
...135💚...
Waktu berjalan dengan begitu cepat, bulan berganti bulan, hari berganti hari, malam berganti pagi, dan siang berganti malam.
Jam, menit dan detik terus saja bergerak tanpa berhenti untuk sejenak.
Sesosok wanita sedang asik memain kan teflon di tangan nya.
Di mana bibir nya tersenyum dengan indah.
Bau aroma masakan langsung memanja kan indra penciuman para pelayan yang tengah sibuk dengan perkerjaan nya masing- masing.
"Nona Aelin sangat pandai memasak. Setiap masakan nya selalu saja beraroma harum..." Bisik seorang pelayan dengan menelan ludah nya paksa.
"Iya bahkan tuan Davin tidak ingin memakan makanan apa pun selain dari makanan yang di masak nona... " Timpal Rekan nya yang lain di mana ke dua pelayan itu sedang bergosip ria.
"Pantas saja Tuan Davin tidak mau memakan makanan yang di buat kepala koki, karna masakan nona jauh lebih enak dari masakan kepala koki.. Aku masih ingat saat Nona memberi kan sepiring puding pada setiap pelayan untuk meraya kan Tuan Davin yang sudah bisa berjalan lagi..."
"Iya kamu benar rasa puding nya sangat lezat... Rasa nya aku ingin lagi.. Aku juga sangat senang saat berbicara dengan Nona.. Nona Aelin sama sekali tidak sombong seperti Nyonya Syaila dulu... Dia bahkan berbaur bersama kita... Bukan kah dia sangat baik?"
"Aku harap Nyonya Syaila tidak akan bangun lagi.. Sekalian saja dia mati.. Biar Nona Aelin bisa bersama dengan Tuan Davin..."
Pelayan tersebut mengendik kan bahu nya ngeri saat beberapa kilasan bayangan muncul di kepala nya.
"Ekhhhmmmm...."
Ke dua pelayan yang sedang asik menggosip itu langsung terlonjak kaget saat mendengar deheman seseorang yang berada di belakang mereka.
Ke dua nya langsung memutar tubuh mereka menghadap pada wanita yang tengah menatap mereka dengan tatapan curiga.
Ia sempat menguping pembicaraan ke dua pelayan ini, namun suara mereka yang kecil saat berbicara membuat Aelin tidak bisa mendengar apa- apa.
Ke dua pelayan tersebut langsung membungkuk kan tubuh nya saat melihat Aelin.
"Maaf kan kami nona karna telah lancang..." Cicit salah satu pelayang yang sudah hampir menangis karna ketahuan diri nya sudah menggosipi majikan nya.
"Iya nona.. Jangan hukum kami. Kami tidak akan mengulangi nya lagi..." Tambah pelayang yang satu nya lagi tak kalah panik nya.
Mulut mereka memang ceroboh, seharus nya mereka menjaga mulut- mulut mereka Agar tidak membicarakan apa pun tentang majikan di dalam rumah besar ini. Jika hal itu sampai di telinga Davin maka sudah di pasti kan hidup mereka akan lebih buruk dari pada gelandangan yang ada di jalanan kota.
Aelin terkekeh ringan melihat ketakutan ke dua pelayan itu yang masih membungkuk kan tubuh nya.
Ia merasa sangat lucu akan hal itu.
"Memang kalian menggosipi siapa ?" Tanya Aelin dengan tertawa ringan.
Ia sama sekali tidak mendengar apa pun, tapi lihat lah wajah ke dua pelayan ini yang langsung ketakutan seperti mereka telah mengata kan sesuatu yang sangat buruk.
__ADS_1
Ke dua pelayan itu langsung menegak kan tubuh nya.
Mereka menghela nafas mereka lega, sejenak rasa nya mereka di hampiri oleh kematian.
"Maaf nona kami hanya kagum dengan masakan Nona yang sangat lezat apa lagi bau nya yang menguar ke seluruh penjuru dapur..." Jelas pelayan itu sambil tersenyum mengata kan apa yang mereka tengah bicara kan.
Meski sebagian nya lagi mereka sembunyi kan.
Mereka tidak mungkin mencari mati dengan mengata kan jika mereka membanding kan Aelin dengan Syaila bisa- bisa tubuh mereka langsung di giring sebagai makanan harimau.
Aelin hanya manggut- manggut mengerti. Meski sebenar nya ia sedikit merasa bingung karna tanpa sengaja Aelin mendengar ke dua pelayan ini sedang membanding kan diri nya dengan seseorang.
Tapi entah siapa.?
"Apa aku salah dengar?." Batin Aelin.
Namun tubuh Aelin langsung tersentak saat pinggang nya di rengkuh oleh seseorang.
Ke dua pelayan di depan nya langsung membungkuk hormat dan pergi.
"Tega sekali diri mu meninggal kan aku sendiri di ranjang... Hmmm" Davin menenggelam kan wajah nya tepat di ceruk leher Aelin.
Menghirup aroma tubuh Aelin yang selalu memabuk kan untuk nya. Serta mengecup kecil leher Aelin.
Aelin mengusap rambut tebal Davin, lalu membalik kan tubuh nya menatap wajah bantal Davin khas bangun tidur.
Cup..
Cup...
Davin melayang kan dua kecupan singkat di pipi putih Aelin.
Ia selalu saja gemas dengan dua benda kenyal di wajah Aelin itu.
"Henti kan sayang....! Jangan lakukan itu di sini.. Lihat banyak orang melihat kita..." Aelin menahan bibir Davin yang sudah menyosor ingin mengecap bibir nya.
Davin mendengus kesal.
"Kamu belum memberi ku morning kiss sayang... Jangan coba- coba curang..."
"Ck... Lebih baik kamu segera pergi mandi dulu.. Aku akan menyiap kan sarapan mu... Apa semalam belum cukup untuk mu..." Sebal Aelin yang langsung mendorong tubuh Davin.
Davin menghela nafas nya kesal. Ia sama sekali tidak mendapat kan apa yang dia ingin kan.
Tapi jika ia memaksa pasti Aelin akan marah dan malam nya ia akan tidur di sofa ruang tamu.
"Baik lah aku pergi..." Ucap Davin dengan dingin lalu melenggang pergi dari dapur.
__ADS_1
"Dasar.. Dia selalu saja minta jatah.. Apa kemarin malam dia tidak puas..." Keluh Aelin dengan mendelik ketika melihat punggung Davin yang berlalu kecewa dari dapur.
Aelin menatap ke arah perut nya, lalu meraba perut nya yang masih rata.
"Aku harap akan ada malaikat kecil di perut ku ini... Aku yakin hubungan ku dengan Davin pasti akan semakin harmonis dengan kehadiran seorang bayi..." Lirih Aelin tersenyum dengan tatapan penuh harap.
Beberapa bulan telah berlalu, kini hubungan nya dengan Davin semakin membaik.
Bahkan mereka sudah melewati malam pertama mereka dengan saling meneguk nikmat moment itu.
Davin semakin romatis pada Aelin, begitu pula Aelin yang sangat bahagia bersama dengan Davin.
Rasa nya hidup nya sudah lengkap, hanya tinggal menunggu kehadiran bayi kecil di tengah- tengah mereka.
Hanya tinggal satu bulan lagi, maka diri nya akan lulus sekolah.
Rasa nya Aelin tidak sabar untuk menghadapi kelulusan itu.
Ia ingin mengabdikan hidup nya untuk mengurus suami dan anak- anak nya.
Rencana kehidupan nya setelah lulus adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Aelin menatap sarapan yang sudah ia buat untuk Davin.
Rutinitas yang menjadi kebiasaan nya setiap hari.
Hari ini adalah hari minggu yang arti nya ia libur sekolah.
Aelin mengangkat nampan berisi makanan dan berjalan keluar dari dapur.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1