Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Benar- benar takut.


__ADS_3

...91๐Ÿ’›...


"Nona berhenti...!" Sergap Maya, yang langsung menghenti kan langkah Aelin.


Aelin memutar tubuh nya dengan cepat ke arah Maya.


"Apa lagi? aku tidak punya waktu.. Om Davin pasti sangat membutuh kan aku..!" Sebal Aelin yang harus berhenti karna panggilan Maya.


"Kaki anda berdarah Nona...!" Ucap Maya dengan wajah ngeri, melihat kaki Aelin yang berdarah karna menginjak beling piring.


Pasti sangat sakit.


Aelin menurun kan pandangan nya, melihat ke arah kaki nya sendiri.


Dan ternyata benar apa yang di kata kan Maya barusan, kaki nya berdarah karna terkena beling- beling piring yang pecah.


Sungguh diri nya tidak menyadari bahkan tidak merasa kan sakit dengan luka yang ada di telapak kaki nya, meski dapat ia lihat lantai yang di pijak pun berwarna merah.


Hati nya yang di remas kuat oleh kabar buruk jauh lebih menyakit kan hingga ia tak merasa kan luka yang di gores kan oleh pecahan piring tersebut.


"Biar kan saja.. Aku tidak punya waktu untuk mengobati kaki ku.. Aku harus pergi sekarang.. Tolong temani mama..!" Seru Aelin dengan mantap, lalu kembali melangkah kan kaki nya meninggal kan Maya dan semua orang yang masih menatap nya dengan tatapan tidak percaya.


Aelin sama sekali tidak memperdulikan luka di kaki nya, dia memilih untuk segera menyusul pergi ke rumah sakit.


Semua hati terasa terenyuh dengan apa yang di lakukan Aelin. Terutama Maya yang tahu tujuan Aelin di bawa ke rumah ini untuk pelampiasan balas dendam tuan nya.


Namun semakin ke sini, alur yang di cipta kan oleh tuan nya sedikit melenceng.


Ada sesuatu yang mengganjal , melihat sikap majikan nya dan Aelin. Ketika bertemu sang majikan bersandiwara dengan begitu apik, lalu sekarang Aelin rela membiar kan luka di kaki nya tetap terbuka hanya untuk segera menyusul Davin.


Semua terlihat semu dan membingung kan.


"Beres kan pecahan beling- beling ini...!" Titah Maya di tengah- tengah suasana yang cukup mencekam dan hening.


Semua pelayan mulai bergerak kembali pada posisi pekerjaan mereka masing- masing. Meski jujur mereka sedikit khawatir dengan apa yang sedang terjadi.


Semua nya tahu jika Aelin hanya lah seorang gadis yang di bawa oleh majikan nya, meminta mulut mereka semua untuk bungkam di hadapan gadis itu.


Tidak ada yang boleh mengata kan apa yang sebenar nya pada Aelin, termasuk tentang istri Davin.

__ADS_1


Namun mereka hanya lah seorang pelayan yang menggantung kan hidup nya di rumah besar ini.


Mereka hanya bisa patuh pada perintah majikan nya, meski kini mereka semua merasa iba dengan Aelin.


Bahkan gadis belia itu tidak memperduli kan luka di kaki nya, yang pasti nya akan sangat sakit. Namun dia masih berlari dengan kencang, seakan luka itu tidak ada di telapak kaki nya.


Begitu lah, pikiran para pelayan yang sedang membersih kan lantai dan serpihan beling.


Sementara Nyonya Tissa langsung melangkah kembali ke kamar nya.


Aelin menghampiri seorang penjaga yang ada di bagasi mobil, terlihat ada dua buah mobil yang terparkir dengan rapi di bagasi tersebut.


"Heiii Kau.. Huhhh..." Ujar Aelin memanggil sang penjaga di mana nafas nya yang menderu tidak stabil.


