Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Tekad..


__ADS_3

...24 😇...


Nyonya Tissa terus memandangi dengan lekat, Aelin yang terus menyumpal mulut nya dengan makanan.


Gadis kecil yang terlihat begitu manis dan lugu di hadapan nya, akan menjadi korban sasaran akan kemarahan dan kebencian diri nya.


Meski hanya sandiwara, tapi ia tetap harus memeran kan nya dengan baik.


Ia tidak ingin Davin sampai kecewa dengan akting yang ia lakukan.


Meski pria kaya itu tidak memberitahu alasan mengapa ia harus menyiksa gadis kecil di hadapan nya.


"Apa latar belakang keluarga mu?" Celetuk Nyonya Tissa dengan nada mengintrogasi.


"Uhuk.. Uhuk.." Aelin sedikit tersedak karna terkejut dengan pertanyaan Nyonya Tissa yang tiba- tiba.


Meski hanya untuk makan saja, ia tidak bisa di biar kan tenang sedikit pun. Pikir Aelin dengan mengusap bibir nya, di mana sisa makanan mencuat karna terbatuk.


Nyonya Tissa menatap jijik pada Aelin, bagaimana tidak, sebagian makanan dari dalam mulut gadis itu muncrat ke luar dari mulut nya.


"Papy ku bernama Arkelin Dirwantar, pemegang cabang perusahaan GC Group di bidang kilang minyak..." Jawab Aelin dengan santai.


Nyonya Tissa mendelik, mendengar jika ayah gadis ini hanya lah bawahan dari Davin.


"Hanya putri dari seorang babu putra ku..." Hina Nyonya Tissa tentu saja dengan tatapan mengejek nya yang tidak pernah hilang dari wajah nya.


Hati Aelin rasa nya di remas kuat, mendengar kalimat sederhana namun sangat menyakit kan.


Kata- kata sang mertua seperti tombak tajam yang menghujam dalam hingga menembus tubuh nya.


Ia baru tinggal di rumah besar ini selama beberapa jam saja, tapi ia sudah di sajikan dengan hinaan untuk ayah nya.


Ia masih bisa menerima jika wanita paruh baya ini, menghina diri nya. Tapi tidak untuk ayah nya.


Orang yang sudah menjadi pendamping hidup nya sejak terlahir di dunia ini, bahkan sudah seperti semesta nya, kini di hina di hadapan nya.


Hati siapa yang tak teriris pilu.


Sudut bibir Nyonya Tissa terangkat, melihat tangan Aelin yang terkepal erat di atas meja.


Dapat ia rasakan aura marah dan tidak terima yang sedang keluar dari tubuh Aelin.


Dengan perkataan kejam nya, ia berhasil mengenai titik terlemah Aelin.


Ia sudah sangat siap jika gadis di depan nya akan mencecar diri nya dengan hinaan yang tak kalah kejam.


Pasti akan sangat seru jika mereka berkelahi dan saling menghina.


Satu detik...

__ADS_1


Dua detik...


Tiga detik...


Aelin memejam kan mata nya, menghembus kan nafas nya.


Mendingin kan kepala nya yang sudah terbakar oleh api amarah, menepis semua kekesalan dalam diri nya.


Mengontrol emosi yang ingin meledak dan menelan semua kemarahan nya hingga padam begitu saja.


Nyonya Tissa mengerjit saat tangan Aelin berhenti mengepal, bersamaan dengan wajah gadis itu yang berubah tenang.


Aelin menatap Nyonya Tissa yang sedikit kecewa, karna tidak berhasil membuat Aelin marah.


Aelin bisa saja adu mulut dengan ibu mertua nya. Tapi tidak, bagaimana pun wanita paruh baya di hadapan nya itu kini sudah resmi menjadi mertua nya.


Mertua wanita sama saja dengan ibu. Jika ia melawan maka sama saja ia mengecewakan sang ibu yang tengah menatap nya dari surga.


