Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Ngidam 2


__ADS_3

...188...


Darren tengah duduk di ruang tv sembari tatapannya fokus pada layar persegi di depannya.


Wajahnya terlihat sembab, dimana air mata luruh begitu saja dari sudut matanya.


Saat ini, Darren sedang menonton drama korea yang benar-benar menguras emosi. Tentang seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita, tapi cinta itu bertepuk sebelah tangan. Sangat miris dan begitu tragis.


Darren memasukkan popcorn ke dalam mulutnya dan mengunyah cemilan itu dengan berurai air mata.


"Semoga kisah cintaku, tidak semenyedihkan film ini," gumam Darren bermonolog dengan dirinya sendiri.


Drrrttt!


Drrrttt!


Suara getaran ponsel langsung mengalihkan fokus Darren. Wajah Darren terlihat kesal, sedetik saja ia tidak pernah bisa bersantai dan menikmati aktivitasnya. Selalu saja ada yang mengganggu.


Darren segera meraih ponselnya yang terus saja bergetar tanpa henti. Dan sudah bisa ia tebak, jika penganggu dalam hidupnya tidak lain dan tidak bukan adalah Davin.


"Ck, pria ini selalu saja mengganggu waktu istirahatku. Apa sedetik saja dia tidak bisa tidak mengangguku?" gerutu Darren sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Hallo, ada apa?" ketus Darren.


"Aku ingin kamu menyewa koki terbaik di kota ini, dan minta dia untuk membuat Pizza dengan toping emas,"


"Hah?" Darren langsung melompat dari sofa, mendengar perintah Davin yang sangat aneh.


"Kamu tidak salah dengar, Aelin menginginkan makanan itu dan aku ingin kamu segera membawa makanan itu secepatnya. Jika tidak, kepalamu akan terpajang menjadi hiasan rumahku," ancam Davin dengan kalimat tegas.


"Kamu pikir, aku ini penyihir yang bisa mengabulkan keinginanmu secepat itu? Makanan macam apa itu?"


"Aku tidak mau tahu, Aku menunggumu. Dala satu jam kamu sudah harus sampai di rumahku dengan membawa makanan itu," ujar Davin mutlak, lalu memutus sambungan telpon.


Darren merebahkan tubuhnya yang sudah lemas di sofa. Kepalanya langsung terasa di tindih batu yang sangat berat karena perintah Davin yang begitu tidak masuk akal.


Dimana ia bisa menemukan koki terbaik di kota ini malam-malam begini. Darren mematikan tv dan segera meraih kunci mobilnya.


Sementara itu, Aelin terlihat begitu antusias saat Davin selesai menelpon.


"Bagaimana? Apa makananku akan datang?" cecar Aelin yang terlihat tidak sabaran.


"Tentu saja, makanan yang kamu inginkan akan datang satu jam lagi. Aku suda menyuruh Darren untuk mencari makanan itu. Apa sekarang kamu bahagia?" Davin mengecup dalam kening Aelin. Melihat Aelin yang begitu senang, membuat dirinya juga merasakan hal yang sama.


Ternyata bahagia itu sangat sederhana. Cukup hanya melihat orang yang kau sayangi bahagia, maka kau juga akan merasa bahagia.

__ADS_1


"Tentu saja," balas Aelin dengan senyum lebar.


.


Setelah menunggu selama satu jam, Aelin terlihat begitu gelisah karena makanan yang ia pesan tidak kunjung datang.


"Kapan Darren akan datang?" tanya Aelin dengan suara merenggek, seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.


"Aku yakin, dia akan segera datang sayang. Tunggulah sebentar lagi," ujar Davin menenangkan Aelin yang sudah uring-uringan. Ia mengelus lembut lengan Aelin, dimana kini posisi Aelin menyender di dadanya.


Tok


Tok


Tok


"Sepertinya Darren sudah datang, aku akan membuka pintu." Davin memindahkan tubuh Aelin, lalu segera berlari ke arah pintu dan membukanya dengan cepat.


