Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Menenangkan diri


__ADS_3

...15😇...


Aelin melangkah kan kaki nya memasuki kamar di depan nya.


Kamar yang begitu luas bahkan lebih luas tiga kali lipat dari ukuran kamar nya.


Kamar yang di baluti dengan cat berwarna creame cerah, di hiasi dengan figura- figura yang tak kalah mahal.


Di tengah- tengah ruangan tentu saja ia bisa melihat, ranjang dengan ukuran over size dengan sprei berwarna senada.


Lalu di sudut ruangan, berdiri dengan indah lampu tidur dengan detail ukiran yang mempesona dan memanja kan setiap mata.


Di sisi kiri nya, ada jendela besar yang langsung terhubung dengan sebuah taman, yang di yakini Aelin itu adalah taman samping rumah.


Indah.


Satu kata itu lah yang pantas untuk kamar secantik dan serapi ini.


Tangan ringkih Aelin mengelus sebuah figura reflika piano kecil yang di letak kan di atas meja nakas.


Figura yang begitu terlihat mirip dengan asli nya.


Jujur.


Jika boleh di kata kan ia sedikit mengangumi kekayaan pria brengsek itu.


Namun yang masih diri nya tidak mengerti, mengapa semua hal menyakit kan itu terjadi pada nya.?


Seperti ada sebuah rencana yang sengaja di tujukan untuk nya.


Apa sebenar nya yang di ingin kan Davin dari nya.?


Mulai dari mendekati ayah nya, lalu merebut mahkota nya, lalu memfitnah diri nya dan akhir nya menikahi diri nya.


Bukan kah semua itu tidak mungkin hanya sebuah kebetulan.


Otak kecil nya tidak selugu itu, jika ia tidak bisa merentet kan kejadian yang memang seperti sengaja di tujukan pada nya.


Rasa penasaran dan dendam Aelin semakin menggebu untuk mengetahui semua motif Davin di balik itu semua.


Tapi, ada sedikit yang membuat nya semakin bingung, yaitu sikap Davin pada diri nya.


Pria itu tak ubah nya seperti seekor rubah licik yang bisa berubah menjadi apa pun.


Dia bersikap begitu manis dan memanggil nya dengan sebutan istri.


Lalu jika semua ini bukan benci, kenapa pria brengsek itu memfitnah nya dengan begitu kejam, padahal di antara mereka, mereka masing- masing tahu apa yang sebenar nya terjadi malam itu.

__ADS_1


Aelin menghembus kan nafas nya kasar, menyingkir kan pikiran detektif nya yang selalu saja membuat kepala nya pening dan sedikit berputar.


Seperti nya, ia harus beristirahat sejenak untuk memulih kan tenaga nya untuk menghadapi derita yang sebenar nya.


Aelin memfokus kan ke dua netra nya pada dua pintu dengan warna yang berbeda.


Namun ia memutus kan untuk masuk ke dalam pintu dengan warna yang paling berbeda dari pintu yang satu nya yang terkesan mirip dengan pintu kamar ini.


Dan ternyata dugaan nya tidak salah, ia masuk dalam ruangan yang benar, yaitu kamar mandi.


Tubuh nya rasa nya saat ini hampir hancur setelah melewati hari yang penuh dengan drama dan luka.


Belum lagi saat ke rumah ini, ia harus berjalan sejauh sepuluh kilometer hingga rasa nya ke dua kaki nya berbaut dan ingin lepas dari tubuh nya.


Aelin menyalakan kran air hangat pada bethub, menuang kan sedikit cairan beraroma terapi yang tentu bisa, setidak nya mengurangi stres dalam pikiran nya.


Aelin membuka baju pengantin yang cukup berat dan susah.


Lalu masuk ke dalam bethub dan menenggelam kan seluruh tubuh nya kecuali kepala nya yang tetap menyembul keluar.


