Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Satu Asupan nutrisi lagi


__ADS_3

...196...


Davin menghirup udara dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk dialirkan ke dalam paru-paru. Lalu meraih wajah Aelin dan menangkup wajah Aelin yang sedikit terlihat pucat.


"Dengarkan aku Ae." Davin menarik wajah Aelin lebih dekat pada wajahnya. Di mana tatapan antara keduanya kini beradu satu sama lain. Menatap jauh ke dalam bola mata masing-masing, mencari Muara kejujuran dan menepis semua rasa gundah yang bersarang di hati mereka.


Davin menempelkan keningnya di kening Aelin. Sehingga, hidung keduanya juga saling menempel karena wajah mereka tidak berjarak sedikitpun. Aelin memejamkan kedua matanya, merasakan sapuan nafas Davin yang bearoma mint menusuk hidungnya.


"Aku hanya ingin menjalani hidup bersamamu. Di hatiku hanya ada kamu, setiap detakan jantungku selalu menyebutkan namamu. Setiap hembusan nafasku juga memanggil namamu. Seluruh hidupku hanya tentang dirimu. Yah, aku tahu jika aku adalah pria yang sudah menghancurkan hidupmu. Seharusnya saat ini kamu sedang menikmati impianmu di usia muda. Namun, aku dengan egoisnya merampas kebahagianmu. Seharusnya, saat ini kamu tidak terjebak menjadi istriku, seharusnya saat ini kamu bersama pria yang--"


"Sssttt, hentikan." Aelin meletakkan jari telunjukkan di bibir tebal Davin. Menghentikan ucapan Davin yang baginya tidak pantas dikatakan oleh pria di depannya. Awalnya hubungan mereka memang sangat menyakitkan. Akan tetapi, kini semuanya telah berubah. Ia menerima Davin dengan semua masa lalunya. Berdamai dengan keadaan dan melupakan malam kelam itu dan menggantinya dengan cinta.


"Jangan pernah mengungkit masa lalu. Itu sama saja kamu mengungkit luka. Aku tahu kamu sangat mencintaiku, dan aku bersikap seperti ini karena terlalu takut kehilanganmu Dav. Kamu tahu, aku hanya sendiri di dunia ini, aku tidak memiliki siapapun selain dirimu. Jadi, aku mohon jangan menyakitiku lagi karena aku pasti akan hancur."


Maafkan aku Ae, aku adalah pria yang sudah menghancurkan hidupmu. Aku ingin sekali mengatakan semuanya padamu. Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Aku takut kamu tidak akan memaafkanku, aku memang pria paling brengsek. Batin Davin memendam rasa pedih di hatinya. Niat ingin mengatakan semua kebenaran pada Aelin, ia urungkan karena situasi yang tidak memungkinkan, dan juga Aelin yang masih curiga. Ia sama sekali tidak ingin kehilangan Aelin.


Buliran bening meluncur dengan bebas dari sudut mata Davin. Air mata yang tidak bisa ia bendung karena rasa menyesal dan bersalah yang kini semakin besar dan tumbuh begitu subur.


Air mata Davin yang mengalir mengenai wajah Aelin, sontak hal itu membuat Aelin membuka kelopak matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Davin menangis di depannya. Terlihat di mata suaminya itu rasa perih dan penuh kesedihan. Hal itu mampu membuat hati Aelin turut merasa sedih.


Aelin mengangkat tangannya menghapus lembut air mata Davin dengan penuh cinta. Aelin mengalungkan kedua tangannya di leher Davin. Lalu, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. Hingga akhirnya bibir mereka menyatu dan menempel dengan sempurna. Davin memperdalam ciumannya pada bibir kenyal yang selalu membuat dirinya candu.


Begitupula Aelin yang juga membalas ciuman Davin. Keduanya saling berbagi rasa, membagi rasa gundah dan kejenuhan atas semua masalah yang datang. Saling menguatkan dan saling mendekap untuk saling menguatkan jika semuanya akan segera berakhir.


Dari sela pintu, air mata mengalir dengan begitu deras dari mata Syaila. Yah, ia tidak benar-benar pergi dari kantor Davin. Ia menguping pembicaraan antara Davin dan Aelin karena penasaran dengan pembicaraan keduanya. Berharap Davin dan Aelin akan bertengkar hebat tapi keduanya malah bermesraan di depan matanya.


Rahang Syaila mengetat, dengan gigi-giginya yang saling bergesekan satu sama lain. Dada Syaila terlihat turun naik tidak beraturan dengan nafas yang ditarik berat.