"Mama mertua,,, Memang kenapa jika aku adalah putri karyawan putra mu.? Tapi kita sudah menikah dan sekarang aku adalah istri nya... Dalam pernikahan latar belakang tidak terlalu penting, lagi pula aku menikah karna anak mama mertua yang memaksa..." Sindir halus Aelin namun dengan tatapan lembut.


Nyonya Tissa lagi- lagi bungkam dengan perkataan Aelin yang begitu halus namun tak terbantah kan.


Kini ia menyadari jika gadis di hadapan nya bukan lah gadis lugu yang mudah untuk di tindas.


Bahkan dengan cepat ia bisa mengontrol emosi nya, meski ia memancing Aelin untuk marah dengan menghina ayah nya, orang yang sangat berarti bagi seorang putri.


Ardenalin Nyonya Tissa semakin tertantang untuk menaklukan musuh nya.


Aelin meraih tissu yang tak jauh dari hadapan nya, mengusap bibir nya dengan begitu anggun.


Lalu melirik kembali pada Nyonya Tissa yang menatap diri nya penuh dengan kebencian.


"Baik lah mama mertua.. Aku sudah sangat kenyang sekarang, apa lagi di tambah dengan petuah dari mu yang terdengar begitu syahdu. Aku pasti tidak akan melewat kan makan bersama mu untuk seterus nya... Baik lah Maya mari kita kembali ke kamar..." Lanjut Aelin lagi , dengan beranjak dari kursi lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Menyisa kan Nyonya Tissa yang menatap kepergian diri nya.


Aelin menghembus kan nafas lega, tenaga nya terasa terkuras habis untuk menghadapi sang ibu mertua yang begitu sangat membenci nya.


Bermimpi memiliki ibu mertua yang menyayangi nya bak ibu kandung nya, kini hal itu terlihat mustahil.


Setidak nya malam ini perut nya terisi dengan baik, mulai sekarang ia harus bisa menghadapi semua nya.


Menghadapi kebencian ibu mertua nya dan menghadapi kelicikan Davin.


Ia tidak ingin lagi di anggap lemah, kejadian malam kelam itu sudah merubah diri nya menjadi lebih kuat.


Ia tidak ingin menjadi wanita lemah yang akan terus di tindas dan di leceh kan.


Lihat saja, ia akan membukti kan jika ia akan terbebas dari belengu seorang Davin Arselion dengan cara terhormat.

__ADS_1


"Dia yang mengikat ku, maka dia yang juga akan melepas kan ku..." Lirih Aelin.


"Apa nona mengatakan sesuatu?" Sosor Maya yang berjalan di belakang Aelin.


Telinga tajam nya, sedikit mendengar ucapan lemah Aelin, namun hanya samar- samar.


"Tidak... Aku tidak mengatakan apa pun... Oh iya Maya, kamu bekerja di rumah ini berapa lama?" Tanya Aelin merubah topik pembicaraan nya.


Di rumah yang sangat besar seperti kastil ini, ia hanya mengenal Maya dan juga berbicara pada nya.


Mungkin ia melihat begitu banyak pelayan di rumah ini. Tapi satu pun tidak ada yang mengajak nya berbicara.


Penghuni rumah ini seperti tidak menganggap nya ada.


Bahkan diri nya sempat berpikir , apa diri nya bisa bertahan di neraka mewah ini.?


Rasa nya ia ingin melari kan diri, dan memulai hidup nya sendiri.


Tapi, ia tidak mungkin melakukan hal itu , karna kini diri nya sudah memegang status sebagai istri.


Ia tidak ingin menjadi istri yang tidak patuh pada suami, meski ia menikah dengan cara seperti itu.


Tapi setidak nya ia harus menjadi istri yang baik.


Dendam dan benci tentu saja masih ada, namun ia bukan pengecut yang lari dari masalah.


Perlahan tapi pasti, ia akan membebas kan diri nya dari belengu Davin.


...----------------...


...****************...


Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2