
...198...
Aelin keluar dari taksi dengan gontai. Kedua langkah kakinya terlihat begitu berat, belum lagi wajah yang semakin pucat. Pikirannya masih terus berperang satu sama lain. Antara pikiran positif dan negatif yang terus berlawanan menciptakan kebimbangan dan kegelisahan.
"Nona, Anda baik-baik saja?" celetuk suara Maya berhasil membuat fokus Aelin buyar. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan baru menyadari kalau ia sudah ada di ruang tamu. Ia benar-benar tidak menyadari langkah kakinya sendiri.
"Aku baik-baik saja, May. Apa Livia ada di rumah?"
"Iya, Nona. Nona Livia baru saja pulang sekitar 20 menit yang lalu. Sepertinya, dia berada dikamarnya sekarang."
"Hmmm, apa dia terlihat kesal saat pulang?"
"Tidak." Maya mengerjitkan dahinya. Ia merasa sedikit bingung dengan pertanyaan Aelin.
"Nona, ini waktunya Anda untuk minum obat. Apa Anda sudah minum?" lanjut Maya lagi dengan nada sedikit khawatir.
"Oh iya, terimakasih sudah mengingatkan aku, May. Aku akan minum obat. Tolong bawakan segelas air dan buah ke kamarku." Setelah memberikan perintah, Aelin beranjak melewati Maya menuju kamarnya. Memikirkan apa yang sedang terjadi membuat ia kalut.
Maya hanya bisa memandangi punggung Aelin yang berjalan menjauh. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dirisaukan oleh wanita hamil itu. Namun, ia tidak memiliki hak untuk menanyakan apapun. Ia hanya bisa berharap semoga Aelin selalu bahagia dan kandungan sang majikan selalu sehat. Ia pun segera menuju ke dapur untuk melaksanakan tugas yang diberikan.
Aelin berdiri di depan pintu kamar Livia. Saat ingin masuk ke kamarnya sendiri. Ia mengingat akan apa yang dikatakan Lia saat di kafe. Setelah dipikirkan dengan mantap, Aelin memilih untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Lia. Dengan tangan yang terangkat ragu, Aelin mengetuk pintu kamar di depannya.
Tok.
Tok
Tok.
Krieet!
Pintu kamar tersebut terbuka dengan cepat. Menampilkan sang penghuni kamar yang menatap Aelin dengan tatapan datar.
"Kakak ipar," lirih Livia.
"Bisa kita bicara," pinta Aelin yang berhasil membuat Livia semakin bingung.
Bicara? Apa dia ingin marah-marah padaku lagi karena kejadian tadi siang? Batin Livia sambil memandang Aelin dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tentu saja boleh, silahkan masuk!" seru Livia dengan sedikit gugup. Untung tadi, ia tidak lansung membuka karakter samarannya. Kalau tidak, ia pasti sudah tertangkap basah. Menjadi penipu cukup melelahkan.
__ADS_1
Senyum paksaan terukir di bibir Aelin, dimana ia melangkah masuk ke dalam kamar adik sepupu suaminya itu. Ia memperhatikan setiap inci tubuh Livia. Berharap ada sesuatu yang bisa ia temukan untuk mendapatkan jawaban yang tengah ia cari.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Livia lansung to the point.
"Aku pikir kamu akan marah padaku atau kesal," jawab Aelin dengan tersenyum kaku. Lalu, duduk di pinggir ranjang.
"Marah?" Livia berpura-pura tidak mengerti. Padahal di dalam hati, ia sudah ingin menyingkirkan Aelin dari kehidupan Davin serta dirinya.
"Iya, marah karena aku sudah menuduhmu tadi siang."
"Oh, jangan terlalu memikirkan hal itu. Kamu wajar bersikap cemburu. Lagi pula aku yang salah karena lancang memeluk Davin. Seharusnya aku mengerti, kalau sekarang dia sudah punya istri." Livia menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak api cemburu saat lidahnya sendiri mengatakan Aelin adalah istri Davin.
