
...213...
Davin dan Darren berlari dengan nafas terenggah-enggah. Menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai oleh para pegawai maupun pasien. Raut wajah Davin dipenuhi dengan ekspresi bersalah dan juga cemas.
Davin mempercepat ayunan kakinya saat melihat pelayan yang selama ini melayani Aelin tengah berdiri menyender pada tembok dengan wajah sembab.
"Maya," panggil Davin kini berdiri di hadapan wanita itu.
"Tuan, No---"
"Apa yang terjadi pada Aelin?" cecar Davin tanpa mendengarkan penuntasan kalimat Maya.
"Saat aku mengantar obat untuk Nona, dia tiba-tiba berteriak histeris karena air ketuban mengalir di kakinya. Aku pikir, Nona akan segera melahirkan," jelas Maya cepat. Ia juga sangat khawatir dengan kondisi Aelin saat di rumah. Tidak ada yang bisa ia hubungi saat itu. Untung Antonio datang di waktu yang tepat. Sehingga Aelin bisa dibawa dengan cepat menuju rumah sakit.
Davin menyugar rambutnya frustasi. Perasaanya benar-benar terasa tidak karuan. Rasa takut yang dominan kini mengusai seluruh jiwa raga sehingga membuat seluruh tubuhnya merasa kesemutan. Air mata yang jarang terlihat di mata seorang Davin Arselion kini mengucur deras tanpa henti. Bahkan, isak tangisnya pun bisa didengar oleh Maya, Darren, dan juga Antonio.
Davin mendekati pintu ruang persalinan, tempat dimana Aelin kini tengah berjuang sendiri untuk melahirkan kehidupan baru. Ia menempelkan telinganya di daun pintu. Berharap bisa mendengar suara yang ada di dalam. Ia sangat menyesal telah memperlakukan Aelin dengan begitu kejam. Andai waktu bisa ia putar kembali, ia tidak akan masuk dalam hidup malang wanita itu.
"Ae, maafkan aku," lirih Davin terisak. Kesedihan yang ia pendam dan berusaha ia sembunyikan dari mata dunia kini tumpah tak tertahankan. Darren dan Maya yang melihat kondisi menyedihkan Davin hanya menatap nanar pria itu.
Antonio mendekat ke arah Darren. Ia menyentuh bahu asisten pria yang sangat ia benci itu hingga wajah Darren menoleh ke arahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Antonio datar.
"Kamu sudah tahu kebenaran yang sebenarnya, kenapa menyembunyikan semua itu dari, Tuan?" balas Darren dengan pertanyaan lain. Ia menatap tajam menelisik.
"Davin sudah tahu siapa yang bersalah dalam kecelakaan itu?" Antonio cukup kaget akan hal itu. Bukannya ia sengaja menyembunyikan semua kebenaran itu. Namun, itu adalah kesepakatan antara dirinya dan Syaila.
"Yah, aku berhasil menangkap Arjun. Sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkan Nona Aelin dan juga Tuan Davin, termasuk dirimu."
"Jaga bicaramu, aku tidak pernah ingin membuat Aelin menderita. Semua yang terjadi pada Aelin hari ini adalah ulah Davin."
"Jika kamu peduli dengan Nona, tidak seharusnya kamu menyembunyikan kebenaran itu. Kamu juga ikut andil dalam semua ini. Kamu bicara kalau mencintai Nona Aelin, tapi kamu memilih melihat dia menderita daripada melihat dia bahagia dengan pria yang dia cintai."
"Diam! tahu apa kamu tentang cinta? Jangan sok mengajariku," sentak Antonio kesal dengan ucapan Darren yang berhasil mencubit hati kecil miliknya. Kata-kata yang membuat ia semakin bersalah pada Aelin. Tidak ingin terbakar api amarah dan lepas kendali. Ia memilih menjauh dari Darren.
Setelah cukup menunggu lama waktu yang penuh ketegangan dan kesedihan. Pintu ruang persalinan itu terbuka pelan. Menampilkan pria tinggi kurus memakai jas putih dan juga masker.
"Dokter, bagaimana dengan istri dan bayiku?" ujar Davin cepat melempar pertanyaan pada dokter tersebut.
