
...49🐳...
Malam semakin larut, udara semakin dingin hingga mampu membekukan tulang.
Blar...
Cetar...
Plar...
Suara kilatan petir semakin bersahutan, bercahaya membentuk lecutan putih dengan cahaya mengkilat, dengan guyuran hujan yang semakin deras.
Langit malam terlihat begitu gelap, mengalah kan gelap nya warna hitam. Sangat pekat hingga tak ada secuil cahaya pun di langit malam.
Genangan air mulai mengenangi jalanan, dengan jalanan yang semakin sepi, karna semua orang kini tengah asik bergelung di bawah selimut hangat mereka, atau sedang duduk di depan tungku pemanas ruangan.
Terlihat di terminal bis yang sepi, yang hanya di sinari lampu jalanan.
Seorang gadis tengah meringkuk kedinginan dengan tubuh basah kuyup, dan bibir yang gemetaran hampir membiru.
Aelin merapat kan tubuh nya hingga terlipat menjadi dua.
Memeluk lutut nya rapat, sembari menggosok kan tangan nya, yang sudah semakin gemetaran dan hanya tersisa rasa dingin.
Tubuh nya rasa nya sudah membeku karna sudah terlalu lama di halte bis.
Bis yang di tunggu nya tidak kunjung datang, membuat Aelin meringkuk dalam diam meski rasa nya ia akan mati karna kedinginan.
Tidak mungkin ia menerobos hujan sederas ini, belum lagi dengan hawa udara yang benar- benar menusuk hingga ke tulang.
Jika memilih berjalan kaki, pasti ia tidak akan sampai di rumah Davin hingga esok hari.
Dan diri nya juga tidak sanggup untuk berdiri lagi, rasa nya kaki nya sudah mati rasa.
Apa ini adalah hari terakhir hidup nya?
Rasa dingin ini bahkan ikut membenci nya dan ingin membunuh nya di tengah malam yang sepi ini.
Tubuh nya benar- benar tidak sanggup lagi untuk bertahan.
Siapa pun tolong diri nya yang kini sedang sekarat dalam dingin dan diam.
Ia butuh kehangatan.
Ia butuh sebuah pelukan.
Seperti nya takdir memang memusuhi nya.
"Aku akan mati..." Lirih Aelin dengan bibir bergetar.
Sayup- sayup pandangan nya semakin meredup, dengan penglihatan yang semakin memburam.
Apa diri nya sungguh akan mati sekarang?
Kenapa akhir hidup nya begitu tragis?
__ADS_1
Ia sangat berharap jika ada seorang malaikat yang datang menghampiri nya dan memeluk nya dengan sayap lebar nya.
Mata Aelin semakin sayu, dan hampir tertutup namun sekilas bayangan Davin muncul di ke dua pelupuk mata nya yang hampir terpejam.
"Kau..?" Lirih Aelin dengan kesadaran menghilang seutuh nya.
Davin langsung menangkap tubuh Aelin yang ambruk dan hampir terjatuh ke lantai halte yang penuh dengan genangan Air.
Setelah menerobos hujan, bahkan ia sempat mengunjungi rumah Aelin namun ia juga tidak menemukan gadis kecil ini, hingga ia melihat seorang gadis tengah meringkuk sendirian di halte bis.
Ia langsung menepikan mobil nya dan bergegas turun, memastikan jika gadis yang di lihat nya adalah Aelin.
Dan ternyata penglihatan tajam nya tidak pernah salah, gadis itu memang benar Aelin yang langsung pingsan saat ia akan menghampiri gadis kecil merepot kan itu.
"Aelin.... Bangun... Aelin....!" Seru Davin memanggil nama Aelin, sembari menepuk ke dua pipi Aelin yang rasa nya sudah berubah menjadi es.
Namun panggilan Davin hanya sia- sia, Aelin tidak kunjung membuka ke dua mata nya.
Davin semakin panik dan cemas saat melihat kondisi Aelin yang benar- benar buruk.
Bahkan bibir indah Aelin kini sudah berganti warna menjadi membiru.
