Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Siapa dia?


__ADS_3

...79😻...


Mobil Antonio akhir nya memasuki pelataran rumah besar dan megah bak istana.


Tentu saja ia tahu jika rumah ini adalah rumah Davin.


Dulu ia sering kemari untuk bertemu sang kakak Syaila.


Masih indah teringat di kepala nya bagaimana mereka saling berbagi kisah dan melontar kan guyonan jenaka.


Namun semua nya berubah saat insident kecelakaan Syaila.


Keluar mereka bercerai- berai dengan membawa duka masing- masing.


Keluar Antonio memutus kan untuk mengihklas kan Syaila, namun tidak untuk Davin yang masih kekeh untuk mempertahan kan Syaila.


Sedang kan diri nya hanya bisa pasrah menyaksi kan semua hal yang terjadi.


Aelin membuka pintu mobil dan turun dari mobil Antonio.


Ia berjalan mendahului Antonio yang masih melamun memandangi rumah besar di hadapan nya.


Ternyata Davin juga membiar kan Aelin tinggal di rumah yang sama, rumah yang menjadi istana untuk kakak nya, kini juga di berikan kepada wanita lain.


Harus kah ia kesal atau marah?


Karna kakak nya Syaila di madu oleh Davin.


Tapi rasa nya tidak mungkin, karna wanita yang adalah madu kakak nya adalah Aelin.


Gadis yang di cintai nya dalam diam, di mana ia belum sempat mengata kan perasaan nya pada Aelin.


Namun sudah di patah kan paksa oleh Davin.


Langkah Aelin berhenti, saat merasa kan jika Antonio masih belum keluar dari mobil.


Tubuh Aelin memutar, dan berjalan kembali ke arah mobil Antonio.


Tok..


Tok..


Tok..


Aelin mengetuk kaca mobil Antonio, di mana Antonio mengerjap kaget, lalu menurun kan kaca mobil nya. Menampil kan wajah cantik Aelin yang sangat mirip dengan boneka porselin.


"Iya..." Cicit Antonio dengan kaku, menyembunyi kan rasa bersalah nya, ketika melihat wajah gadis polos yang belum tentu bersalah dalam misi balas dendam Davin.


Aelin mengerjit kan alis nya. Ia merasa tingkah Antonio semakin ke sini semakin aneh.


Ia sering memergoki pria ramah itu melamun, dan bergumam sendiri.

__ADS_1


Namun saat ia bertanya, Antonio hanya mengelak dan memberi kan alasan pada Aelin.


"Melamun lagi? Sebenar nya apa yang sedang kak Antonio pikir kan?" Cecar Aelin yang sudah sangat penasaran dengan sikap Antonio.


"Aku akan mengata kan nya nanti... Menyingkir lah dari sana.. Aku tidak mau tubuh kurus mu terbang karna terkena dorongan pintu mobil ku..." Balas Antonio dengan ledekan di akhir kalimat nya.


Aelin memindah kan tubuh nya, memberi kan ruang untuk pintu mobil Antonio terbuka.


Antonio turun dari mobil , setelah sekian lama akhir nya ia bisa menginjak kan kaki nya kembali di rumah ini. Namun dengan alasan untuk mengobrol dengan wanita yang berbeda.


Hati nya benar- benar merindu kan Syaila.


Batin Antonio dengan wajah nya yang terlihat menggurat kan kesedihan.


Aelin diam- diam memperhatikan perubahan wajah Antonio yang membuat kepala nya di penuhi oleh banyak pertanyaan.


"Ck... Tuh kan ngelamun lagi... Apa kak Antonio pernah ke rumah ini?" Tanya Aelin dengan nada menyelidik. Namun sungguh ada yang aneh dengan sikap Antonio.


"Ha... Ha.. Mana mungkin, hanya saja kakak sangat kagum melihat rumah tuan Davin yang ternyata sangat besar..." Jawab Antonio berbohong.


"Oh ya? lalu kenapa wajah kakak sedih seperti itu ? bagaimana bisa orang mengagumi sesuatu tapi raut wajah nya sedih?"


Glek...