Terlihat tampilan acak-acakan Darren dengan tubuh basah kuyup karena terkena air hujan. Cuaca di luar memang sedang buruk, hujan tiba-tiba turun tanpa di duga. Sehingga Darren yang sedang mencari koki terbaik harus terkena hujan saat turun dari mobil tanpa menggunakan payung.


"Kenapa kau lama sekali?" sinis Davin menatap Darren tanpa rasa iba.


Darren menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang kini rasanya ingin meledak sekarang juga. Bukannya ucapan terimakasih yang ia dapatkan, malah ucapan sinis dari mulut berbisa Davin. Seandainya Davin bukan bosnya, sudah di pastikan tubuh pria itu sudah ia kirim keluar dari planet bumi.


Davin segera meraih satu paket Pizza tersebut dari tangan Davin.


"Karena kamu datang terlambat, jadi gajimu ku potong sesuai dengan jumlah waktu keterlambatanmu," ucap Davin mutlak tanpa ada penolakan.


Brak!


Davin menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah Darren, yang langsung melompat kaget.


"Untung, jantungku masih kuat." Darren segera pergi dari sana, sebelum Davin kembali memerintah dan membuat dirinya gelagapan.


Untung masih gajinya yang di potong, bukan kepalanya yang sangat berharga ini.


Aelin bertepuk tangan karena saking senangnya. Akhirnya makanan yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.


"Dav, cepatlah aku ingin makan Pizza!" seru Aelin.


"Sabar Ae, kamu seperti orang yang tidak pernah makan selama satu tahun," cibir Davin dengan tertawa ringan. Namun, Aelin tidak menggubris perkataan Davin. Saat ini, ia hanya ingin memakan Pizza tersebut.


Davin meletakkan satu paket Pizza tersebut di depan Aelin. Tidak ingin menunggu lagi, Aelin langsung membuka kotak Pizza tersebut. Ke dua matanya langsung melebar melihat Pizza dengan toping emas kini berada di depan matanya.


Aelin segera mengambil potongan Pizza dan mulai memakannya dengan lahap. Davin merasa senang melihat Aelin yang akhirnya makan, meski harus melewati drama yang cukup panjang.

__ADS_1


"Emmm ini luar biasa. Ini sangat lezat," ucap Aelin terus memgunyah potongan Pizza yang benar-benar menggoyang lidahnya.


Glek!


Davin menatap Aelin yang begitu menikmati Pizza itu. Ia menelan ludahnya bulat-bulat karena sebenarnya ia juga ingin mencicipi makanan itu. Bahkan sekarang perutnya menjadi sangat lapar.


"Ae, bolehkah aku minta satu potong?" cicit Davin sembari hendak meraih satu potong Pizza.


Plak!


Namun, belum sempat tangan Davin menyentuh Pizza. Aelin menepis tangan Davin dengan kasar.


"Tidak boleh, ini adalah milikku. Kamu tidak boleh memakannya," tolak Aelin dengan memasang wajah garang.


Davin melongo melihat respon Aelin, ia tidak pernah melihat sikap Aelin yang seperti ini.


"Kenapa?" tanya Aelin yang merasa tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Davin.


"Tidak, aku hanya sedikit merasa aneh. Kamu sangat pelit padaku," tutur Davin jujur.


"Aku tidak pelit, hanya saja ini keinginan ba---" Aelin segera membekap mulutnya sendiri, saat ia hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan sekarang.


"Ba?" Ulang Davin menatap Aelin intens.


"Ba-- Baru, yah keinginan baruku," ujar Aelin dengan terbata-bata. Ia berharap jawaban konyol yang ia katakan, tidak membuat Davin curiga.


Davin mendekatkan wajahnya pada Aelin dengan tatapan menyelidik. Hal itu membuat Aelin salah tingkah.


Davin mengusap sudut bibir Aelin yang belepotan dengan saos Pizza dengan jempolnya. Lalu menyesapnya dengan nikmat.


Aelin menghela nafasnya panjang, ternyata Davin hanya ingin membersihkan Bibirnya. Ia pikir Davin curiga. Intinya Davin tidak boleh tahu sampai hari ulang tahun pria itu.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


__ADS_2