
...172...
Aelin terdiam membatu, mendengar penjelasan Davin yang mulai masuk akal di otaknya. Davin terlihat begitu sedih dan kecewa dengan sikapnya yang asal menuduh seperti itu.
Ia tidak bermaksud untuk mencurigai Davin, ia juga tidak bermaksud untuk membuat suasana romantis yang sudah di buat Davin dengan bersusah payah menjadi hancur. Ia hanya sedikit cemas dan takut.
Davin beranjak dari duduknya, dengan wajah tertekuk dalam. Tanpa melihat ke arah Aelin, Davin melenggang pergi dari hadapan Aelin begitu saja.
Hap!
Namun, belum sempat Davin keluar dari aula besar. Ke dua kakinya berhenti melangkah. Dua buah tangan putih melingkar dengan sempurna di dada Davin.
Aelin memeluk Davin dari belakang, menghentikan pria yang sangat dicintainya pergi dengan kecewa. Ini memang salah dirinya karna mencurigai pria yang sudah bersedia menjadi sandarannya.
Davin menghela nafasnya, ia lega karna akhirnya berhasil menyingkirkan kecurigaan Aelin. Davin melepaskan tangan Aelin dan berbalik menghadap Aelin yang kini wajahnya bersimbah air mata.
"Maaf karna aku menuduhmu," cicit Aelin menahan isak tangisnya.
Dalam satu kali tarikan, Aelin masuk ke dalam pelukan Davin. Aelin membalas pelukan Davin tidak kalah erat. Menyalurkan rasa cinta yang semakin besar di dalam hatinya.
Menikmati kehangatan dekapan yang selalu membuat dirinya merasa nyaman dan aman. Begitupula dengan Davin yang begitu menikmati momen ini. Menghirup dalam aroma Aelin yang selalu bisa membuat dirinya mabuk kepayang.
Rasa tidak rela menyeruak ke dalam hati Davin. Rasa tidak ingin melepaskan dan tidak ingin berada jauh begitu menyesakkan dadanya.
*Dia adalah wanita yang menyebabkan aku hampir mati.
Dia adalah wanita yang menyebabkan aku hampir mati.
Dia adalah wanita yang menyebabkan aku hampir mati*.
Perkataan Syaila terngiang-ngiang di telinga Davin. Seperti sebuah mantra yang terus berputar-berputar di kepalanya.
Davin langsung melepaskan pelukannya pada Aelin. Aelin sedikit tersentak dan menatap Davin dengan kening berkerut.
"Tidak, aku tidak boleh jatuh dalam cinta Aelin. Aku harus menahan rasa ini dan menghapusnya. Aku tidak bisa mengkhianati Syaila," batin Davin.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aelin dengan menyentuh kening Davin.
Davin memegang pergelangan tangan Aelin, lalu mencium tangan Aelin dengan mesra.
"Dasar sebuah hubungan adalah kepercayaan. Percuma ada cinta tapi tidak ada kepercayaan," ujar Davin sendu dengan tatapan dalam.
__ADS_1
"Aku janji, aku tidak akan menuduhmu atau curiga lagi. Aku hanya takut kehilanga---"
"Sssttt!" Davin meletakkan jari telunjuknya di bibir Aelin, sehingga ucapan Aelin terpotong.
"Semua akan berjalan sesuai dengan alur yang harus terjadi," imbuh Davin dengan menempelkan keningnya di kening Aelin.
Untuk sebentar saja, biarkan dirinya merasakan dan menikmati momen indah ini bersama wanita yang sangat dicintainya. Sebelum ia melakukan sesuatu yang pasti akan menghancurkan Aelin.
Bukankah hati begitu lucu? Ia menempatkan cinta untuk musuh dihatinya. Dan kini ia harus kembali kepada kenyataan. Jika Aelin hanya mainan balas dendamnya yang harus segera ia hancurkan.
"Kamu adalah wanita yang kucintai Aelin, tapi janjiku lebih penting dari cintaku padamu," batin Davin.
Aelin mendongakkan wajahnya menatap Davin yang terlihat sangat tampan.
"Apa sekarang kita bisa melanjutkan makan malam romantis ini?" tanya Aelin dengan menaik-turunkan alisnya.
"Tentu saja." Davin merangkul bahu Aelin. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Davin menarik kursi untuk Aelin, dengan senang hati Aelin duduk sambil tersenyum lebar.
Davin duduk tepat di depan Aelin, lalu tangannya membuka tudung saji didepan Aelin.
Aelin terbebelak saat melihat makanan yang disajikan didepannya.
"Iya, kamu memasak untukku pertama kali dengan membuat salad sayur. Aku ingin kamu mengingat hari-hari indah itu."
