Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Aku hanya memiliki dia !


__ADS_3

...94🍁...


Mobil mewah yang di kendarai Aelin akhir nya memasuki gerbang rumah sakit Zillion.


Aelin menelan ludah nya paksa , saat netra nya menangkap bangunan bernuansa putih di mana di bangunan yang sama ia harus kehilangan sosok ayah yang sangat penting dalam hidup nya.


Hidup nya seolah terkait dengan tempat yang bernama rumah sakit, belum genap dua puluh empat jam setelah kepulangan nya dari rumah sakit. Ia lagi- lagi harus masuk ke dalam rumah sakit, meski berbeda namun tetap saja bangunan ini adalah bangunan yang menampung orang sakit.


Sementara di dalam rumah sakit, Darren tengah memijat pelipis nya ringan.


Ia berharap semoga kondisi majikan nya semakin membaik.


Jujur ia merasa khawatir apa lagi ketika Dokter Nashila mengata kan jika kondisi Davin cukup parah.


Ia sudah bekerja bertahun- tahun dengan Davin, meski terbilang lebih muda namun sungguh ia cukup dekat dengan majikan nya.


Bagi nya hidup Davin harus ia lindungi, sama seperti ayah nya dahulu yang juga melindungi mendiang ayah nya Davin.


Darren melirik sekilas ke arah ruang IGD yang kini di dalam nya terdapat Davin yang sedang di tangani oleh dokter Nashila dan juga Frans.


Lalu menghembus kan nafas nya secara teratur, lalu menatap ke arah pergelangan tangan nya di mana sebuah arloji melingkar dengan sempurna.


"Darren bagaimana keadaan om Davin..?" Suara lembut yang terdengar begitu panik dan cemas, membuat Darren mengangkat wajah nya.


Di mana di hadapan nya Aelin sudah berdiri dengan wajah sembab, dengan ke dua mata yang membengkak dan memerah.


Dapat Darren tebak jika Aelin baru saja habis menangis, bahkan sisa air mata pun masih ada di sudut ke dua mata indah wanita di depan nya.


"Nona.. Anda di sini.." Lirih Darren sedikit terkejut namun tidak terlalu juga, karna ia tahu jika Aelin sudah mengata kan jika dia akan ke sini, namun diri nya sebelum nya tidak menganggap semua itu serius.


"Bagaimana kondisi om Davin?" Tanya Aelin lagi dengan menggebu- gebu. Ia sangat penasaran di mana suami nya dan bagaimana kondisi nya.


Ia tidak bisa menahan diri nya lagi, ia tidak mau mendapat kabar buruk. Sungguh ia belum siap.


Hati nya terasa begitu sakit, seolah derita Davin dapat ia rasa kan.


"Tuan sedang di tangani..." Jawab Darren sambil melirik ke arah pintu IGD.

__ADS_1


Aelin langsung berlari mendekat ke arah pintu IGD.


Wajah nya mengintip ke dalam, lewat kaca kecil yang tertutup gorden.


Yang terlihat hanya sebuah bayangan dan sinar lampu, ia sama sekali tidak bisa melihat kondisi Davin.


Lagi- lagi air mata Aelin luruh seketika. Rasa nya tubuh nya benar- benar tidak kuat lagi untuk menahan cobaan yang datang silih berganti tanpa henti.


"Tuhan.. kenapa semua orang yang berada di dekat ku selalu saja terluka... Pertama momy meninggal kan aku.. Hiks.. Lalu papy juga pergi tanpa pamit.. Hiks.. Dan sekarang om Davin juga mengalami kecelakaan.. Kenapa tidak kau ambil saja aku tuhan.. Hiks.. Hiks.. Jangan menghukum ku lagi.. Selamat kan om Davin karna hanya dia yang ku punya.. Aku janji aku akan menjadi istri yang baik.. Aku akan memaaf kan semua yang terjadi pada masa lalu.. Aku janji aku akan menjadi wanita yang baik.. Hiks.. Hiks..." Gumam Aelin berdoa dengan kesungguhan hati, di mana ia menukar keselamatan Davin dengan janji yang diri nya ikrar kan.