Aelin bangun dari duduknya dan meraih tangan Livia. Ia menggengam tangan wanita itu penuh kelembutan. Hal yang membuat Livia merasa muak dan kesal.
"Sekali lagi aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Aku benar-benar sedang kalut. Jadi, aku lampiaskan amarahku padamu. Apa kamu menerima permintaan maafku?" mohon Aelin dengan wajah sedih dan bersalah.
"Tentu saja, aku memaafkanmu Kakak ipar. Lupakan saja, apa yang sudah terjadi."
"Terimakasih. Bagaimana untuk menebus kesalahanku ini, kita besok pergi berbelanja? Besok juga hari ulang tahun Davin. Aku ingin memberikan dia kejutan yang bagus."
Deg.
"Terimakasih sekali lagi, Livia. Baiklah, aku pergi." Setelah mengatakan hal itu. Aelin keluar dari kamar Livia dengan tersenyum lebar. Ia sudah berhasil memperbaiki hubungannya dengan Livia. Tinggal mengawasi gerak-gerik wanita itu untuk memastikan tidak ada sesuatu di antara Livia dan Davin. Ternyata apa yang disarankan Lia memang betul. Mendekati musuh adalah salah satu cara untuk menemukan kebenaran.
Sementara itu, Livia mengusap wajahnya dengan kapas make-up hingga tampaklah siapa ia yang sebenarnya. Kedua mata Syaila memerah menahan gejolak api amarah yang sejak tadi tertahan. Ia sangat membenci Aelin. Wanita itu sangat menyebalkan. Ingin sekali rasanya tadi, ia menjambak dan menampar wanita yang sudah merebut Davin darinya.
Syaila menatap tajam pada ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia segera meraih benda pipih berbentuk persegi tersebut dan menekan salah satu nomer. Hanya dalam satu nada sambung, panggilan tersebut sudah terhubung.
"Bersiaplah, apa yang kita bicarakan tadi harus kamu selesaikan. Aku tidak ingin terjadi kesalahan apapun."
Tut!
Syaila memutus panggilan telpon tersebut setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Senyum jahat terbit di bibir Syaila dengan tatapan lurus ke depan.
"Kamu ingin memberikan kejutan untuk Davin, kan Aelin? Baiklah, aku akan membantumu. Bukan hanya Davin, tapi kamu juga akan mendapatkan kejutan. Setelah ini, Davin tidak akan lagi menjadi milikmu," gumam Syaila penuh kebencian.
...----------------...
Hari berganti dengan begitu cepat. Pagi datang dengan cuaca yang cukup bagus. Syaila yang berkedok Livia berjalan menuruni tangga, dimana Aelin sedang merapikan meja makan setelah kepergian Davin ke kantor.
__ADS_1
"Pagi, Liv!" sapa Aelin sambil tersenyum.
"Pagi." Livia menarik kursi dan mengambil sarapan, lalu mulai memakan makanan tersebut.
"Kau ingin jus atau susu?"
"Jus."
"Aku akan membuatkannya untukmu." Aelin beranjak mengambil gelas dan buah jeruk.
"Kau tidak lupa, kan untuk menemaniku berbelanja hari ini?" lanjut Aelin lagi, mengingatkan Livia. Ia sudah memutuskan untuk mengoreksi informasi dari Livia nanti. Ia sudah memikirkan beberapa rencana tadi malam.
"Tentu saja." Livia menjawab singkat. Aelin memberikan segelas jus pada Livia. Kemudian duduk di depan adik sepupu sang suami.
"Aku tidak merepotkanmu, kan?"
"Tidak sama sekali, bahkan aku sangat antusias dan tidak sabar." Livia tersenyum penuh arti.
"Kita berangkat sekarang?" lanjut Livia lagi yang lansung berdiri cepat.
"Sarapanmu belum habis."
"Tidak papa, aku sudah kenyang. Ah, maaf aku terlalu bersemangat dan terburu-buru."
"Tidak papa, baiklah ayo pergi."
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
lke
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips