
...54🌲...
Aelin menatap lekat wajah tenang Davin yang masih tertidur.
Wajah nya yang begitu tenang dan damai.
"Tampan...!" Lirih Aelin tampa sadar karna jatuh dalam pesona seorang Davin Arselion.
Tangan Aelin terulur untuk menyentuh wajah tampan dengan garis wajah yang begitu jelas, namun tangan Aelin segera terhenti dan mengambang di udara saat melihat kelopak mata Davin terbuka.
"Hmmmmmm ternyata sudah pagi..." Lengkuh Davin sambil merentang kan ke dua tangan nya ke udara.
Merenggang kan otot - otot tubuh nya yang terasa sedikit kaku karna tidur dengan posisi terduduk semalaman.
Davin mengerjit kan kening nya, saat melihat tangan Aelin yang mengambang di udara tepat di depan wajah nya.
"Kau ingin melakukan apa?" Tanya Davin penuh selidik.
Ke dua mata Aelin membola, dengan tubuh yang membeku di tempat.
Astaga apa yang akan di lakukan tangan bodoh nya itu?. Pekik Aelin yang salah tingkah karna hampir ketahuan ingin menyentuh wajah Davin.
"Aaa... Aku.. Aku hanya ingin menepuk nyamuk yang ada di kening mu..."
Plak...
Satu tepukan yang cukup keras melayang di kening Davin, yang langsung membuat Davin terbelalak.
Aelin tertawa kaku dengan situasi yang saat ini benar- benar canggung di antara mereka.
Davin segera menepis tangan Aelin yang masih menempel di kening nya.
"Kondisi mu sudah membaik... Bersiap lah sekarang... Bukan kah kamu ingin bertemu dengan papy..." Seru Davin yang merasa kaku berhadapan dengan Aelin, apa lagi tadi saat mereka melakukan adegan konyol yang cukup memalukan.
Davin segera beranjak dari kasur Aelin , lalu berjalan hendak keluar namun langkah nya terhenti saat mendengar sesuatu.
"Terimakasih... Terimakasih Om... " Seru Aelin dengan tulus, menatap punggung kekar Davin yang berdiri memunggungi diri nya.
"Hmmm..." Dehem Davin yang langsung berlalu pergi.
Aelin menghembus kan nafas nya kasar, sungguh mengucap kan kalimat terimakasih itu membutuh kan tenaga yang luar biasa yang harus ia keluar kan.
Entah mengapa ia memiliki inisiatif untuk mengucap kan kalimat terimaksih itu pada Davin.
Mungkin karna efek rasa balas budi yang membuat diri nya mengucap kan kata itu, yang sebelum nya tidak ingin ia ucap kan sekali pun untuk Davin.
Meski Davin sering membela diri nya di hadapan sang mertua tapi ia tidak sudi untuk mengucap kan terimakasih.
Tapi ya sudah, ia tidak perlu memikir kan hal itu lagi.
__ADS_1
Saat ini yang harus ia lakukan adalah bersiap- siap untuk segera pergi menemui sang ayah.
"Aku pikir apa yang di kata kan kemarin malam, hanyalah omong kosong.. Tapi ia menepati apa yang ia ucap kan..." Gumam Aelin lagi sambil memandang pintu kamar di mana tadi Davin keluar dari sana.
Sedikit penilain buruk Aelin terhadap Davin mulai runtuh.
Meski benci dan amarah masih mendominasi di dalam hati nya.
Aelin segera mejajakan kaki nya di atas lantai kamar yang cukup dingin, lalu berjalan menuju kamar mandi.
...----------------...
Sementara di Villa Arselion.
Dokter Nashila tengah mengecek kondisi pasien nya.
Wajah nya terlihat begitu serius dan Fokus dengan alat- alat medis yang menopang kehidupan Syaila selama dua bulan lama nya.
"Frans.... Bawakan obat yang tadi malam sudah ku racik...!" Seru Dokter Nashila pada asisten pria nya yang bernama Frans.
