
...91...
Aelin menekan kontak Davin, dan mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.
Berharap jika panggilan telpon dari nya bisa tersambung, dan ia bisa mendengar suara Davin.
Suara yang sebelum nya sangat ia benci saat mendengar nya, namun kini ia sangat menanti kan untuk mendengar suara bariton khas Davin.
Tut...
Tut...
Tut...
Hanya suara sambungan telpon yang terdengar, namun tak ada tanda jika panggilan nya terjawab.
Aelin semakin kalut , dengan nafas panik yang semakin memburu.
Kepanikan nya semakin menjadi- jadi saat Davin tidak mengangkat panggilan telpon nya.
Rasa nya serpihan dunia nya yang masih tersisa hancur tanpa sisa.
Semua orang yang ada di sekeliling nya satu persatu pergi meninggal kan diri nya.
Aelin menggeleng kepala nya dengan cepat.
Ia tidak boleh berpikiran negatif, ia harus berpikiran positif.
Menangis dan terus menangis tidak akan membuat masalah ini selesai.
Aelin menarik nafas nya dalam, mengontrol ketakutan, kesedihan, dan gelisah yang saat ini bercampur menjadi satu, menekan dada nya yang terasa begitu terhimpit dan hampir remuk.
Aelin kembali menekan nomer kontak Davin.
Tut...
Tut...
Tut..
Lagi- lagi yang terdengar hanya lah nada sambung, tanpa ada tanda- tanda jawaban.
Aelin memutar otak kecil nya untuk berpikir, berpikir bagaimana bisa ia menghubungi Davin dan mengetahui kondisi Davin saat ini.
Berpikir jika Davin baik- baik saja, meski di sisi lain nya, hati nya terus membisik kan jika kondisi Davin tidak mungkin baik- baik saja. Melihat kondisi mobil yang di kendarai pria itu hampir hancur.
"Apa yang harus aku lakukan? Om Davin tidak mengangkat telpon ku.." Desah Aelin semakin frustasi, merasa semua nya buntu.
Namun sedetik kemudian ia mengingat wajah Darren.
Ya, Darren. Ia bisa menghubungi Darren. Pasti pria yang notabene nya adalah asisten Davin pasti berada di dekat Davin.
Aelin sangat yakin itu, karna ia tahu Darren dan Davin seperti sebuah prangko yang tak terpisah kan jika berurusan dengan urusan pekerjaan.
Dan opini Aelin semakin di kuat kan, ketika Aelin memgingat jika Davin pergi untuk mengurus masalah pekerjaan. Hingga meninggal kan diri nya di pemakaman.
__ADS_1
Tapi wajah Aelin langsung tertekuk dalam, saat mengingat jika ia pun tidak memiliki nomer kontak asisten suami nya itu.
Aelin mengedar kan pandangan nya ke arah semua pelayan yang masih mematung karna terkejut dengan berita yang baru saja di putar.
Netra Aelin berhenti pada Maya, yang juga tak kalah syok melihat berita di televisi.
"Maya...!" Aelin menepuk bahu Maya pelan, membuat Maya langsung tersentak kaget.
"Hah?"
"Maya apa kau punya nomer ponsel Darren?" Tanya Aelin dengan panik dan menggebu- gebu.
Sementara situasi di dalam dapur mewah tersebut, terasa begitu mencekam dengan keterkejutan dan ketakutan semua orang.
Maya yang masih dalam mode syok nya dan tak bisa berpikir dengan jernih, langsung mengangguk dengan cepat. Di mana tangan nya langsung merogoh saku seragam nya lalu memberikan benda pipih tersebut pada Aelin.
Tanpa ingin berlama- lama, Aelin langsung meraih ponsel Maya dan mencari kontak Darren.
Binar harapan terlihat di ke dua manik mata indah Aelin, saat melihat nama kontak Darren.
Ia sangat bersyukur, setidak nya ia bisa menghubungi Darren, yang di yakini hati nya pasti pria itu berada dekat dengan Davin.
Aelin langsung menekan nomer Darren, dalam satu kali sambungan, panggilan Aelin terjawab.
"Hallo Maya, maaf aku tidak bisa menerima telpon sekarang.. Karna aku harus membawa Tuan Davin menuju rumah sakit..." Seru Darren dengan suara panik , saat menjawab telpon Maya.
