
...122💚...
Klek...
Aelin membuka pintu kamar di depan Davin, lalu mendorong kursi roda Davin masuk ke dalam kamar.
"Maaf jika aku tidak sempat meminta izin pada mu untuk memindah kan kamar mu sementara ke kamar ini... Karna menurut ku pasti akan sangat sulit jika kamar mu berada di atas. Apa lagi sekarang maaf kamu belum bisa berjalan...." Seru Aelin meminta maaf pada Davin.
Ia merasa tidak enak karna asal main memindah kan kamar Davin.
Tapi tenang saja ini hanya bersifat sementara tidak permanen.
Setelah Davin sembuh dan bisa berjalan lagi, tentu saja dia mau pindah lagi ke kamar nya itu bukan masalah untuk Aelin.
Namun sekarang menempat kan Davin di kamar bawah, lebih baik dan memudah kan aktivitas Davin.
Davin mengedar kan pandangan nya, menelisik setiap sudut ruangan yang tengah di pijak nya.
Di mana sebuah kasur king size berada di tengah- tengah ruangan di mana ke dua sisi ranjang terdapat dua buah lampu tidur yang berdiri di atas dua buah meja nakas.
Lalu di sebelah kanan tempat tidur ada lemari besar. Lalu di samping lemari itu ada Sofa panjang yang biasa di guna kan untuk bersantai.
Sementara di sebelah kiri kasur tepat nya di dekat jendela ada sebuah ayunan bundar yang pasti nya sangat nyaman jika di guna kan untuk membaca buku sembari melihat pemandangan taman di luar jendela.
Lalu tepat di dinding depan ranjang tidur, tertempel dengan kokoh layar televisi.
Ke dua netra Davin terhenti pada meja yang ada di samping televisi.
Di mana sebuah bingkai dengan foto wajah nya di pajang di samping vas bunga tulip yang terlihat masih segar.
"Apa kamu memetik bunga itu pagi tadi?" Tanya Davin melirik menatap Aelin.
"Apa kamu tidak suka bunga itu ?. Tenang saja aku akan menyingkir kan nya..." Jawab Aelin yang langsung melangkah hendak menyingkir kan bunga tulip yang sengaja ia pasang di kamar Davin.
Namun langkah kaki nya langsung terhenti , saat tangan nya di tarik.
Aelin menatap pergelangan tangan nya, di mana terlihat tangan kekar Davin mencengkram lembut pergelangan tangan nya.
"Apa kamu suka dengan bunga tulip?" Tanya Davin menatap Aelin lekat.
Aelin tersenyum, ia bisa menebak tatapan tidak enak Davin pada diri nya.
"Iya aku sangat menyukai bungan tulip putih.. Tapi tidak papa aku akan segera memindah kan nya ke kamar ku..."
"Jangan...!" Sergap Davin cepat. Aelin mengerjit.
"Biar kan saja di sana.. Jika kamu menyukai nya aku pasti juga menyukai nya.. Karna aku menyukai mu Aelin Dirwantar..."
Aelin terkekeh mendengar ucapan Davin yang terdengar seperti gombalan.
Sangat menggelikan namun sungguh sangat manis.
"Dasar gombal... ha.. ha.." Umpat Aelin dengan tertawa ringan.
"Hei aku tidak gombal aku serius..." Sebal Davin melihat Aelin tertawa.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak sedang menggonbali Aelin.
Ia serius mengata kan jika ia menyukai Aelin.
Apa wajah nya terlihat tidak serius ketika mengata kan itu semua?
"Oke.. Oke.. Sekarang om.. Eh maksud ku eee.. Kamu harus segera istirahat. Pasti kau sangat lelah karna perjalanan pulang..." Kilah Aelin yang langsung mendorong kursi roda Davin mendekat ke arah tepi ranjang.
"Hei aku benar- benar sedang tidak menggombali mu..." Celoteh Davin.
Aelin tidak menggubris celotehan Davin. Ia memapah tubuh Davin untuk bangun dan di pindah kan ke atas ranjang.
Davin mendengus melihat sikap Aelin yang masih mengira diri nya sedang menggombal.
