yang menyerang nya balik.


"Aku memang tidak mengerti tentang perasaan Davin.. Jika kamu mencintai Aelin lalu bagaimana dengan Syaila?.. Dia istri mu.." Nada bicara Stefan melemah.


Davin menunduk dalam menatap ke dua jari jemari nya.


"Aku akan mengurus nya.. Perasaan ku pada Aelin memang tidak seharus nya ada... Maka aku akan membunuh perasaan ini... Awal nya aku ingin menjebak Aelin dalam cinta ku dan menghancur kan nya di titik akhir.. Dan rencana ku itu akan terjadi sesuai dengan rencana awal..." Davin menatap datar pada Stefan yang terdiam.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2