Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Dia tetap memanggil ku


__ADS_3

...73😻...


"Kau tidak sendiri Aelin, masih ada aku... Aku akan selalu ada untuk mu... Di dunia ini kau masih memiliki ku... Jangan takut dengan dunia ini karna kau masih memiliki suami mu..." Ujar Davin dengan begitu serius, tanpa ia sadari ia memberikan janji yang tak mungkin ia tetapi.


Aelin menatap wajah tampan Davin, wajah yang terlihat serius, di mana ke dua mata Davin memancar kan sebuah sinar harapan untuk Aelin.


Dalam bola mata tajam Davin, Aelin menemukan sebuah sandaran, dan kejujuran di mana hati nya sedikit tenang mendengar ucapan keramat yang terlontar dari bibir Davin.


Terdengar begitu nyata dengan tekad yang kuat.


Bibir merah ranum Aelin bergetar, di mana lidah nya kelu.


Ia sudah hancur, seakan hidup nya seolah menjadi butiran debu yang di terbang kan oleh angin takdir.


Raga nya mungkin masih berpijak di bumi, namun nyawa nya terbang bersama kematian sang papy.


Dalam hitungan hari, semua nya menghilang dari hidup nya.


Sang ayah yang menjadi secercah harapan dalam hidup nya, kini telah pergi meninggal kan diri nya untuk selama nya.


Lalu rasa benci dan amarah yang membuat nya hidup dalam lingkaran takdir hitam, kini mulai pudar dengan sebuah rasa aneh yang menyeruak masuk ke dalam hati nya.


Semua nya hilang begitu saja.


Namun saat indra pendengaran nya mendengar ucapan Davin, di mana ia masih memiliki pria tersebut sebagai suami nya, serasa dunia nya di bangun kembali dengan kata- kata Davin.


Hati Aelin bergetar dengan hebat, di mana tekad dan harapan kembali terbangun.


Ia merasa tidak sendiri, saat Davin memeluk tubuh nya.


Seakan ia melihat Davin seperti raja yang berkuasa yang akan melindungi diri nya.


Dan bodoh nya ia percaya dengan apa yang di kata kan Davin.


...----------------...


Aelin menyerah kan semua urusan sang ayah yang di urus oleh Davin.


Mulai dari administrasi hingga ke pemakaman.


Kini Aelin tengah duduk di kantin rumah sakit, dengan secangkir kopi di hadapan nya.


Air mata nya tak lagi mengalir, karna mungkin sudah kering.


Namun hati nya tetap bersedih, dan hancur. Dan semua nya butuh waktu untuk mengikhlas kan mereka yang memilih pergi.

__ADS_1


Tatapan Aelin terlihat kosong, bahkan aura semangat hidup pun tak nampak.


Yang terlihat dari diri Aelin hanya kekosongan dengan duka dan kehancuran.


Tampak tak jauh dari Aelin, Antonio menatap sendu ke arah Aelin.


Seolah ia mengerti bagaimana kesedihan dan penderitaan gadis pujaan nya.


Melihat penderitaan Aelin, membuat Antonio semakin bertekad untuk segera menyelidiki kasus kecelakaan itu , dengan harapan Aelin tidak bersalah. Maka ia pasti akan merebut Aelin, dan membebas kan nya dari iblis seperti Davin.


Ia akan membawa Aelin pergi dan akan membuat Aelin bahagia hidup bersama nya.


Antonio melangkah kan kaki nya, mendekat ke arah Aelin, namun tiba - tiba bahu nya di tahan oleh sebuah tangan kekar yang langsung menghentikan langkah Antonio.


Antonio membalik kan tubuh nya, di mana kini Davin sudah menatap nya dengan tatapan membunuh.


Antonio langsung menepis kasar tangan Davin, bahkan ia menatap tak kalah tajam ke arah Davin.


Bahkan tatapan ke dua nya terlihat mengeluar kan guratan petir.


Davin mendekat ke arah Antonio, di mana tatapan nya semakin menghunus tajam.