"Gadis bodoh , kenapa ia tidak menelpon ku atau Darren untuk menjemput nya. Malah memilih mati kedinginan di halte bis... " Umpat Davin yang langsung mengangkat tubuh Aelin ke dalam gendongan nya, dan segera membawa tubuh kecil Aelin ke dalam mobil nya.
Davin menghembus kan nafas nya, terlihat kepulan asap putih yang membumbung dari mulut nya. Menandakan betapa dingin nya malam ini.
Davin membuka baju nya yang sudah basah kuyup lalu melempar nya asal.
Terlihat dengan begitu jelas, lekukan indah tubuh Davin dengan roti sobek di perut nya.
Menatap Aelin yang sudah tak sadar kan diri karna kedinginan.
"Jika aku tidak melakukan nya, maka gadis ini bisa- bisa mati kedinginan...." Gumam Davin memasang wajah ragu dengan apa yang sedang di pikir kan nya.
Tapi jika di biar kan Aelin bisa mati kedinginan.
Davin mengulur kan tangan nya menyentuh baju seragam Aelin yang basah.
Satu - satu nya pilihan nya saat ini adalah membuka seluruh pakaian gadis itu dan menyelimuti nya dengan selimut ini.
Tapi apa itu pilihan yang tepat yang harus ia lakukan?
Davin memijat pelipis nya, dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus saat membayang kan apa yang akan ia lakukan.
Tapi ia tidak mau membiar kan Aelin mati semudah itu.
Davin melirik sekali lagi ke arah Aelin, lalu memantap kan niat nya, dan mulai menanggal kan satu persatu pakaian Aelin. Lalu menyelimuti tubuh polos itu dengan selimut yang ada di tangan nya.
Davin menyugar wajah nya kasar, di mana seluruh wajah Davin sudah memerah dengan sempurna.
"Gadis ini memang sangat memacu ardenalin ku..." Cicit Davin dengan tubuh memanas seketika karna melihat tubuh Aelin.
Tentu saja ia adalah pria normal yang akan bereaksi melihat sesuatu yang memanja kan mata.
Bahkan rasa dingin yang tadi menyapa tubuh nya kini berganti kan dengan rasa panas menjalar ke seluruh tubuh nya.
__ADS_1
Davin meredam rasa yang sedang bergejolak dalam diri nya.
Lalu menyala kan mesin mobil dan menginjak pedal gas mobil, lalu menggiring mobil mewah nya membelah jalanan sepi yang di guyur hujan.
"Papy... Jangan tinggal kan Aelin....!!" Lirih Aelin hampir berbisik.
Membuat konsentrasi Davin yang sedang menyetir terbelah saat mendengar Aelin mengigau.
Davin mendekat kan wajah nya pada Aelin, namun seperti nya ke dua mata gadis itu masih terpejam rapat.
"Hhhhh Dingin... Papy... Bawa aku pada papy ku mohon...." Cicit Aelin lagi kini dengan bibir yang semakin bergetar.
Entah setan apa yang sedang merasuki Davin, namun melihat Aelin tersiksa kedinginan membuat hati nya sedikit nyilu dengan rasa simpati yang mulai bermunculan.
Davin mengelus kepala Aelin lembut, membuat Aelin melengkuh merasa kan sentuhan hangat tangan Davin.
"Tenang lah.. Kamu akan baik- baik saja..." Seru Davin dengan kaku, mencoba menenang kan Aelin.
Setelah beberapa menit berlalu akhir nya Davin sampai di depan rumah mewah bak istana milik nya.
Ia segera memarkir kan mobil nya, dan turun lalu berlari memutar ke arah pintu depan samping.
Membuka pintu dengan cepat, lalu menatap Aelin yang masih setia memejam kan ke dua mata nya.
Davin menyelip kan ke dua tangan nya di bawah tengkuk Aelin dan di bawah lutut gadis itu.
Dengan sekali gerakan, Davin membawa Aelin masuk ke dalam pelukan nya dengan gaya bridestyle.
Lalu berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah dengan tubuh bagian atas tanpa mengena kan baju.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1