
...50🐳...
Ia segera memarkir kan mobil nya, dan turun lalu berlari memutar ke arah pintu depan samping.
Membuka pintu dengan cepat, lalu menatap Aelin yang masih setia memejam kan ke dua mata nya.
Davin menyelip kan ke dua tangan nya di bawah tengkuk Aelin dan di bawah lutut gadis itu.
Dengan sekali gerakan, Davin membawa Aelin masuk ke dalam pelukan nya dengan gaya bridestyle.
Lalu berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah dengan tubuh bagian atas tanpa mengena kan baju.
Seorang penjaga segera membuka kan pintu untuk Davin.
Mrs. Tissa yang sejak tadi menunggu di kamar lalu melihat mobil Davin yang memasuki gerbang, segera berlari keluar dari kamar. Memasti kan jika kini Davin bersama dengan Aelin.
Mrs. Tissa melebar kan ke dua mata nya, saat melihat Davin masuk sambil menggendong menantu palsu nya.
"Davin apa yang terjadi pada Aelin?" Tanya Mrs. Tissa melancar kan sandiwara nya sebagai nyonya rumah serta ibu gadungan.
Karna selama ia berada di dalam rumah ini, ada mau pun tidak ada Aelin. Semua harus bersandiwara dengan apik dan tanpa henti.
Karna kondisi dan situasi tidak bisa di tertebak, bisa saja saat semua nya lengah dan menjadi diri sendiri, Aelin datang dan mengetahui hal itu tanpa sengaja.
Sehingga Davin memperingat kan semua orang untuk hidup dalam panggung sandiwara. Di mana jika diri nya tidak mengomando kan semua nya untuk berhenti maka tidak ada yang boleh berhenti.
Davin setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Aelin.
Ia tidak menghirau kan pertanyaan dari Mrs. Tissa yang sudah memasang wajah khawatir karna melihat Aelin yang sudah pucat seperti mayat.
Maya yang mengetahui jika sang majikan sudah pulang, segera berlari mengekor dengan kening penuh dengan peluh keringat. Saat melihat kilatan membunuh dari sudut mata Davin ke arah nya.
Maya segera mendahului langkah Davin saat mereka sudah tiba di depan pintu kamar Aelin.
Maya membuka kan pintu kamar lalu mendorong nya dengan cepat, di mana Davin dengan leluasa masuk ke dalam kamar Aelin yang langsung di sapa dengan harum bunga lily yang sangat wangi.
Davin meletak kan tubuh Aelin dengan sangat berhati- hati di atas kasur. Memperlakukan nya dengan begitu lembut seperti sebuah benda yang sangat rapuh dan hancur jika terkena sedikit sentuhan.
Davin mengusap wajah Aelin yang langsung menyalur kan rasa dingin.
Membuat wajah Davin semakin khawatir dan cemas.
"Maya cepat panggil kan dokter stefan... Pakai kan baju pada Nona... Aku akan segera kembali..." Titah mutlak Davin yang di layang kan pada Maya, yang sejak tadi hanya mematung diam seperti patung.
"Baik Tuan..." Jawab Maya dengan nafas yang tertahan, dan langsung berlari menuju ruang bawah.
__ADS_1
Davin menatap lekat pada Aelin, dengan tatapan yang tak mampu untuk di arti kan.
Di mana benci, iba, amarah, serta rasa kasihan bercampur aduk pada tatapan tajam menyayat Davin.
Davin melenggang pergi meninggal kamar Aelin, menuju kamar nya.
Karna saat ini ia perlu menidur kan sesuatu yang tak seharus nya bangun.
Davin mendesah dengan kasar, lalu memutar knok pintu kamar nya di mana netra nya langsung di sambut dengan kamar berwarna silver.
Ini gila. Pekik Davin yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, lalu menyalakan shower.
Membasuh tubuh nya dengan air dingin, meski malam ini mengeluar kan cuaca dingin yang ekstrim tapi malah Davin merasa kan panas di sekujur tubuh nya.
Davin menikmati aliran air dingin di atas kepala nya, membuat rasa panas yang bergejolak di dalam tubuh nya terasa meredam.
...----------------...
Maya meraih gagang telpon dengan cepat, memencet beberapa tombol angka lalu mendekat kan benda itu di telinga nya.
"Hallo dokter stefan.. Saya Maya pelayan keluarga Arselion. Kami saat ini membutuh kan dokter karna ada seseorang yang sedang membutuh kan jasa Dokter...." Seru Maya dengan kepanikan tiada tara.
Saat ini ia benar- benar sangat takut, saat melihat tatapan tajam Davin ke arah nya.
Ia berharap majikan nya itu tidak marah atau pun menghukum nya. Ia tidak sanggup merasa kan luka di sekujur tubuh nya.
Tapi Davin tidak akan semarah itu kan pada nya?
Bukan kah Davin sangat membenci Aelin?
Pikir Maya yakin jika Davin tidak mungkin menghukum diri nya dengan berat, hanya karna seorang wanita yang sangat di benci.
Maya menarik nafas nya dalam, lalu menghemhus kan nya kembali bersamaan dengan menyingkir kan rasa takut yang sedang merayapi nya.
Tak berselang lama Stefan akhir nya sampai di kediaman megah Arselion.
Melihat dokter muda dan tampan kepercayaan keluarga Arselion, Maya langsung mendekat ke arah stefan yang sedang di bantu untuk melepas kan baju hujan yang ia pakai.
"Selamat datang Tuan Stefan..." Maya membungkuk kan tubuh nya hormat.
"Kau... Kenapa kamu ada di sini?" Seru Stefan yang sedikit kebingungan dengan kehadiran Maya di rumah ini.
Seingat nya sahabat nya Davin menempat kan pelayan wanita yang mahir bela diri ini di Villa tempat Syaila di rawat.
"Tuan Davin sudah memindah kan tugas saya untuk menjaga seorang wanita..." Jawab Maya jujur, karna ia tahu siapa Stefan.
__ADS_1
"Baik lah aku tidak peduli.... Di mana pasien yang harus ku periksa?"
Maya merentang kan tangan nya, dengan kepala yang di angguk kan. Lalu berjalan mengiring Stefan menuju kamar Aelin.
Stefan, seorang pria dengan wajah bule namun terkesan begitu manis. Ia adalah sahabat Davin di mana stefan bekerja untuk Davin.
Umur mereka sama, di mana Davin dan Stefan saling mengenal saat masa perkuliahan.
Stefan memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Davin.
Di mana pria dengan dimple di dagu itu sangat ramah dan humoris dengan semua orang yang ada di sekitar nya. Sehingga tak salah ia menjadi seorang dokter yang baik hati.
Entah karna takdir atau kecocokan hingga membuat dua orang yang berbeda kepribadian itu bisa menjadi sahabat.
Stefan juga adalah satu- satu nya pria yang sangat tahu bagaimana derita Davin saat kehilangan istri tercinta.
Bahkan sampai wajah nya yang tampan ini di hajar habis- habisan oleh Davin karna menyerah dalam kasus Syaila yang sudah seperti putri tidur.
Namun meski ia mengata kan hal pahit itu, tetap saja Davin teguh dalam pendirian dan keyakinan nya jika jantung hati nya itu masih bisa terbangun lagi.
Stefan bahkan sampai mengira Davin sudah gila karna setiap malam sahabat nya itu akan mengamuk, lalu menangis, lalu setelah itu tertawa. Karna lecutan takdir yang begitu menyakit kan.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