Davin hanya pasrah saat tubuh nya sudah di atas ranjang.
Aelin yang membantu Davin di mana bobot tubuh nya jauh lebih berat dari diri nya, membuat keseimbangan tubuh nya tidak seimbang.
Bruk...
Hingha tubuh Aelin terhuyung menimpa tubuh Davin yang kini berada di bawah dan diri nya berada tepat di atas tubuh Davin.
Deg...
Deg..
Deg..
Deru jantung Aelin dan Davin berdetak dengan sangat cepat.
Di mana kini jarak antara Aelin dan Davin sangat dekat bahkan bisa di bilang tidak ada jarak di antara mereka.
Mereka sangat dekat, bahkan tubuh mereka menyatu. Hanya wajah mereka yang terhalang jarak satu centimeter.
Bahkan ke dua nya bisa merasa kan hembusan nafas satu sama lain nya.
Dentuman detak jantung satu sama lain nya pun dapat mereka dengar.
"Sssshhhh...." Ringgis Davin saat kaki nya yang terluka tidak sengaja di tekan oleh kaki Aelin.
Membuat kaki nya terasa sakit dan nyeri.
Mendengar ringgisan kesakitan Davin, Aelin segera menarik tubuh nya dari atas tubuh Davin.
Peluh keringat terlihat terbentuk di pelipis Aelin.
Sungguh ia gugup dan salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi.
Bahkan wajah nya terasa memanas, sudah Aelin pasti kan jika kini wajah nya pasti memerah.
Dengan cepat Aelin membuang wajah nya, Agar tidak di lihat oleh Davin.
"Ma- maaf aku tidak sengaja..." Cicit Aelin dengan terbata- bata.
"Ssshhhh kamu benar - benar tega pada ku.. Kamu menginjak kaki ku yang tidak berdaya..." Ucap Davin dengan membuat suara nya terdengar sedih.
__ADS_1
Sebenar nya ia juga sama gugup dan salah tingkah nya seperti Aelin.
Bahkan jantung nya masih berdebar dengan sangat cepat.
"Maaf kan aku Om.. Aku benar- benar tidak sengaja... Coba aku lihat kaki mu..." Aelin segera berjongkok melihat kaki Davin yang memakai gift.
Tapi tidak ada yang aneh dengan kaki Davin. Semua nya masih sama.
Tapi kan diri nya bukan dokter, jadi ia tidak tahu menahu soal masalah ini.
" Tenang lah om.. Aku akan memanggil Dokter Nashila untul memeriksa kaki mu..." Ucap Aelin yang tidak ingin sesuatu terjadi pada kaki Davin.
Mendengar hal itu, Davin segera menduduk kan diri nya dengan cepat.
"Tidak perlu.." Cegah Davin.
"Tidak perlu kaki ku hanya sedikit terbentur oleh kaki mu tadi... Jadi sekarang tidak apa- apa..." Lanjut Davin.
"Maaf kan aku.. Aku benar- benar tidak sengaja.." Ujar Aelin memasang wajah bersalah nya.
"Aku akan memaaf kan mu jika kamu berhenti memanggil ku om.. Panggil aku sayang.. Jika tidak aku tidak akan mau lagi berbicara dengan mu.. Lagi pula kamu sudah menyakiti kaki ku jadi tidak ada penolakan..."
"Sekarang kamu tidak akan pernah bisa menolak lagi..." Batin Davin dengan senyum penuh kemenangan.
Aelin menghela nafas nya. Ternyata Davin masih tidak mau melepas kan diri nya.
Ia tidak memiliki alasan lagi untuk mengelak.
Bahkan tidak akan ada lagi yang akan membantu diri nya sekarang.
"Baik lah Aelin kamu sudah tidak bisa kabur lagi..." dengus Aelin dalam hati.
"Ayo...!" Desak Davin.
"Saa-- Sa... ck.. Sa--"
"Terus terus..." Pacu Davin.
"Sa.. hhh sayang..."
Davin tersenyum lebar. Akhir nya ia mendengar apa yang ia ingin kan dari bibir kecil Aelin.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