"Aku peringat kan pada mu Antonio, jauhi Aelin..." Seru Davin dengan penekanan di setiap perkataan nya.


Dahi Antonio mengerjit mendengar larangan macam apa yang di ucap Davin.


Ia tidak akan pernah melakukan itu.


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mendekati Aelin ?" Pancing Antonio tak kalah menatap Davin dengan tajam, yang berhasil membuat Davin sedikit kesal.


"Karna dia adalah istri ku... Jadi menjauh dari nya..." Ke dua mata Davin menyipit, menampil kan aura mengancam yang membuat atmosfer di sekitar Antonio menjadi berat.


"Ha.. He.. he..." Antonio terkekeh mendengar jawaban konyol Davin.


Istri?


Istri apa yang di maksud kakak ipar nya ?


Kenapa ia menjadi agresif seperti ini pada Aelin ?


Bukan kah dia sangat membenci gadis itu?


Beberapa pertanyaan mulai muncul di kepala Antonio , karna ia merasa janggal dengan sikap Davin.


Yang menurut nya benar- benar seperti bunglon, tidak terlihat dan tidak tertebak.

__ADS_1


Di satu sisi ia melihat bagaimana kebencian dan hasrat balas dendam Davin pada Aelin, namun di sisi lain nya ia juga melihat rasa yang berbeda yang di tunjuk kan Davin , seolah Davin begitu melindungi Aelin.


"Istri siri maksud mu?.. Jangan sok bertingkah seperti suami yang baik Davin... Ingat tujuan utama mu, hanya balas dendam.. Kau tahu aku pikir diri mu terjebak dalam permainan mu sendiri, bahkan sekarang aku mengira jika sebenar nya kamu sudah menyukai Aelin...." Balas Antonio dengan pahit, mengingat kan tujuan Davin menikahi Aelin yang sebelum nya sempat Davin lupa kan karna terhanyut dengan kesedihan dan rasa yang ingin meledak dalam diri nya.


Antonio mendekat kan wajah nya, tepat di telinga Davin.


"Ingat kau sudah memiliki kakak ku Syaila.. Jadi jangan pernah bermain api dengan wanita lain... Untuk Aelin kau tidak akan pernah bisa memiliki nya..." Bisik Antonio dengan seringgai nya. Lalu menjauh kan wajah nya dari telinga Davin, dan menatap aksi diam Davin yang pasti nya tertampar dengan apa yang ia kata kan.


"Kak Antonio...!" Panggil suara parau namun cukup manis, yang berhasil menghancur kan ketegangan di antara Davin dan Antonio.


Antonio menoleh ke arah sumber suara, di mana Aelin melambai kan tangan nya ke arah mereka.


"Lihat dia melihat diri mu.. Tapi tetap memanggil ku... Itu sudah cukup jelas bukan kakak ipar..." Ucap Antonio menambah bensin dalam api kekesalan Davin. Lalu melangkah dengan pasti menuju ke arah Aelin.


"Apa yang terjadi pada ku.?. Kenapa aku bisa terbawa suasana seperti ini.. Benar yang di kata kan bocah itu, jika aku sudah memiliki Syaila... Aku hanya mencintai Syaila dan apa yang aku lakukan dengan Aelin tidak salah... Aku hanya ingin membalas dendam dan menghancur kan hidup nya. Dan untuk itu aku harus bisa merebut hati Aelin..." Batin Davin, mensugesti diri nya jika apa yang di rasa kan dan ia lakukan hanya untuk memperlancar rencana.


Meski jauh di lubuk hati nya, ada rasa berbeda yang terselip untuk Aelin, namun Davin tidak tahu itu. Dan hanya menganggap nya rasa benci.


Davin segera bergegas menyusul Antonio.


"Kak Antoni terlihat sangat akrab dengan om Davin?" Tanya Aelin dengan tatapan menyelidik karna sedikit curiga dengan aura bermusuhan yang di tunjuk kan oleh ke dua pria itu. Seakan mereka berdua memang sudah saling mengenal.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2