Antonio menelan saliva nya paksa, ternyata ia bersandiwara dengan sangat buruk.


Aelin sangat mudah menebak ekspresi wajah nya.


Antonio menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ahhhh... Itu kakak hanya merasa sedih karna belum bisa membuat rumah sebesar ini..." Seru Antonio memberi kan alasan yang cukup masuk akal di kepala Aelin.


Padahal sejujur nya ia bahkan memiliki rumah yang jauh lebih besar dan megah dari rumah Davin.


Namun Aelin maupun almarhum Mr. Arkelin sama sekali tidak tahu, karna identitas nya menjadi putra satu- satu nya dari ketua bandar narkoba di rahasia kan dan di tutupi dengan baik oleh Davin, yang sudah membantu nya menyembuyi kan identitas diri nya.


Plak...


"Auuuu...." Ringgis Antonio saat mendapat kan pukulan di lengan nya, di mana pelaku nya adalah Aelin.


"Aku yakin suatu saat nanti, kak Antonio pasti punya rumah yang jauh lebih besar dari ini... " Ujar Aelin menghibur Antonio , tanpa ia tahu Antonio mengata kan hal itu untuk menghilang kan kecurigaan nya.


"Jika kakak bisa memiliki rumah yang jauh lebih besar dari ini, apa kamu mau hidup bersama kakak.?" Tanya Antonio menatap Aelin dengan sendu.


"Mungkin.. Aku akan memikir kan nya.. Ha.. Ha..." Jawab Aelin asal, namun menjadi sebuah harapan untuk Antonio.


"Ayo masuk... Kita akan mengobrol banyak hal di dalam... Aku sangat rindu dengan kebersamaan kita... Oh ya kakak juga belum makan... Aku akan meminta Maya untuk menyiap kan makanan..." Seru Aelin dengan mode cerewet nya, di mana wajah nya terlihat sedikit ceria.


Kehadiran Antonio di samping nya cukup mampu menjadi pelipur lara bagi diri nya.


Sementara dari lantai atas, Nyonya Tissa menyaksi kan intraksi Aelin dan Antonio.

__ADS_1


Ke dua tangan nya saling bertaut, di mana kegundahan mulai melanda.


Ia khawatir karna kehadiran orang lain di dalam rumah ini.


Bagaimana jika pria yang bersama Aelin itu mempertanya kan kehadiran diri nya di rumah besar ini.


"Ck... Aelin benar- benar merepot kan ku.. Bahkan sekarang ia berani membawa pria masuk ke dalam rumah ini... Ck... Di mana Tuan Davin kenapa dia tidak ikut pulang dengan Aelin..." Decak Nyonya Tissa frustasi, karna takut kebenaran nya terbongkar.


Namun sesaat setelah nya, wajah Nyonya Tissa berubah tenang.


"Tunggu dulu kenapa aku harus takut..? Pria itu tidak mungkin tahu jika aku adalah ibu palsu Tuan Davin..."Gumam Nyonya Tissa lagi, lalu berjalan keluar dari kamar nya.


Aelin menggandeng tangan Antonio untuk masuk ke dalam rumah, sementara Antonio melebar kan mata nya penuh isyarat kepada para pelayan yang mengenal nya untuk diam.


"Kamu punya nyali untuk pulang Aelin...!" Sinis suara yang langsung menghentikan langkah Aelin dan Antonio.


Nyonya Tissa memandang kepada kedua orang yang tengah menatap nya.


Di mana tatapan Nyonya Tissa begitu merendah kan dan tidak menyukai Aelin.


Nyonya Tissa menyusuri anak tangga dengan gaya nya yang begitu elegan dan berkelas , di mana di tangan nya ada sebuah kipas kecil yang di kibas kan ke wajah nya.


Antonio terlihat bingung, melihat kehadiran seorang wanita paruh baya di rumah ini.


"Siapa dia..?" Batin Antonio bingung.


Mengapa orang asing ada di dalam rumah Davin.?


Bahkan penampilan perempuan itu terlihat begitu berkelas, namun lebih mirip ondel- ondel jalanan di mata Antonio.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2