
...191...
"Kamu bisa mengatakan hal itu dengan mudah, tapi melakukannya sangatlah sulit---"
"Itu karena kamu seorang pengecut!" sarkas suara penuh kebencian yang tiba-tiba memotong ucapan Davin.
Davin dan Darren mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu, dimana terlihat Antonio mendekat ke arah mereka dengan melempar berkas tepat di depan Davin.
Wajah Davin seketika memerah penuh amarah melihat siapa yang datang ke kantornya. Pria yang ingin sekali ia lenyapkan dari muka bumi ini karena terus mengincar Aelin.
"Darren, kenapa dia bisa masuk?" tanya Davin menekan setiap perkataannya, sembari menatap tajam pada Darren.
Glek!
Darren menelan salivanya paksa, saat melihat tatapan membunuh Davin. Sepertinya ia akan mendapatkan masalah yang sangat besar. Beberapa jam yang lalu, gajinya yang di potong, lalu sekarang mungkin kepalanya yang akan di tebas hingga putus.
"Kenapa kamu repot-repot bertanya pada asistenmu. Seharusnya kamu bertanya padaku, aku akan senang hati menjawab pertanyaanmu Kakak Ipar!" seru Antonio dengan merebahkan tubuhnya di sofa, lalu menyilangkan kakinya pada kaki yang lain sehingga terlihat keangkuhan pria itu.
Davin mengepalkan ke dua tangannya, melihat kesombongan Antonio yang kini menatapnya dengan seringgai merendahkan.
"Aku memghargaimu sebagai Adik Iparku, tapi saat ini aku tidak ingin melihat wajah buruk rupamu itu. Jadi, keluar sekarang dari ruanganku!" bentak Davin dengan wajah merah padam terbakar kabut amarah.
Bukannya takut, Antonio tertawa mengejek. Hal tersebut semakin membuat Davin geram.
"Baiklah, aku akan keluar dari ruanganmu. Akan tetapi, setidaknya baca dulu berkas yang ada di hadapanmu. Kedatanganku selalu membawa kejutan, dan aku yakin jika kamu akan senang setelah membaca berkas itu."
Brak!
Davin menggebrak meja kerjanya dengan keras, hingga punggung tangannya terlihat memar. Ia sudah tidak tahan lagi melihat wajah Antonio yang sangat memuakkan baginya. Ingin rasanya saat ini ia mencekik leher pria itu hingga mati membiru.
"Wawwww, tunggu dulu Kakak Ipar, kau tidak perlu memakai urat saat berbicara untukku. Simpan saja tenagamu untuk segera melihat kehancuranmu sendiri," ujar Antonio yang semakin tertantang untuk mengaduk-ngaduk emosi Davin.
"Tutup mulut busukmu itu Antonio," sarkas Davin dengan nada suara dingin yang menusuk. Antonio hanya mencebikkan bibirnya sebagai respon atas perkataan Davin.
Davin segera meraih berkas di depannya, lalu mulai membaca setiap deretan kalimat yang membuat keningnya berkerut dengan dalam. Bahkan, terlihat raut terkejut dimana kedua mata Davin melebar.
__ADS_1
Darren segera menghampiri sang majikan, ia juga penasaran dengan berkas yang diberikan Antonio. Apalagi, melihat ekspresi Davin yang semakin membuat ia yakin jika Antonio pasti membuat ulah.
"Apa-apaan ini?"
Antonio tersenyum dengan lebar, melihat ekspresi panik dari Davin. Apa yang ia bayangkan ternyata terjadi. Ia sangat bahagia melihat ekspresi tidak berdaya dari seorang Davin Arselion.
"Yah, itu bukan berkas palsu. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Sebagian sahammu sudah aku beli Davin, termasuk setengah manssion utamamu yang sekarang kamu tinggali. Untuk itu aku akan segera pindah ke sana," kata Antonio dengan nada penuh kepuasaan. Akhirnya ia bisa berada di dekat Aelin, meski sebelumnya ia sudah menggunakan hampir seluruh tabungannya untuk membeli saham Davin.
Amarah Davin mencapai level tertinggi, tanpa aba-aba Davin melesat meraih kerah baju Antonio.
"Kau benar-benar licik Antonio. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk tinggal di rumahku. Tidak akan pernah," geram Davin.
