Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Penyakit aneh


__ADS_3

...104💚...


Usai mengantar kan Aelin pulang, Darren kembali ke rumah sakit.


Kini ia tengah duduk di sofa dalam ruangan Davin.


Tapi ia sedikit merasa canggung karna majikan nya menatap nya dengan tajam sejak ia masuk ke dalam ruangan ini.


"Darren kau sudah mengantar Aelin sampai rumah dengan selamat bukan?" Tanya Davin dengan suara yang sedikit cemas.


"Iya Tuan ..." Jawab Darren singkat, dengan sedikit menaruh rasa curiga.


Sungguh tingkah majikan nya benar- benar aneh setelah bangun dari tidur panjang nya.


Apa urat saraf majikan nya ini terjepit?


Mengapa ia sangat peduli dengan Aelin?


Bukan kah Davin sangat membenci Aelin.


"Oh ya Tuan, saya ingin memperlihat kan sesuatu pada Tuan..." Seru Darren yang mengingat sesuatu.


Ia memiliki laporan untuk tuan nya. Sebuah rekaman yang di kirim kan oleh Maya.


Ia tidak ingin mendapat hukuman jika tidak menyampai kan nya pada Davin.


Bisa- bisa ia langsung berubah kependudukan ke hutan antartika.


Darren menyerah kan ponsel nya pada Davin.


Davin menatap serius layar benda pipih di tangan nya.


Di mana sebuah vidio di putar, vidio yang berlatar di dapur di mana Davin bisa melihat dengan jelas Aelin yang menangis histeris.


Ke dua bola mata Davin terbelalak bahkan hampir copot dari cangkang nya.


Saat melihat tanpa ampun Aelin menginjak beling- beling pecahan piring yang sudah hancur.


Jujur Davin merasa nyilu melihat nya.


Davin segera mematikan layar ponsel Darren dan mengembali kan nya pada Darren.


Ternyata demi menemui diri nya yang ada di rumah sakit, Aelin membiar kan telapak kaki nya sampai terluka.


Bahkan ia sudah mendengar itu dari Dokter Nashila.


Namun sekarang ia tahu alasan kenapa kaki Aelin terluka.


Rasa nya Davin juga ikut terluka, di mana hati nya memanas.


Bisa- bisa nya Aelin melukai diri nya sendiri seperti itu.

__ADS_1


"Wanita nakal.. Berani sekali kamu melukai diri mu sendiri.. Lihat saja aku akan memberikan mu hukuman..." Marah Davin dengan memasang wajah garang.


"Darren kenapa bisa Aelin begitu ceroboh? Bahkan sampai tidak memperduli kan luka nya sendiri?" Tanya Davin yang langsung membuat Darren melongo.


Ia cukup kaget dengan pertanyaan tidak penting yang di layang kan tuan nya itu.


Bahkan ia pun sama sekali tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Davin.


Buliran keringat mulai terbentuk di pelipis Darren, ia memilih untuk menjawab seratus soal ujian dari pada soal ini.


Sungguh kepala nya buntu, ia juga tidak berani menjawab asal. Jika jawaban nya tidak sesuai dengan yang di ingin kan Davin maka ia harus segera bersiap untuk berangkat ke hutan antartika.


"Darren aku bertanya pada mu..?" Davin menatap asisten nya yang masih diam membisu.


"Hmmm Nona pasti sangat khawatir dengan kondisi Tuan..." Jawab Darren, berharap jika jawaban yang ia berikan adalah benar.


Sudut bibir Davin terangkat miring.


Apa benar Aelin sangat khawatir pada nya sehingga istri kecil nya sampai tidak peduli dengan luka nya?.


Astaga bukan kah ini sangat manis.


Pekik Davin dengan hati yang sudah mencak- mencak saking senang nya.


Darren yang melihat Davin tersenyum membulat kan bibir nya.


Apa diri nya tidak salah lihat?


Atau jangan- jangan mata nya sudah jereng.?


