Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Selingkuh!


__ADS_3

...168💚...


Lia duduk di samping Aelin. Pandangannya lurus ke arah tumbuhan yang bergoyang di tiup angin sepoi-sepoi.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ae? Bahkan saat menjawab soal ujian tadi kamu tidak terlihat fokus. Bahkan kamu hanya menjawab setengah dari soal, semua itu tidak pernah terjadi sebelumnya." Nada suara Lia menjadi serius, ia menoleh ke arah Aelin yang malah menundukkan kepalanya dalam.


"Apa ini tentang Davin?" tebak Lia dengan menaikkan alisnya.


Aelin menggangguk kecil, sebagai jawaban jika tebakan Lia memang benar. Mungkin dengan bercerita pada Lia ia menemukan kesimpulan atau jawaban dari pertanyaan yang kini terngiang-ngiang di kepalanya.


Wajah Lia semakin serius, ia menajamkan telinganya. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Aelin.


"Kamu masih ingat vocher hotel yang kamu berikan padaku?"


Lia menggangguk dengan cepat.


"Aku dan Davin chek-in kemarin sore. Kami menginap semalaman. Tapi, pagi tadi aku tidak menemukan Davin ada di kamar---"


"Maksudmu Davin menghilang?" potong Lia menyimpulkan dengan cepat. Aelin menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Aku juga berpikir seperti itu? Aku pikir dia pergi meninggalkanku di hotel begitu saja karna ada urusan yang memang penting. Tapi, ternyata Davin sudah pulang sejak semalam. Itu artinya dia memang sengaja meninggalkan aku Li." Nada bicara Aelin menjadi sedih dan kecewa.


"Hah? Tapi kenapa Davin meninggalkanmu di hotel? Bukankah kalian bisa pulang bersama jika dia ingin pulang?"


"Itu yang menjadi pertanyaanku Li."


Lia terlihat berfikir sejenak, sebelum wajahnya menjadi pias.


"Ini aneh Lin, apa sebelumnya kamu menemukan hal yang janggal tentang Davin belakangan ini?"

__ADS_1


"Iya, Belakangan ini Davin sering sekali melamun. Kadang saat aku memanggilnya dia sama sekali tidak merespon, seperti raganya ada di depanku namun tidak dengan jiwanya. Beberapa hari yang lalu juga tiba-tiba Davin mengamuk, menghancurkan barang-barang yang ada di dalam ruang kerjanya. Tapi, dia mengatakan hal itu karna saingan bisnis yang ingin menjatuhkannya." Aelin menjeda kalimatnya.


"Lalu, ketika makan malam. Entah siapa yang menelponnya, tiba-tiba dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku. Bahkan makanan yang hampir di makannya dia jatuhkan ke lantai begitu saja. Dan yang paling aneh, aku melihat beberapa bercak merah ada di leher Davin. Seperti bekas kissmark, tapi dia mengatakan itu adalah bekas gigitan nyamuk yang di garuk."


Lia menggelengkan kepalanya dengan perlahan, sembari tangannya mengelus dagunya. Dari cerita Aelin satu hal yang bisa Lia simpulkan dengan semua tingkah Davin yang aneh.


"Ckck, aku berharap apa yang aku duga salah!" gumam Lia, yang membuat Aelin penasaran dengan apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


"Li apa maksudmu? Apa kamu tahu sesuatu?" cecar Aelin dengan tidak sabaran, bahkan Aelin menarik-naik lengan Lia.


"Jangan menarikku seperti itu, bisa-bisa tanganku copot," sergah Lia yang membuat Aelin cemberut. Karna di saat membicarakan sesuatu yang sensitif seperti ini, Lia malah bercanda.


"Kau ini, kepalaku rasanya mau pecah memikirkan hal ini. Aku masih tidak menduga Davin meninggalkan aku begitu saja." Curhat Aelin menyenderkan kembali tubuhnya.


"Aku rasa Davin memiliki wanita simpanan."


"Maksudmu apa?" tanya Aelin ingin memastikan apa yang ingin dikatakan oleh Lia. Wanita simpanan? Apa maksudnya?


"Selingkuh." Lia menatap Aelin yang terlihat sok dengan apa yang baru saja ia katakan.


