Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Cepat datang


__ADS_3

...69🌱...


Langit tampak bergulir dengan tenang, tampa beban dan terlihat begitu damai.


Perlahan sang surya mulai turun secara perlahan, meninggal kan sinar oranye bercampur dengan jingga.


Antonio melangkah kan kaki nya dengan santai di lorong rumah sakit.


Setelah beristirahat sejenak, dan membersih kan diri ia kembali berangkat menuju rumah sakit.


Setidak nya ia merasa lebih bugar dari pada terakhir kali nya.


Namun langkah Antonio terhenti saat melihat pintu kamar yang di tempati oleh Mr. Arkelin terlihat begitu ramai.


Di mana beberapa perawat terlihat keluar masuk dengan tergesa- gesa dari dalam ruangan inap Mr. Arkelin.


Kepanikan dan kecemasan langsung melanda Antonio, perasaan nya semakin tidak enak melihat situasi tersebut.


Bukan kah terakhir ia pergi semua nya masih baik- baik saja.


Lalu apa yang terjadi?


Antonio segera berlari mendekat ke arah kamar ruang inap Mr. Arkelin, di mana ia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.


Ia tidak peduli jika beberapa perawat mencoba menghalangi diri nya.


Deg


Tubuh Antonio langsung menjadi lemas saat netra nya melihat tubuh seseorang di atas brangkar sudah di tutupi oleh kain putih seluruh nya.


Ke dua kaki Antonio rasa nya tak bertulang , di mana ia tidak sanggup untuk menahan beban tubuh nya, sehingga tubuh nya begitu saja hampir tersungkur ke lantai.


Namun di tangkap oleh perawat pria yang berada di samping nya.


Apa ini?


Siapa tubuh pria yang ia lihat di mana tubuh itu sudah tertutup oleh kain putih panjang?.


Bukan kah ini kamar Mr. Arkelin, lalu di mana bos nya ?


Pikir Antonio dengan ribuan pertanyaan yang bermunculan di kepala nya.


"Tidak mungkin itu tuan... Tidak... Tidak ..." Lirih Antonio syok.


Tidak mungkin jika itu Mr. Arkeli kan.?


Wajah Antonio terlihat memucat, dengan ketakutan dan kepanikan yang mencapai level tertinggi.


Seorang pria dengan jas putih menghampiri Antonio.


Yang semakin membuat Antonio menggeleng kan kepala nya dengan kenyataan yang tidak bisa di cerna oleh kepala nya.


"Apa kau kerabat Mr. Arkelin?" Tanya sang dokter dengan raut wajah berduka. Yang semakin membuat Antonio kalang kabut.


"Aku asisten nya? Di mana majikan ku? Kenapa ada mayat di sini? Apa kau sudah memindah kan Mr. Arkelin.?" Cecar Antonio, bahkan kini meraih kerah jas dokter.


"Tidak... Kami tidak memindah kan Mr. Arkelin Tuan.. Tapi seperti yang anda lihat... Kami dengan sangat menyesal mengata kan jika Mr. Arkelin menghembus kan nafas terakhir nya dengan kata lain beliau sudah meninggal..."


"Tidak...!!! Itu tidak mungkin.. Bagaimana bisa? Aku meninggal kan nya hanya beberapa jam yang lalu? Dan kondisi nya saat itu baik- baik saja... Bagaimana bisa.. Aku yakin jika dia bukan majikan ku...!" Teriak Antonio menyangkal apa yang di kata kan sang Dokter yang bagi nya sama sekali tidak masuk akal.

__ADS_1


Antonio segera mendekati brangkar rumah sakit, di mana di atas nya terbujur kaku sebuah tubuh yang di tutupi oleh kain putih.


Antonio menatap lekat mayat di depan nya.


Ia berharap jika apa yang di kata kan dokter adalah salah.


Bagaimana pun ia hidup bersama Mr. Arkelin selama dua tahun ini.


Mr. Arkelin sudah menganggap nya seperti seorang putra. Begitu pun diri nya yang selalu membagi cerita dengan Mr. Arkelin.