Tapi ia juga merasa lega karna seperti nya jawaban yang ia berikan memang tepat dan benar.


"Lalu kata kan apa yang Aelin lakukan di samping ku saat aku tidak sadar.?" Tanya Davin dengan wajah semakin antusias.


Terlihat seperti anak kecil yang sangat bersemangat melihat setoples permen.


"Nona sejak datang ke rumah sakit selalu duduk di samping tuan---"


"Apa di sini?" Potong Davin cepat sambil menunjuk kursi di samping nya.


Darren mengangguk.


"Terus Nona selalu menggenggam tangan tuan.. Bahkan terkadang dia juga menangis.. Ia terlihat begitu sangat mencemas kan tuan.. Dia seperti takut kehilangan Tuan.. Bahkan dia tidak mau pulang saat saya menyuruh nya untuk pulang.. Dia pun tidak makan selama dua hari.. Saya sangat khawatir tapi saya juga tidak bisa membujuk nya.. Nona sangat keras kepala..." Darren menutup cerita nya lalu menarik nafas dalam- dalam.


"Dia memang sangat manis..." Gumam Davin yang kini tersenyum lebar.


Darren yang melihat senyum Davin bergidik ngeri.


Namun satu yang di tangkap Darren, tuan nya sangat aneh.


"Aku senang mendengar cerita mu Darren.. Seperti nya aku akan memberi mu tips bulan ini..."

__ADS_1


Seperti mendapat durian runtuh, Darren langsung bersorak sorai dalam hati.


Ternyata cerita yang di cerita kan pada majikan nya membawa keberuntungan.


Akhir nya kabar baik tiba kepada nya.


"Oh ya Darren.. Bisa kah kamu mencari tahu tentang sesuatu..?" Beo Davin kini dengan wajah serius nya.


Wajah senang Darren langsung luntur seketika.


Ia baru mendapat kan tips, tapi seperti nya hal itu di ganti dengan pekerjaan baru.


"Iya Tuan saya akan mengusaha kan..." Jawab Darren yang sudah ingin membanting diri nya.


"Aku merasa aneh dengan apa yang terjadi pada diri ku.. Aku juga bingung maka nya aku menyuruh mu untuk mencari tahu... Saat di dekat Aelin jantung ku berdebar- debar..." Davin mengutara kan apa yang ia rasa kan.


Berharap ia bisa mendapat kan jawaban yang tepat dari asisten nya yang tidak pernah mengecewakan diri nya.


"Astaga Tuan,, kenapa Tuan tidak mengata kan nya sejak tuan sadar.. Seperti nya kita harus segera meminta Dokter Nashila untuk memeriksa jantung Tuan... Meski umur Tuan sudah tidak lagi muda saya tidak ingin tuan mengalami serangan jantung..." Wajah Darren berubah khawatir.


"Serangan jantung?" Beo Davin yang kini juga terlihat panik.


Benar kah apa yang di kata kan oleh Darren?


"Tapi aku rasa tidak Darren...!" Cicit Davin merasa ragu dengan spekulasi Darren.


Spekulasi yang terdengar sangat menyeram kan.


"Jantung ku hanya berdetak tidak normal saat berada di samping Aelin.. Selain itu jantung ku normal- normal saja... Lalu aku sedikit merasa gugup. Lalu hati ku terasa meletup- letup senang... Dan ada rasa aneh di mana aku ingin selalu berada di dekat Aelin..." Senyum di bibir Davin semakin mengembang di mana wajah Aelin kembali terbayang di mata nya.


Darren yang mendengar gejala penyakit yang sedang di alami majikan nya segera mencatat hal penting itu di ponsel nya.


"Penyakit anda sangat aneh Tuan..." Selosor Darren.


Ia sama sekali tidak pernah mendengar penyakit dengan gejala aneh seperti yang di derita oleh Davin.


Tapi ia berharap jika tuan nya berumur panjang dan tidak mati dengan penyakit aneh yang saat ini di derita.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2