Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Cuci piring haram mu!


__ADS_3

...86😻...


Byur......


Seember air dingin, mengguyur tubuh Aelin yang sedang tertidur.


Membuat mimpi indah Aelin benar- benar hancur karna di guyur air.


Kelopak mata Aelin yang tidur dengan damai, langsung terbuka dengan cepat.


Di mana ia juga kaget dengan air yang entah dari mana.


Aelin mengusap wajah nya, menghilang kan sisa- sisa air.


"Air.?" Lengkuh Aelin di mana tubuh nya yang hangat, kini merasa kedinginan.


"Hay.. Tuan putri akhir nya kamu bangun juga...!" Sarkas suara nenek lampir yang menghantam indra pendengaran Aelin.


Aelin langsung memutar kepala nya, di mana kini Nyonya Tissa berdiri di depan nya sambil membawa ember, yang pasti nya itu adalah wadah air yang kini berpindah tempat ke tubuh nya.


"Ma.. Mama apa---"


"Kamu pikir ini rumah papy mu, sehingga kamu bisa tidur dengan nyaman. Setelah berselingkuh dan bermesraan dengan pria lain... Tidak..!!!" Sosor Nyonya Tissa dengan nada bicara membentak Aelin dengan menggebu- gebu.


Di mana ucapan Aelin terpotong begitu saja, dengan suara nya yang sudah seperti drum yang di pukul asal.


"Kau sekarang berada di rumah ku... Jadi kau tidak bisa seenak nya... Kau seharus nya menjadi menantu yang baik dengan mengurus rumah ini bukan malah bermalas- malasan..." Lanjut Nyonya Tissa dengan omelan nya yang sudah mirip dengan ibu kos yang sedang menagih uang kos pada gadis penyewa.


Nyonya Tissa langsung meraih tangan Aelin, menyeret tubuh Aelin yang bahkan belum sadar seutuh nya, di mana nyawa nya belum berkumpul semua karna di bangun kan dengan paksa.


Nyonya Tissa langsung menghempas kan tubuh Aelin keluar dari kamar, sehingga tubuh kurus Aelin sempat terjungkal namun berhasil di stabil kan.


"Henti kan ma.. Sebenar nya ini ada apa?" Tanya Aelin yang masih merasa pusing karna tidur nyaman nya yang terganggu.


"Setelah kau mengundang selingkuhan mu.. Dan mengajak nya makan di rumah ini, kamu pikir siapa yang akan mencuci piring menjijik kan bekas kalian... Dan kau malah enak- enak kan tidur di kamar mu.. "


Aelin semakin pusing mendengar ocehan dan bentakan sang ibu mertua, yang ternyata ia sampai di guyur seperti ini hanya karna persoalan cuci piring.


Oh ayo lah. Di rumah ini ada ratusan pelayan.


Pekik Aelin yang benar- benar kesal karna tingkah sang ibu mertua yang seperti nya sedang mencari gara- gara pada nya.

__ADS_1


"Ma.. Di sini ada banyak pelayan... Kenapa tidak meminta mereka melakukan hal itu.." Balas Aelin dengan nada biasa saja.


Nyonya Tissa semakin menggeram kesal, karna Aelin terus saja membantah perintah nya.


"Aku sudah memecat setengah pelayan di rumah ini.. Dan tugas mereka mulai saat ini kau juga yang akan mengerja kan... Aku tidak mau menampung gadis kecil yang sok mengata kan jika diri nya adalah menantu di sini , sementara kamu tidak bisa mengurus rumah ini... Jadi sekarang pergi ke dapur dan cuci piring haram mu itu...!" Bentak Nyonya Tissa dengan kemarahan yang sudah sampai ke ubun- ubun. Di mana ke dua mata nya melotot seram pada Aelin.


"Kenapa nasib ku seperti bawang putih... Di siksa oleh ibu tiri.. Beda nya aku di siksa oleh mertua yang sudah seperti nenek lampir... Hah.. Dari pada terus berdebat, lebih baik aku melakukan apa yang ia mau.." Dumel Aelin dalam hati, meski ia sebenar nya tidak terima denga apa yang di lakukan Nyonya Tissa.