Sensasi hangat yang di salur kan air, memang sangat efektif untuk merilekskan tubuh nya yang sejak kemarin malam terus menengang, menghadapi masalah bertubi- tubi yang menghantam diri nya.


Aroma terapi yang di tawar kan cairan yang ia tuang kan, setidak nya mampu meringan kan beban pikiran nya yang sudah menumpuk menjulang tinggi bak gunung everest.


"Huhhh hari yang begitu panjang.. Namun kini aku setidak nya tahu, jika memang tidak ada yang mengingin kan aku... Tidak ada pilihan lain untuk tidak menuruti permainan pria brengsek itu... Jika aku terus menangis dan meratapi semua nya maka pria bangsat itu akan menjadi pemenang nya... Darah keluarga Dirwantar mengalir dalam tubuh ku, akan ku bukti kan papy jika ketidak percayaan mu pada ku adalah sebuah kesalahan besar. Dan untuk mu Davin Arselion pria tua bangka, jangan remeh kan gadis lemah ini.. " Ujar Aelin dengan ke dua bola mata indah nya yang membesar dan memendam api kebencian yang begitu besar.


Aelin menenggelam kan kepala nya masuk ke dalam bethub, menikmati setiap sensasi hangat di seluruh tubuh nya.


...----------------...


Namun kali ini semua nya telah berbeda. Kali ini ia duduk di kursi yang biasa Aelin duduki saat menyantap hidangan malam.


Tawa renyah Aelin dan lemparan guyonan jenaka masih Mr. Arkelin rasa kan dalam ruangan ini.


Sepi.


Senyap.


Hening.


Itu lah kondisi yang menimpa diri nya. Setiap malam yang akan berlalu kini ia harus lewati sendiri.


Baru beberapa jam Aelin pergi dari rumah ini, serasa kebahagian nya di bawa oleh putri kecil nya itu.


Mr. Arkelin menelan saliva nya paksa, pandangan nya lagi- lagi berembun.


Ia beranjak dari duduk nya , meninggal kan hidangan makan malam yang sudah di siap kan para pelayan untuk nya.

__ADS_1


Kaki nya yang sudah semakin tua, beranjak melangkah menuju kamar tidur nya.


Malam ini rasa nya ia tidak memiliki selera untuk makan atau mengisi perut.


Ternyata benar, jika bersedih dan suasana hati tidak baik makan selera makan pun ikut menurun.


Mr. Arkelin mengedar kan pandangan nya , saat ia sudah sampai di kamar nya sendiri.


Netra penglihatan nya jatuh pada satu titik di salah satu sisi dalam kamar nya , yaitu sebuah pintu dengan ukiran - ukiran indah.


Mr. Arkelin memutar knok pintu dan masuk dalam ruangan tersebut yang langsung membuat air mata nya jatuh seketika.


Pasal nya kini, ia tengah berada dalam ruangan kenangan mendiang sang istri yang sangat di cintai nya. Mendiang almarhum ibu Aelin.


Mr. Arkelin sengaja membuat ruangan ini untuk mengobati rindu pada belahan jiwa nya yang telah lama mendahului diri nya bertemu sang pencipta.


Ke dua langkah kaki nya kembali bergerak menuju sebuah dinding uang di tutupi tirai berwarna merah terang.


Dengan satu kali gerakan, Mr. Arkelin menyibak tirai pada dinding tersebut.


Tampak terlihat sebuah lukisan besar seorang wanita yang tengah tersenyum. Dengan tangan menggendong seorang bayi dengan hangat.


Wanita yang begitu cantik, dengan mata biru terang persis seperti mata sang putri Aelin.


Mr. Arkelin menatap rindu lukisan di depan nya, menjalani hidup tanpa istri seperti menjalani hidup kosong tak terarah.


Namun semua nya bisa ia atasi karna Aelin yang menjadi alasan semangat hidup nya.


...----------------...


...****************...


Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2