Antonio menarik tangan Davin agar melepaskan kerah bajunya. Ini hanya awal baginya untuk segera merampas wanita yang sangat ia cintai.
"Sayangnya, kamu tidak bisa melarangku Davin. Aku adalah pemilik setengah mansion itu. Jadi, aku berhak untuk tinggal di sana. Ini masih awal Davin, aku akan menghancurkanmu hingga berkeping-keping, sama seperti apa yang kamu lakukan pada Aelin."
"Stop, jangan katakan itu lagi!" bentak Davin, dimana suaranya menggelegar di dalam ruangan tersebut.
"Apa sekarang kamu takut untuk mendengar kebenaran Dav? Aku akan mengatakan saran yang tepat untukmu, tinggalkan Aelin dan hiduplah bersama Syaila. Aku akan membuat Aelin lebih bahagia dari dirimu."
Bugh!
Davin yang sudah dikuasai amarah, kembali menarik tubuh Antonio berdiri.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Aelin. Aku sangat mencintainya dan kau tidak akan pernah bisa membawa dia pergi dariku," ungkap Davin mutlak dengan penegasan di setiap kalimatnya.
"Kamu tidak pantas berbicara tentang cinta. Cinta dilandasi dengan kejujuran, kepercayaan, dan kasih sayang. Tapi, kau tidak memiliki ketiga hal itu. Kebohongan, dendam, dan pengkhianatan tidak pantas di sebut cinta." Antonio menghempaskan tangan Davin dan segera berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Davin terdiam terpaku di tempat. Mulutnya bungkam tak bisa mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Antonio memang benar. Dasar cintanya pada Aelin bukan di dasari oleh kasih sayang. Namun, sebuah dendam kesumat yang perlahan menghancurkan dirinya.
Tubuh Davin ambruk ke lantai, dimana perkataan-perkataan Antonio masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Tuan," lirih Darren menatap sang majikan dengan iba. Seumur hidup ia tidak pernah melihat Davin sefrustasi ini. Meski pria itu menghadapi masalah bisnis yang sulit, sekalipun Davin tidak pernah seperti ini.
"Cari tahu kebenaran kecelakaan Syaila Darren, aku yakin Antonio mengetahui sesuatu sehingga dia sampai melakukan hal ini. Tidak mungkin dia masih mencintai Aelin jika Aelin adalah penyebab kecelakaan Syaila," ujar Davin memberi perintah. Ia akan memperbaiki semuanya, ia akan mengatakan semuanya pada Aelin tentang dendam dan juga kematian Mr. Arkelin.
__ADS_1
Ia akan berkata jujur pada Aelin, dan memulai kisahnya bersama Aelin denga landasan kejujuran. Namun, jika Aelin memang terbukti bersalah, ia tidak memiliki alasan untuk meninggalkan Syaila.
"Baik Tuan," jawab Darren patuh, dan segera keluar meninggalkan Davin.
...----------------...
Di sebuah kafe dengan gaya klasik, terlihat Syaila tengah duduk pada salah satu meja. Sesekali wanita dengan pakaian glamor itu menyesap minuman di depannya. Bisa di tebak jika saat ini Syaila sedang menunggu seseorang.
Alunan musik dipadukan dengan lagu merdu dari seorang penyanyi, menambah nilai plus kafe tersebut.
Syaila mengedarkan pandanganya dan berhenti pada pintu masuk kafe. Namun, orang yang ia tunggu tak kunjung datang.
Syaila merogoh tas mahal miliknya yang diletakkan di atas meja. Mengeluarkan benda persegi dengan bentuk pipih yang biasa di sebut ponsel.
Ia bukanlah tipe orang penyabar, menunggu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini. Syaila menekan salah satu nomer tidak dikenal, lalu mendekatkan ponsel pada daun telinganya.
Tut!
Tut!
Tut!
Hanya terdengar suara nada sambung dari ujung telpon, tanpa ada tanda-tanda panggilannya di angkat.
"Kau tidak perlu menelpon, aku sudah ada di sini," ujar suara bass mengagetkan Syaila.
Syaila menoleh ke arah samping, senyum di bibirnya seketika terbit dengan sempurna.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like
koment
__ADS_1
guft
vote