Darren yang mendengar samar- samar perkataan Aelin cukup membatu di tempat.


Aelin ingin menjadi istri yang baik, tanpa ia tahu jika sebenar nya diri nya adalah mainan balas dendam tuan nya.


Bisa kah ia merasa iba dengan takdir Aelin?


Bahkan hati nya tak menyangkal jika ia turut berduka dengan kehidupan Aelin yang berantakan.


Dan tentu saja diri nya tahu jika itu perbuatan majikan nya sendiri.


Ia tidak bisa membayang kan bagaimana hancur nya Aelin saat semua kebenaran terbongkar.


Pasti hal itu akan membuat hidup Aelin hancur tak bersisa.


Darren menepuk bahu Aelin, yang masih setia berdiri di depan pintu IGD.


"Nona...!"


Aelin mengusap air mata nya pelan, air mata yang terus saja berjatuhan tanpa henti sejak beberapa hari belakangan ini.


Lalu memutar tubuh nya menghadap ke arah Darren yang hanya menatap nya datar.


"Iya..." Jawab Aelin dengan sesenggukan. Ia terlalu lemah untuk tampil sebagai wanita tegar, namun rasa nya pertahan nya sudah runtuh dan tidak bisa di bangun kembali.


"Nona duduk lah dulu.. Tenang kan diri anda.. Tuan Davin pasti akan baik- baik saja..." Ujar Darren menenang kan Aelin, dan menggiring tubuh Aelin untuk duduk di kursi tunggu.


Namun netra Darren melebar saat melihat kaki Aelin yang penuh dengan darah.

__ADS_1


"Nona kaki mu berdarah...!" Seru Darren bahkan kini Darren berjongkok dan menyentuh kaki Aelin.


"Tidak apa- apa Darren.. Itu hanya luka kecil.. " Aelin langsung menunduk kan bokong nya dan menjauh kan kaki nya dari Darren.


Tidak penting dengan apa yang terjadi pada kaki nya. Bagi nya saat ini yang paling penting adalah kondisi Davin. Di mana Aelin terus berdoa dengan segenap hati nya untuk keselamatan Davin.


"Nona.. Tapi seperti nya luka anda cukup parah.. " Darren kembali bersuara. karna ia tahu jika luka di telapak kaki Aelin cukup dalam.


Meski pikiran nya bertanya- tanya mengapa bisa Aelin sampai terluka seperti ini?


"Jangan pikir kan aku.. Kata kan bagaimana om Davin bisa kecelakaan.. Yang aku tahu dia pergi untuk urusan pekerjaan..?" Aelin mengalih kan pembicaraan , mencoba mengalih kan perhatian Darren dari kaki nya yang terluka.


Darren menghela nafas panjang, saat mendengar pertanyaan Aelin.


Bahkan dengan polos nya Aelin mengira jika Davin pergi karna urusan pekerjaan.


Nyata nya semua nya tidak benar. Davin pergi untuk menemui istri pertama nya.


"Iya. Semua nya terjadi begitu cepat nona.. Aku tidak berada di dalam mobil yang sama dengan tuan Davin... jadi aku tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenar nya... Tapi aku lihat Nona sangat mengkhawatir kan tuan. Bukan kah anda sangat membenci tuan?" Darren melempar kan pertanyaan yang cukup sensitive karna ia merasa sikap Aelin semakin berubah terhadap majikan nya.


"Tentu saja aku sangat khawatir,, suami ku mengalami kecelakaan bahkan nyawa nya di pertaruh kan.. Aku tidak punya siapa- siapa lagi di dunia ini.. Aku hanya punya dia dalam hidup ku.. Meski awal nya kita menikah karna sebuah keterpaksaan.. Tapi aku tidak mengingin kan hal buruk terjadi pada nya.." Jawab Aelin dengan ke dua mata berkaca- kaca.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2