Jantung Aelin terasa di hujam oleh belati tajam, saat mendengar apa yang di kata kan Darren.
Ternyata Davin sedang di bawa ke rumah sakit.
Dada nya benar- benar terasa sesak dan sakit.
"Hiks... Hiks...." Tangis Aelin seketika pecah, tanpa diri nya ingin kan.
Bahkan kabar ini lebih menyakiti diri nya, dari pada saat kehormatan nya di ambil paksa.
Rasa nya malaikat maut sedang menarik paksa nyawa nya untuk terlepas dari raga nya.
Darren langsung terdiam, di mana ke dua mata nya melebar.
Ketika mendengar isakan tangis dari seberang telpon, yang tidak mungkin jika itu adalah Maya.
Darren tahu jika pemilik suara itu adalah Aelin. Dapat Darren dengar tangis pilu penuh derita yang bahkan mampu mencubit ulu hati nya.
"Nona Aelin..!" Lirih Darren , di mana tatapan nya masih fokus pada jalanan. Sementara di belakang ada Dokter Nashila dan Frans yang menangani Davin, yang belum sadar kan diri sejak terakhir kali nya dia kehilangan kesadaran.
Glek..
Aelin menelan saliva nya paksa, berusaha mengontrol tangis nya yang benar- benar tidak bisa berhenti sejak tadi.
"Da... Da... Darren, kau membawa Om Davin ke rumah sakit mana...?" Tanya Aelin dengan terbata- bata, di mana suara nya terdengar di paksa kan di sela- sela tangis nya.
"Nona.. Jangan Khawatir.. Tetap lah di rumah.." Jawab Darren, dengan memberikan pesan pada Aelin.
"Kamu pikir aku bisa tenang mendengar kabar suami ku sekarang hah?.. Cepat kata kan Darren jika tidak aku sendiri yang akan mencari keberadaan suami ku..!" Bentak Aelin marah, bahkan berteriak pada Darren.
__ADS_1
Darren menghela nafas nya, ternyata Aelin begitu peduli dengan keadaan tuan nya. Bahkan Aelin tidak berhenti menangis sejak panggilan telpon ini berlangsung.
"Kata kan Darren..!" Sentak Aelin Lagi, dengan nada perintah dan menekan. Ia sudah tidak sabar untuk segera menyusul Davin.
Ia sangat kesal dengan sikap Darren yang mencoba menyembunyi kan informasi Davin.
Darren menghembus kan nafas nya pelan, mendengar bentakan Aelin yang mirip seperti kucing galak.
"Tuan akan di bawa ke rumah sakit Zilion Nona..."
"Baik lah.. Aku akan segera ke sana..."
Tut..
Aelin memutus kan panggilan telpon nya, lalu memberi kan ponsel tersebut kepada Maya.
"Ma.. Aku akan pergi ke rumah sakit.. Jangan khawatir aku akan mengurus putra mu.." Ujar Aelin menghibur Nyonya Tissa, lalu memeluk tubuh Nyonya Tissa yang hanya diam mematung.
Aelin sangat mengerti perasaan sang mertua yang pasti nya sangat syok mendengar jika putra nya mengalami kecelakaan.
Mendengar orang yang di sayangi mengalami musibah, adalah kabar terburuk yang pasti nya akan menghancur kan hati siapa pun.
Tanpa Aelin tahu jika ketakutan dan diam nya Nyonya Tissa bukan lah sebuah kekhawatiran untuk Davin, melain kan untuk hidup nya yang masih ingin merasa kan kemewahan sebagai nyonya Arselion.
"Maya.. Jaga mama dengan baik.. Aku pergi..." Seru Aelin dengan terburu- buru. Rasa nya ia ingin segera sampai di rumah sakit.
"Nona berhenti...!" Sergap Maya, yang langsung menghenti kan langkah Aelin.
Aelin memutar tubuh nya dengan cepat ke arah Maya.
"Apa lagi? aku tidak punya waktu.. Om Davin pasti sangat membutuh kan aku..!" Sebal Aelin yang harus berhenti karna panggilan Maya.
"Kaki anda berdarah Nona...!" Ucap Maya dengan wajah ngeri, melihat kaki Aelin yang berdarah karna menginjak beling piring.
Pasti sangat sakit.
...----------------...
...****************...
Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1