"Iya nona..." Jawab sang penjaga dengan tubuh kekar dan wajah datar, lebih datar dari tembok.


"Bisa kah kau mengantar ku ke rumah sakit Zilion dengan mobil itu.." Ucap Aelin to the point. Ia tidak punya waktu untuk berbasa- basi. Ia sudah sangat khawatir dan cemas dengan Davin.


Sang penjaga mengerut kan dahi nya dalam , lalu melirik ke arah mana tangan Aelin yang menunjuk dua mobil mewah di samping nya.


Ke dua mobil itu adalah milik Nyonya besar, alias istri Davin.


Itu lah peraturan dua mobil mewah di samping nya, tentu saja ia tidak akan membiar kan Aelin mengguna kan mobil Syaila.


Bisa- bisa organ tubuh nya di keluar kan oleh Davin jika sampai majikan nya itu tahu.


"Maaf Nona.. Anda tidak bisa memakai ke dua mobil ini.. Karna ini adalah mobil khusus untuk Nyonya.." Ujar sang penjaga dengan hormat.


"Dengar aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan mu.. Om Davin sedang berada di rumah sakit.. Jadi tolong sekarang kamu antar kan aku ke rumah sakit.. Jangan khawatir Nyonya sudah memberi kan izin untuk aku memakai mobil ini.. Lagi pula ini darurat ini perintah Om Davin..." Balas Aelin dengan kepanikan. Meski sebenar nya ia ingin menghajar wajah datar sang penjaga, yang menolak perintah nya.


"Bukan nya Nyonya sedang sakit, lalu bagaimana bisa Nona Aelin mendapat kan izin..?" Batin sang penjaga yang masih tidak percaya dengan apa yang di kata kan Aelin.


Melihat sang penjaga hanya diam tak bergeming, Aelin dengan cepat masuk ke dalam mobil. Yang langsung membuat sang penjaga terbelalak.


"Nona.. Kau tidak--"


"Aku adalah istri Davin.. Mobil ini milik suami ku.. Itu arti nya aku berhak memakai mobil ini.. Cepat antar kan aku atau aku akan mengadu kan mu pada Davin..!" Ancam Aelin yang sudah sangat kesal dengan sang penjaga.


Seandai nya ia bisa menyetir sendiri, ia tidak perlu meminta penjaga pembangkang ini untuk mengantar nya.

__ADS_1


Hanya saja situasi nya tidak mendukung, sehingga ia harus meminta pada sang penjaga , meski harus menambah kan embel- embel ancaman dengan menekan kan kuasa nya sebagai istri Davin.


Sang penjaga akhir nya menyerah, saat mendengar ancaman Aelin yang seperti nya tidak main- main.


Diri nya juga tahu jika Aelin hanya mainan sang majikan. Tapi Davin berpesan jika mereka harus memperlakukan Aelin seperti Nona di rumah ini.


Jadi jika ia menolak Aelin, pasti Aelin akan mengadu pada Davin, yang arti nya kepala nya ada dalam bahaya.


Sang penjaga pun, masuk ke dalam kursi kemudi, terlihat tangan nya gemetar karna ia akan mengendarai mobil terlarang ini.


Namun sungguh ia tidak punya pilihan lain.


Mobil mewah tersebut pun, mulai melaju keluar dari bagasi mobil, lalu keluar dari pekarangan rumah dan bergabung bersama kendaraan yang lain nya.


Terlihat di kursi belakang, Aelin terlihat begitu kalut, ke dua tangan nya tak henti untuk saling meremas di mana tatapan nya jatuh ke luar jendela.


"Aku harap om Davin baik- baik saja.. Aku mohon jangan ambil dia..!" Lirih Aelin yang terus melafal kan kalimat itu berulang kali.


Ia benar- benar sangat takut kali ini.


...----------------...


...****************...


Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya๐Ÿ˜Š


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat๐Ÿ˜™

__ADS_1


__ADS_2