Benarkah seperti itu? Benarkah jika Davin berselingkuh dari dirinya? Apa benar Davin memiliki wanita lain selain dirinya? Semua pertanyaan itu mulai bermunculan di kepala Aelin. Rasanya kepalanya saat ini ingin meledak dan pecah berkeping-keping.


Lia menangkup wajah Aelin, dimana ke dua mata indah Aelin mulai berkaca-kaca. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Aelin. Tapi ia menarik kesimpulan dari semua hal yang di ceritakan Aelin. Mungkin Aelin masih polos, sehingga Aelin tidak tahu muslihat seorang pria. Tapi sangat mudah untuk dirinya menyimpulkan hal seperti itu. Karna, dirinya bukan gadis polos yang hanya sekali bermain cinta.


"Ini masih dugaan Ae, jangan terlalu di pikirkan. Tapi hal itu juga bukan mustahil untuk terjadi. Apalagi Davin adalah seorang pengusaha yang sukses. Banyak wanita yang ada di sekelilingnya."


"Tidak! Davin tidak mungkin selingkuh Li. Rasanya itu mustahil, Davin sangat mencintaiku." Senyum getir mengembang begitu menyakitkan di bibir Aelin.


Ia berusaha menyingkirkan hal buruk tentang Davin dari pikirannya. Rasanya tidak mungkin Davin selingkuh, melihat betapa Davin begitu perhatian dan selalu ada di sisinya selama ini. Selalu menjadi sandaran baginya, di saat satu per satu semua orang pergi darinya.

__ADS_1


"Terkadang percaya buta adalah hal yang akan menghancurkan kita dengan sangat buruk. Tapi, jangan pikirkan apa yang aku katakan. Aku yakin keyakinanmu tidak salah." Lia menarik tubuh Aelin masuk ke dalam pelukannya.


Ia sedikit menyesal sudah mengatakan hal itu pada Aelin. Seharusnya ia menjaga mulutnya yang tidak punya rem ini. Tapi, entah mengapa ia yakin jika Davin memang memiliki wanita lain. Lihat saja jika hal itu terbukti. Dirinya akan langsung meninju wajah tampan Davin sampai mata pria itu masuk ke dalam tengkorak wajahnya.


Sedangkan Aelin semakin kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Lia. Ia ingin sekali tidak mengubris hal itu, tapi terasa sangat sulit. Apalagi semua yang terjadi pada Davin belakangan ini seperti mengarah pada perselingkuhan.


Aelin memejamkan ke dua matanya, mensugesti dirinya jika itu tidak mungkin terjadi. Apalagi sekarang ia sedang melakukan program hamil untuk memberikan kejutan untuk Davin.


Rasanya selingkuh adalah hal yang mustahil. Aelin dan Lia mengurai pelukannya.


"Sudahlah jangan pikirkan apa yang aku katakan tadi, aku hanya iseng mengatakannya. Kamu bisa menanyakan alasan mengapa Davin meninggalkanmu. Tidak ada yang lebih tahu jawabannya dari pada Davin," hibur Lia dengan tersenyum lebar.


"Kamu benar, kenapa aku memikirkan sesuatu yang buruk. Aku tidak boleh stres, hal itu bisa memengaruhi program kehamilanku."


Lia merasa iba ketika melihat Aelin yang memaksakan senyumnya. Meski Aelin berusaha menutupi kegelisahan di dalam hatinya. Tapi, Lia bisa merasakan hal itu. Semoga apa yang ia duga tidak pernah terjadi. Sudah cukup Aelin menderita selama ini.


"Kita pulang?" Lia melompat dengan bersemangat. Memasang wajah ceria dan sumringah. Menepis kesedihan yang sempat terjadi. Lia mengulurkan tangannya pada Aelin.


Melihat wajah ceria dan sumringah Lia, membuat Aelin tertular. Aelin menyambut uluran tangan Lia dengan cepat.


Kedua perempuan itu bergandengan tangan, lalu berjalan beriringan meninggalkan taman sekolah. Sesekali keduanya melemparkan candaan dan guyonan yang mampu membuat Aelin melupakan sejenak kegelisahan dalam hatinya.


...----------------...


...****************...


Aelin dah mulai pintar ya, yok Lia kasi pendidikan tentang dunia cinta yang tak seindah bunga mawar.


Yok like koment gift anda vote y❤️😘

__ADS_1


__ADS_2