Frans langsung melaksana kan perintah majikan nya dengan membawa kan nampan berisi satu pil berwarna cream.
"Ini dokter...!" Kata Frans dengan menyerah kan nampan tersebut.
"Suntik dia...!" Titah Dokter Nashila lagi.
Frans yang notabene nya adalah dokter muda yang juga cukup berhasil karna kecerdasan nya, memilih untuk menjadi asisten Dokter Nashila karna diri nya sangat mengagumi dokter wanita itu, yang tak pernah gagal dalam kasus nya.
Meski Frans mampu menjadi dokter mandiri, namun ia memilih jalan nya sendiri untuk mendapat kan ilmu yang jauh lebih banyak lagi.
Frans berjalan mendekat ke arah Syaila, laly menyuntik kan cairan berwarna biru itu pada tubuh sang pasien.
"Dokter seperti nya sebagian saraf nya hampir mati..." Celetuk Frans dengan wajah serius nya.
Dokter Nashila mengangguk. Lalu meminum kan pil yang tadi di bawa oleh Frans, pada Syaila.
"Kita harus menjaga saraf otak nya tetap bekerja, karn itu lebih penting Frans... Kau tahu orang koma masih bisa merasa kan dan mendengar kan apa yang ada di sekeliling nya... Untuk itu kita juga bisa memanfaat kan hal itu untuk membuat saraf otak nya memerintah kan ia untuk sadar... Ini tidak mudah Frans tapi aku yakin kita bisa melakukan nya..." Jelas Dokter Nashila dengan kata- kata semangat di akhir kalimat nya.
"Aku yakin pada mu dokter... kita seperti nya membutuh kan waktu yang cukup lama karna kasus Syaila berbeda... Ada luka dalam yang sampai kini belum kering..." Balas Frans lagi, yang berhasil menemukan luka dalam kepala Syaila saat melakukan citysceen pada bagian kepala Syaila.
"Kau benar Frans... Tapi, selalu ada keajaiban dan aku yakin dengan keajaiban..." Bibir Dokter Nashila menipis dengan cairan hijau yang lagi - lagi di suntik kan pada tubuh Syaila.
Frans juga ikut tersenyum mendengar keyakinan sang atasan.
Ini lah yang sangat di kagumi Frans, keyakinan dan kepercayaan diri Dokter Nashila yang begitu besar hingga ia mampu untuk mengatasi setiap kasus yang datang pada nya.
...----------------...
Tut...
__ADS_1
Tut...
Tut....
Suara nada sambung dari ponsel Davin, di mana ia tengah menghubungi Darren.
"Selamat pagi Tuan..." Seru Darren dari seberang telpon.
"Darren segera pesan kan aku dua tiket ke kota B..." Titah Davin tanpa basa- basi.
"Baik Tuan.. Saya akan segera mengabari Tuan jam keberangkatan nya. Saya juga akan segera bersiap- siap."
"Kau tidak usah ikut, aku akan pergi dengan Aelin..."
Tut...
Davin memutus sepihak panggilan telpon tersebut, seperti kebiasan nya yang selalu menutup telpon usai mengatakan kepentingan nya.
Ia sudah mengata kan pada Aelin jika ia akan membawa wanita itu menemui ayah nya.
Dan sekarang saat nya Aelin merasa kan arti dari sebuah kehilangan.
Davin menyungging kan smirk iblis nya, ia tidak sabar melihat tangisan Aelin.
Entah manusia seperti apa Davin, kadang ia bersikap lembut saat Aelin terluka namun ia tidak sabar menunggu kehancuran Aelin di mana semua itu atas rencana dan kehendak nya.
"Hanya aku yang berhak memberi mu penderitaan... Memberi mu rasa sakit yang akan mengahncur kan hidup mu... Ini lah takdir mu Aelin menjadi mainan balas dendam ku hingga kau tiada..." Gumam Davin dengan dendam yang kembali menyala.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