
...171...
Aelin menurunkan kedua tanganya. Mengedarkan pandanganya yang sontak membuat bibirnya terbuka lebar. Saat melihat pemandangan yang begitu indah. Ruangan sebesar ini di sulap dengan dekorasi romantis. Dimana ratusan lampu menyala menampilkan keindahan cahayanya. Lalu ribuan mawar merah menghiasi setiap sisi ruangan tersebut.
Aelin semakin terpana kagum saat tubuhnya berbalik ke belakang. Terlihat lambang love yang terbuat dengan bunga berdiri dengan kuat. Dimana di depan lambang itu terlihat sebuah meja bundar dengan dua buah kursi.
Sungguh sangat indah dan sangat menakjubkan, Aelin seperti merasa berada dalam sebuah dongeng. Sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluk Aelin dari belakang. Hingga membuat Aelin terkejut bukan kepalang.
"Apa kamu suka kejutanku?" bisik Davin tepat di telinga Aelin, sesekali dengan nakal Davin menggigit daun telinga Aelin.
Tubuh Aelin meremang seketika, tapi ia sangat senang dengan kejutan yang disiapkan oleh Davin.
"Makan malam romantis," cicit Aelin dengan mengulum senyum bahagia.
Davin membalikkan tubuh Aelin, sehingga kini mereka saling menatap satu sama lain. Tenggelam dalam perasaan masing-masing yang coba di utarakan lewat tatapan mata. Menembus batas terjauh dalam cinta dan kepercayaan.
Aelin menyelami ke dua mata hitam pekat milik Davin. Mencoba mencari sesuatu yang membuat hatinya curiga. Tapi hal itu di patahkan dengan sikap Davin yang begitu romantis.
"Rasanya begitu tidak mungkin, jika Davin memiliki wanita lain. Dia begitu romantis bahkan menyiapkan semua ini untukku. Rasanya aku sudah salah mencurigai suamiku sendiri," batin Aelin.
"Ada apa? Kamu menatapku setiap hari. Aku tahu aku tampan," goda Davin dengan seringgainya.
Aelin terkekeh kecil, melihat kepercayaan diri Davin yang tinggi. Tapi, memang pria yang kini di hadapannya adalah pria tertampan dalam hidupnya.
"Ini sangat indah," hembus Aelin dengan mengedarkan pandangannya. Rasanya ia tidak ingin melewatkan sedetikpun tanpa menikmati suasana dan pemandangan yang sangat mengagumkan.
"Hal yang indah untuk wanita yang istimewa." Davin mengecup dalam kening Aelin, membuat Aelin memejamkan kedua matanya untuk sejenak.
"Seberapa istimewa?" tanya Aelin dengan nada lirih.
Davin menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Aelin. Ada kecurigaan yang dirinya lihat di wajah cantik tanpa make-up di depannya.
"Sangat istimewa, bahkan lebih istimewa dari seluruh harta yang aku miliki."
"Apa kamu mencintaiku?"
"Tentu."
"Sebesar apa?"
"Aku tidak bisa mengukurnya."
"Lalu, kenapa kamu meninggalkan aku di hotel?"
Wajah Davin seketika menjadi sedikit tegang, saat bibir mungil Aelin melontarkan pertanyaan yang membuat darahnya terasa membeku.
__ADS_1
Lidahnya terasa kelu, ia lupa jika ia meninggalkan Aelin begitu saja dan pulang menemui Syaila. Bagaimana mungkin ia melakukan hal itu. Bahkan ia tidak ingat sampai detik ini.
"Jawab!" sentak Aelin sedikit memaksa.
Davin mengontrol mimik wajahnya, memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat.
"A-- Aku, A-- aku tidak sengaja meninggalkanmu, karna ada urusan dengan mama," jawab Davin dengan terbata-bata. Ia berharap Aelin percaya dengan alasan yang ia berikan.
Deg!
Urusan dengan mama? Tapi, Maya mengatakan jika Davin ada urusan bisnis. Mengapa ada dua jawaban yang berbeda. Mana yang benar?
"Urusan dengan mama?" Ulang Aelin dengan nada menyelidik.
Davin mengusap tengkuknya, terlihat keningnya berkerut dalam seolah memikirkan sesuatu.
"Iya, kesehatan mama tiba-tiba menurun. Darren menghubungiku, aku sangat panik sehingga aku meninggalkanmu. Tapi percayalah aku sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Mungkin karna khawatir jadi aku pergi begitu saja," ucap Davin menyakinkan Aelin.