Hati Aelin tersentuh dengan kejutan yang dibuat oleh Davin. Ke dua sudut bibirnya melengkung ke atas menciptakan senyum yang begitu indah.
Tentu saja, ia mengingat saat ia membuat salad sayur untuk Davin, dan Davin begitu menyukainya.
"Dan sekarang aku membuat salad ini dengan tanganku sendiri hanya untukmu," tambah Davin yang semakin membuat Aelin merasa menjadi wanita yang sangat beruntung di muka bumi.
"Kejutan ini benar-benar luar biasa Dav. aku tidak akan pernah melupakannya." Aelin mulai menyendok salad sayur yang dibuat Davin dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Aelin mengunyah dengan perlahan, meresapi rasa salad sayur tersebut. Sedangkan Davin terlihat begitu antusias, ia berharap Aelin menyukai salad buatannya. Meski ia yakin, jika salad buatannya tidak akan seenak buatan wanita cantik di depannya.
"Bagaimana?" tanya Davin dengan penasaran.
"Emmmm, lumayan. Kurang sedikit mayonise," jujur Aelin dengan mengembangkan senyumnya, hingga deretan giginya terlihat.
"Aku tahu karna salad yang paling enak adalah buatan tanganmu." Davin meraih tangan Aelin yang ada di atas meja. Lalu mengelusnya dengan penuh cinta.
"Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya alasanku hidup. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu pergi dariku, mungkin saat itu aku akan mati dan kehilangan arah. Banyak yang sudah diambil takdir dariku. Tapi, takdir masih berbaik dengan menghadirkanmu dalam hidupku," ujar Aelin dengan tulus. Menyatakan perasaannya yang sangat bahagia karna bisa dipertemukan dengan Davin. Meski pertemuan awal mereka adalah sebuah kesalahan yang menyakitkan. Tapi, itu semua hanyalah masa lalu. Sekarang dirinya hidup dimasa kini dan masa depan.
__ADS_1
...----------------...
Syaila mulai melancarkan rencananya. Ia mematut penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya di depan cermin.
Senyum licik menyeringgai dibibirnya. Ia sangat puas dengan penampilan barunya. Ia yakin, jika siapapun tidak akan mengenali dirinya.
Rambut bergelombang yang dibuat sedikit kribo, lalu lensa mata biru yang dikenakan. Bibir yang dipoles dengan lipstik tebal, serta tahi lalat buatan yang sengaja di letakkan di bagian pelipisnya.
"Perpect!" gumam Syaila dengan gaya congkaknya.
"Huhh, sekali lagi aku harus berhadapan dengan wanita itu. Tapi, kali ini aku tidak boleh kalah. Aku harus segera menyingkirkan dia dari sisi Davin." Syaila melangkah menuju lemari dan menyabet tas selempang mahal miliknya.
Sudah saatnya ia kembali ke rumahnya, dan menemui Aelin. Ia tidak akan membiarkan siapapun menempati posisinya. Ia akan menyingkirkan Aelin dengan cara sehalus mungkin dengan menyamar sebagai sepupu Davin.
Darren yang kebetulan berjaga di depan villa langsung bersiaga saat melihat perempuan yang aneh dimatanya. Dengan cepat, Darren membekuk tubuh Syaila yang langsung membuat tubuh Syaila terkunci menyentuh tanah.
"Siapa kamu? Berani sekali kamu masuk ke dalam villa. Dasar wanita jadi-jadian," hardik Darren dengan menekan lengan tangan Syaila.
"Aduh, auu. Lepaskan aku pelayan, berani sekali kamu menyerangku!" pekik Syaila meringgis kesakitan.
Darren terkejut bukan main, saat mendengar suara wanita tersebut yang sangat mirip dengan suara Syaila.
"Lancang sekali kamu menirukan suara nenek lampir, eh maksudku Nyonya Syaila," ujar Darren yang langsung meralat perkataannya yang melimpir.
"Aku ini Syaila, bodoh!" bentak Syaila dengan kesal.
Darren langsung melepaskan Syaila. Ia benar-benar sangat konyol. Sudah dipastikan ia akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Apalagi, sempat-sempatnya dirinya mengatai Syaila nenek lampir.
Tapi ini bukan sepenuhnya salahnya. Siapa suruh istri majikannya itu berpenampilan seperti itu.
"Maaf Nyonya, saya tidak mengenali Nyonya." Darren langsung membungkukkan tubuhnya 90°.
Sedangkan Syaila terlihat sangat marah dengan wajah merah padam, persis seperti banteng yang siap menyeruduk kain merah.
...----------------...
...****************...
Awas Darren nanti kamu kena seruduk. Sini peluk othor aja bang Darren.🤣🤣🤣
Yok jangan lupa like, koment, gift, anda vote ya
__ADS_1