Dengan tangan gemetar, Antonio menyentuh kain putih itu dan menarik nya secara perlahan.


Di mana kini dada nya terasa begitu sesak, seakan ada batu besar yang menindih dada nya.


Srak...


Tubuh Antonio langsung membeku di tempat, dengan buliran air mata yang langsung tumpah dari ke dua mata Antonio.


Saat melihat wajah kaku dan pucat di mana ke dua mata nya tertutup dengan rapat.


"Tuan...!" Lirih Antonio dengan suara tercekat, saat melihat mayat yang ada di depan nya adalah Mr. Arkelin.


Rasa perih langsung meledak dalam diri nya, kenangan manis bersama majikan nya mulai berputar di kepala Antonio.


Antonio segera berlari keluar kamar, menutup wajah nya dengan ke dua tangan nya.


Menumpah kan kesedihan atas kehilangan sang majikan yang begitu baik.


Lalu Aelin?


Apa yang harus ia kata kan pada Aelin.?


Tapi ia tetap harus mengata kan semua ini pada Aelin.


Meski semua nya pasti akan menghancur kan gadis malang itu.


Antonio merogoh ponsel nya, memencet kontak Aelin dan mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.


Antonio mengusap air mata nya, setidak nya ia harus bersikap tegar di hadapan Aelin.


...----------------...


Tring...


Tring...


Tring...


Aelin menggeliat kan tubuh nya, mengerjap kan kedua mata nya. Saat mendengar suara ponsel nya berdering.


"Kau sudah bangun sayang?.." Seru Davin yang sedang duduk di sofa sambil menyelesai kan pekerjaan nya.


Aelin tidak mengubris pertanyaan Davin, ia langsung meraih ponsel nya yang ia letak kan di atas meja nakas.


Jujur sebenar nya ia masih ingin tidur, namun apa lah daya, ponsel nya tetap berdering sejak tadi membuat tidur nya menjadi terganggu.


Aelin langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari Antonio.


"Iya kak.." Seru Aelin dengan suara parau khas bangun tidur.

__ADS_1


"Aelin bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang...?" Ujar Antonio dengan mengontrol nada bicara nya, agar terdengar sebiasa mungkin.


"Semua nya baik- baik saja kan??" Tanya Aelin kini dengan nada panik.


Pasal nya Antonio tiba- tiba meminta nya ke rumah sakit.


Di mana hal itu membuat perasaan nya menjadi tidak karuan.


Apa ada sesuatu yang terjadi pada papy nya?


"Aku tidak bisa mengata kan nya Aelin... Datang lah kemari..." Jawab Antonio yang tidak memberikan jawaban apa pun pada Aelin.


Karna demi apa pun ia tidak sanggup untuk mengata kan kepada Aelin jika dia sudah kehilangan papy yang sangat di sayangi nya.


Antonio langsung memutus kan panggilan tersebut secara sepihak, sebelum Aelin terus bertanya kepada nya. Sementara diri nya tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Aelin.


"Hallo Kak.. Kak...!!" Panggil Aelin hampir berteriak saat suara Antonio tak lagi terdengar.


Rasa cemas dan kalut kini menghantui Aelin.


Sebenar nya apa yang terjadi?.


Ia harus segera ke rumah sakit, memastikan semua nya balik - baik saja.


Mendengar suara Aelin yang meninggi, membuat Davin menatap wajah Aelin yang terlihat begitu cemas.


"Ada apa Aelin?" Tanya Davin yang langsung membuyar kan pikiran Aelin.


"Om bisakah kita pergi sekarang ke rumah sakit..?" Ujar Aelin dengan nada panik , di mana ia langsung beranjak mengambil tas yang ada di atas koper nya.


"Tapi bukan nya kita akan ke rumah sakit nan---"


"Aku ingin sekarang... Kak Antonio menelpon.. Jika om tidak bisa mengantar ku.. Aku akan pergi sendiri..." Sosor Aelin memotong perkataan Davin, di mana diri nya langsung berlari keluar kamar.


"Dasar bocah..." Umpat Davin dengan merotasi mata nya jengah lalu langsung menutup gawai nya dan menyusul Aelin.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2