Aelin menatap lekat Davin, ia ingin percaya dengan apa yang dikatakan oleh Davin. Tapi rasanya apa yang dikatakan oleh Davin tidaklah benar.
Nyonya Tissa selalu berada di rumah, tidak mungkin jika Maya tidak tahu tentang kondisi mertuanya yang menurun. Bahkan seluruh pelayanpun tidak membicarakan hal itu. Yah, meski Aelin tahu jika saat ini Nyonya Tissa tidak ada di rumah. Akan tetapi, tetap saja semuanya terasa janggal.
Untuk apa Maya membohongi dirinya? dengan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Apa untungnya bagi Maya?
*Davin memiliki wanita lain.
Davin memiliki wanita lain.
Davin memiliki wanita lain*.
Perkataan Lia terus terngiang-ngiang di kepala Aelin. Seperti mantra yang terus menanamkan rasa curiga yang semakin tumbuh di hati Aelin.
"Sayang!" panggil Davin, tapi Aelin masih diam membisu sambil menatapnya dalam.
"Apa Aelin mengetahui sesuatu? Kenapa dia menatapku seperti itu?" batin Davin yang sedikit mulai merasa takut.
"Aelin!!" panggil Davin kini dengan memggoyangkan bahu Aelin.
"Hah?" Aelin langsung tersentak, bersamaan dengan pemikirannya yang hancur berkeping-keping.
"Aku benar-benar minta maaf, tapi percayalah aku tidak akan melakukan hal itu lagi." Davin merangkul pundak Aelin dan menggiring wanitanya untuk duduk di meja makan.
Sementara Aelin terus saja memperhatikan wajah Davin.
"Kenapa kamu berbohong padaku Dav," batin Aelin sembari meremas tangannya sendiri.
__ADS_1
Davin menarik kursi dan menekan bahu Aelin untuk duduk. Aelin hanya diam menerima perlakuan Davin yang begitu manis. Tapi, di pikirannya saat ini pertanyaan yang sama masih membuatnya curiga jika Davin memang memiliki wanita lain.
Hanya memikirkannya saja, membuat hati Aelin terasa hancur berkeping-keping. Haruskah ia mengalami hal yang begitu menyakitkan?
Tanpa Aelin sadari dan inginkan, air matanya luruh begitu saja. Hal itu membuat Davin sedikit cemas dan khawatir.
"Ae, kenapa menangis? Kamu tidak perlu terharu sampai menangis seperti itu." kekeh Davin sambil menyeka air mata Aelin.
"Aku tidak menangis karna terharu. Aku menangis karna kamu membohongiku."
Deg!
Tubuh Davin rasanya di tanam di tempat. Gelenyar kegugupan dan ketakutan menghantam dirinya dengan ganas. Keringat dingin mulai terbentuk di pelipis wajahnya.
Apa Aelin tahu kebenarannya? Sehingga Aelin mengatakan dirinya berbohong.
"Jawabanmu, sama sekali tidak sama dengan jawaban Maya. Maya mengatakan jika kamu pulang karna mengurus bisnismu yang hampir dijatuhkan oleh musuhmu. Dia mendengar hal itu. Tapi, kamu mengatakan jika kamu pulang karna kesehatan mama yang menurun. Kenapa kamu bohong padaku?" sentak Aelin yang langsung berdiri dari duduknya.
"Aku tidak berbohong Ae. Apa yang dikatakan Maya juga benar. Setelah mengurus masalah kesehatan Mama aku juga mengurus perusahaan," timpal Davin dengan memasang wajah menyakinkan.
"Aku minta maaf jika aku meninggalkanmu, maka dari itu aku membuat ini semua untuk permintaan maafku. Tapi, apa yang aku dapatkan? Kamu malah mencurigaiku Ae." Lanjut Davin mendramatisir. Seolah-olah di sini dirinyalah yang menjadi korban.
Aelin terdiam membatu, mendengar penjelasan Davin yang mulai masuk akal di otaknya. Davin terlihat begitu sedih dan kecewa dengan sikapnya yang asal menuduh seperti itu.
Ia tidak bermaksud untuk mencurigai Davin, ia juga tidak bermaksud untuk membuat suasana romantis yang sudah di buat Davin dengan bersusah payah menjadi hancur. Ia hanya sedikit cemas dan takut.
Davin beranjak dari duduknya, dengan wajah tertekuk dalam. Tanpa melihat ke arah Aelin, Davin melenggang pergi dari hadapan Aelin begitu saja.
Hap!
Namun, belum sempat Davin keluar dari aula besar. Ke dua kakinya berhenti melangkah.
...----------------...
...****************...
jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1