Namun kembali lagi dengan tekad nya, jika ia ingin ibu mertua nya menerima nya. Maka ia harus menjadi menantu yang penurut.


Meski ibu mertua yang di hadapi nya seperti kalajengking beracun, yang terus membuat hari- hari nya tersiksa.


Namun ia harus sabar menghadapi semua ini. Bukan kah kesabaran akan berbuah manis pada akhir nya.?


Mungkin suatu hari nanti , Mama mertua nya akan menerima diri nya dan menyayangi diri nya. Sama seperti putri sendiri.


"Baik lah.. Aku akan mencuci piring seperti yang mama ingin kan.. Tapi aku harus ganti baju dulu..." Seru Aelin melangkah kembali menuju kamar nya.


Namun baru hanya dua langkah , tubuh Aelin kembali terseret ke belakang.


"Apa kau tuli? aku bilang sekarang.. Itu arti nya kau harus mengerja kan nya sekarang..." Sinis Nyonya Tissa dengan tatapan penuh benci kepada Aelin.


Lalu menghentak kan tubuh Aelin. Di mana Aelin hanya bisa menerima perlakuan buruk sang mertua dengan lapang dada.


Jadi sekarang ia tidak tahu, di mana letak dapur.


Aelin terus melangkah kan ke dua kaki nya, di mana netra nya terus mencari dapur.


Aelin mengusap bahu nya sendiri, karna tubuh nya terasa dingin sebab pakaian nya yang basah, belum lagi setiap ruangan di rumah ini ber- ac. Membuat tubuh Aelin semakin menggigil.


Namun jika ia nekat kembali ke kamar nya untuk mengganti baju. Pasti mertua nenek lampir nya akan marah kepada nya.


Di mana hal itu akan membuat hati nya sakit.


"Haduhh.. Ni rumah dapur nya di mana lagi? udah kayak jalan- jalan di hotel aja ngak ketemu- ketemu dapur nya..." Gumam Aelin dengan mengedar kan pandangan nya.


"Nona anda di sini...?"


Tubuh Aelin langsung meloncat kaget, saat suara Maya tiba- tiba terdengar oleh gendang telinga nya.


"Kau bisa tidak.. Muncul ucap salam dulu.. Untung jantung ku masih kuat.." Kesal Aelin karna Maya yang tiba- tiba muncul dan membuat diri nya terkejut.

__ADS_1


"Maaf Nona.. Tapi kenapa Nona bisa di sini, lalu pakaian anda basah.?"


"Ini ulah mak lampir.. Eh maksud ku mama.." Ralat Aelin dengan ucapan nya.


"Di mana dapur rumah ini...?" Lanjut Aelin menanya kan letak dapur yang sudah membuat nya pusing.


"Tapi untuk---"


"Ck.. Udah Maya.. Kamu tinggal anter aku aja ke dapur.. Ngak usah pake tapi- tapi.." Potong Aelin.


"Baik lah Nona.. Mari ikut saya..." Seru Maya yang langsung berjalan di depan Aelin, menggiring langkah Aelin menuju sebuah ruangan yang terletak di area belakang.


Di mana mata Aelin langsung berbinar, saat melihat dapur yang begitu luas dengan peralatan masak yang benar- benar lengkap.


Pelayan yang sedang berada di dapur, langsung membungkuk kan tubuh nya hormat saat melihat Aelin masuk.


Aelin mengulas senyum kepada semua pelayan, yang kini melontar kan tatapan terkesan aneh kepada nya.


Aelin terus melangkah kah kaki nya menuju wastafel dengan beberapa tumpukan piring.


Sementara Maya terus mengikuti kemana langkah Aelin, dengan dahi berkerut bingung.


Sebenar nya apa yang akan di lakukan nona nya?.


...----------------...


...****************...


Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2