Sang dokter mengedarkan pandangannya ke arah empat orang yang menunggu jawaban darinya. Ia menghela nafas dalam, lalu menghemhuskan dengan perlahan.
"Selamat, Tuan. Anda dikaruniai seorang putri yang sangat cantik."
Semua orang menghela nafas lega mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh dokter. Terutama Davin, ia kembali menangis haru dengan perasaan yang campur aduk. Ia tidak percaya kalau sekarang ia adalah seorang ayah dari seorang putri.
__ADS_1
"Tapi, keadaan Nona Aelin masih kritis. Dia mengalami pendarahan hebat saat melahirkan."
Deg.
Jantung Davin seketika berhenti berdetak mendengar kelanjutan ucapan sang dokter. Rasanya saat ini, dunia yang ia pijak berhenti bergerak dan tiba-tiba membeku. Rasa dingin yang begitu mengilukan terasa begitu jelas menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rasa khawatir dan cemas pun dirasakan oleh Darren, Maya, dan juga Antonio. Mereka berharap Aelin akan baik-baik saja.
"Dok, Nona Aelin sudah sadar," ujar perawat tiba-tiba keluar dari ruang persalinan.
"Ini kabar bagus," balas sang dokter.
Lagi-lagi semua orang menghela nafas setelah dibuat terjun dari ketinggian. Setidaknya, ada kabar baik yang datang dengan kesadaran Aelin.
"Aku akan menemui istriku," pekik Davin penuh bahagia dan lansung melesat masuk ke dalam ruangan tanpa mendengarkan apa yang dokter katakan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apapun selain bertemu dengan Aelin. Ia ingin memperbaiki semuanya, memperbaiki kesalahan dan derita yang ia buat dan hidup bahagia bersama keluarga kecil.
Air mata Davin mengalir di pipinya saat melihat Aelin sedang memeluk bayi mereka yang sedang menangis.
"Oee ... Oe ...." Suara khas bayi yang membuat hati Davin terenyuh. Perlahan tapi pasti, langkahnya mendekati Aelin yang tengah tersenyum sambil membelai bayi mungil yang ada dalam pelukannya. Hati Davin teriris pilu, sudah sangat lama ia tak melihat senyum indah itu.
Senyum yang terukir di bibir Aelin luntur saat netranya melihat wajah Davin. Wajah yang sangat dibenci dalam kehidupan ini. Ia mendekap erat bayinya, takut kalau Davin datang untuk menyakiti bayinya.
Kedua netra Davin bertaut dengan netra sendu milik Aelin. Saling memandang menyuarakan derita masing-masing. Pertemuan yang begitu kejam, dan kisah cinta yang begitu tragis.
Dengan tangan gemetar, Davin menyentuh tangan kurus Aelin yang tak segemuk delapan bulan lalu. Air matanya kembali mengalir deras. Namun, Aelin menarik tangannya cepat, seolah-olah jijik disentuh oleh Davin.
"Apa kabar?" tanya Davin memberanikan diri.
Aelin hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Davin. Baginya, hak itu sudah tidak dimiliki oleh Davin lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia memberikan putri kecilnya untuk digendong Davin. Dengan senang hati, Davin meraih tubuh kecil sang putri. Wajah putrinya sangat mirip dengan Aelin, hanya hidung dan mata yang mirip dengannya. Ia tersenyum bahagia.
"Dia adalah putri satu-satunya. Harapan hidupku saat kau menghancurkan duniaku. Aku hidup dalam bayang-bayang dendam yang begitu menyiksa. Cinta yang kamu berikan tak lebih besar dari derita yang kamu goreskan." Akhirnya, Aelin menyuarakan isi hatinya yang selama ini ia pendam, bersamaan dengan rasa sakit yang mulai menjalar di seluruh tubuh lemah miliknya.
Davin terkesiap mendengar suara lembut yang selalu ia rindukan. Namun, mengandung panah tajam yang mematikan hati.
"Aku minta maaf, aku salah. Aku mohon, maafkan aku. Kamu bisa membalasku dengan memasukkanku ke dalam penjara. Sungguh, aku minta maaf." Suara bass Davin menyuarakan penyesalan besar yang sedang ia rasakan. Memohon dengan menangis di depan Aelin. Berharap wanita itu memaafkan kesalahannya.