Syaila menggengam erat gagang pintu, hingga tangannya memutih dengan sempurna. Melampiaskan amarah dan rasa tidak terima melihat pemandangan yang begitu sangat menyakitkan.


Tinggal beberapa jam lagi, semuanya akan berakhir. Davin akan kembali padaku karena dia milikku bukan Aelin, batin Syaila.


"Nona, tanganmu bisa patah jika terus mencengkram gagang pintu dengan erat!" tegur sekertaris Davin pada Syaila.

__ADS_1


Syaila memalingkan wajahnya ke arah samping, menghapus air matanya dengan cepat dan mengontrol amarah yang sedang meledak-ledak di dalam dirinya. Ia berbalik menatap sang sekertaris dengan wajah tersenyum.


"Aku hanya mengecek apa gagang pintunya terbuat dari besi atau hanya sekedar plastik tiruan," balas Syaila asal, lalu segera melenggang pergi meninggalkan sang sekertaris yang menatap kepergiannya dengan tatapan aneh.


"Mengecek gagang pintu? Besi atau plastik? Tentu saja ini besi," gumam sang sekertaris dengan mencebikkan bibirnya. Namun, tatapannya langsung melebar dengan kedua mata yang melebar dengan sempurna, saat melihat pemandangan yang merusak mata dari celah pintu yang terbuka.


"Astaga, kenapa Tuan tidak tahu tempat malah bermesraan di kantor." Sekertaris tersebut menarik pelan pintu ruangan Davin dengan perlahan hingga tertutup. Lalu segera pergi ke mejanya dengan bulu roma yang berdiri tegak.


...----------------...


Aelin menatap Davin sekilas, lalu beranjak meraih tas selempangnya.


"Dav, aku pulang dulu. Lanjutkan pekerjaanmu, jika kamu lembur kabari aku!" titah Aelin mutlak tanpa penolakan.


"Iya, sayang, tapi biarkan aku mengantarmu." Davin segera beranjak dari duduknya. Namun, tubuhnya segera di dorong oleh Aelin. Sehingga ia kembali jatuh terduduk di posisi semula.


"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri. Selesaikan pekerjaanmu dan cepatlah pulang. Kamu tahu, aku tidak bisa jauh-jauh darimu."


"Oh ya, aku lupa." Aelin kembali berbalik menghadap Davin.


"Apa?"


"Satu hari lagi adalah hari ulang tahunmu."


"Astaga, kamu ingat?" Bibir Davin terbuka tidak percaya.


"Tentu saja karena hari itu aku akan memberikanmu sebuah kejutan yang sangat besar."


"Kejutan apa?" Kening Davin berkerut penasaran. Kira-kira kejutan besar apa yang disiapkan oleh Aelin? Akan tetapi, satu hal yang pasti ia sangat menunggu kejutan tersebut.


"Jika aku katakan sekarang maka itu tidak akan menjadi kejutan," balas Aelin dengan tawa ringan di sela-sela perkataannya.


"Oh, kamu mulai main rahasia-rahasian denganku."

__ADS_1


"Hah, ini tidak akan menjadi rahasia lagi saat kamu mengetahuinya. Aku yakin, kamu akan senang dengan kejutanku."


"Aku tidak sabar menantikannya."


"Hhmm, jika aku terus ngobrol denganmu. Kapan aku sampai rumah. Baiklah, aku pulang." Aelin segera melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan Davin.


Namun, baru beberapa langkah, kedua kakinya berhenti karena Davin mencekal tanganya. Davin mendekat ke arah Aelin dan memeluk pinggang ramping Aelin yang terasa melebar. Lalu, menariknya hingga menempel di tubuhnya.


"Dav, lepaskan aku, yang tadi sudah cukup," ucap Aelin dengan terkekeh ringan sembari mendorong dada Davin.


"Satu asupan nutrisi lagi, maka aku akan melepaskanmu," goda Davin dengan menggesekkan hidungnya di pipi Aelin, yang membuat Aelin memejamkan matanya merasakan sensasi geli dari brewok tipis Davin.


Aelin tersenyum miring, lalu mendorong tubuh Davin dengan keras saat pelukan Davin mengendur. Sehingga tubuh Davin mundur dua langkah dan Aelin terlepas dari kurungan Davin.


"Yang tadi sudah cukup!" seru Aelin dengan mengedipkan sebelah matanya dan segera berlari keluar ruangan Davin.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


koment


gift


vote


tips


othor maksa nih

__ADS_1


__ADS_2