"Kamu tahu, kamu adalah kesalahan dalam hidupku. Aku sangat menyesal telah mencintaimu dengan seluruh hatiku, tapi setidaknya cintailah putriku dengan tulus." Deru nafas Aelin semakin berat dengan wajah semakin memucat. Ia menyentuh tangan mungil putri kecilnya.
"Dia putri kita. Kita akan merawatnya dengan baik."
"Tidak, bagaimana bisa kita merawatnya bersama jika aku tidak ingin hidup bersamamu, lagi."
"Tidak." Tangis Davin semakin kencang mendengar penolakan Aelin.
"Bukankah kamu mau hidupku menderita hingga kematian datang padaku? Kamu berhasil, Davin Arselion. Aku sangat menderita, semua yang kumiliki kamu hancurkan. Cinta, harapan, kebahagian, ketulusan, dan juga kesetiaan. Aku mati ribuan kali setiap harinya, dipaksa menjadi mayat hidup tanpa dunia."
__ADS_1
"Tidak, aku mohon jangan katakan itu. Aku minta maaf, Ae. Jangan tinggalkan aku." Davin menggenggam tangan Aelin erat. Dimana perasaanya semakin bercampur aduk bersamaan nafas Aelin yang semakin berat hingga suaranya mulai melemah.
"Aku tidak bisa bertahan la--lagi. Aku hanya ingin mengatakan, dia putriku. Aku mau hidupnya dipenuhi oleh cinta, berikan dia margamu, ta--pi jika kamu tidak bisa. Kamu bisa memasukkannya ke dalam panti asuhan, setidaknya di sana dia akan memiliki banyak teman yang akan peduli dengan tulus. Jangan hancurkan hidup putriku seperti kamu menghancurkan hidupku," pesan Aelin dengan suara terbata-bata dipaksakan. Tubuh Aelin menegang dengan tarikan nafas panjang, perlahan kedua mata Aelin tertutup.
"Tidak, jangan. Jangan tinggalkan aku, Ae. Aku mencintaimu! Kembalilah!" teriak Davin frustasi sambil mengguncang tubuh Aelin yang mulai mendingin. Tangis bayi yang ada dalam gendongannya pun pecah, menambah kepedihan dalam ruangan itu.
"Kembalilah, kamu bisa membalasku. Jangan tinggalkan aku. Jangan hukum aku seburuk ini, Aelin. Bagunlah!" Davin berteriak sejadi-jadinya berusaha membuat Aelin bangun. Ia memisahkan diri dari Aelin, kini takdir memisahkan ia untuk selamanya. Luka apa yang lebih menyakitkan dari kematian orang dicintai.
Raung tangis Davin semakin keras menggema dalam ruang persalinan itu. Sesekali ia memukul dadanya dengan sangat keras berharap malaikat maut juga mengambil nyawanya. Dunianya seakan ikut hilang bersamaan dengan kepergian Aelin. Suara tangis dan dukungan dari orang lain tak lagi ia dengar. Seolah-olah telinganya menjadi tuli. Davin tidak menyadari kini ruangan itu sudah ramai. Maya menangis sedih, begitupula Antonio. Sementara Darren berusaha menenangkan Davin yang terus menangis sambil mengguncang tubuh Aelin yang telah kaku.
Berniat hati ingin memperbaiki segalanya. Namun, Davin terlambat. Tidak ada yang perlu diperbaiki, kesalahan yang dilakukan akan terus membekas dan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup.
...T...
...A...
...M...
...A...
...T...
...----------------...
...****************...
note:
Hargailah orang yang tulus mencintaimu selagi mereka ada di sisimu. Kepercayaan dalam hubungan adalah dasar kuat untuk merajut cinta. Waktu terkadang memilih kepada siapa mereka memberi kesempatan. Jadi, manfaatkan waktumu dengan mengukir sejarah indah bersama orang tersebut sebelum sesal datang mengusai hidupmu.
Ada bonus part ya.
Ada juga sequel dari cerita ini. Tentang kisah hidup anak mereka yang pasti lebih greget.
Jangan lupa
Like
komentar
gift
vote
tips
__ADS_1
promosiin