
...72😻...
"Di usia ku yang ke tujuh belas ini adalah malapetaka untuk ku kak.. Seharus nya remaja menjadi kan usia ini untuk mengukir hal terindah.. Namun aku di usia ke tuju belas ku hanya ada kesialan... Pertama harta yang paling berharga dalam diri ku di renggut paksa dan yang ke dua papy juga di renggut dari ku..." Lirih Aelin dengan kesedihan dan keputus asaan yang terkandung di setiap kata- kata nya. Yang seperti menjadi tombak di hati Antonio.
Namun lidah Antonio kelu, ia tidak bisa mengata kan apa pun. Untuk menghibur wanita yang kini bersedih dalam pelukan nya.
Ia hancur melihat Aelin terpuruk seperti ini, ia tidak membayang kan bagaimana hancur nya nanti Aelin ketika Davin kembali menghianati nya.
Jika ia pikir kan, Antonio sedikit curiga dengan apa yang terjadi.
Semula kondisi Mr. Arkelin baik- baik saja, bahkan dokter mengata kan ada kemajuan pesat dalam kondisi nya.
Namun kenapa tiba- tiba kondisi Mr. Arkelin drop dan ia mendapat kan kabar kematian.
Bukan kah ini sedikit aneh?
Pikir Antonio yang merasa kematian Mr. Arkelin sedikit janggal, karna diri nya yang paling tahu informasi kesehatan majikan nya.
Antonio menaut kan alis nya , di mana kening nya berkerut dalam.
"Apa ini ulah Davin?" Batin Antonio saat mengingat jika orang terakhir yang masuk ke dalam kamar Mr. Arkelin Davin.
Aku sudah melakukan tugas ku, sekarang giliran mu adik ipar.
Aku sudah melakukan tugas ku, sekarang giliran mu adik ipar.
Aku hanya ingin menemui mertua ku*.
Ucapan Davin langsung menggelantung di pikiran nya, saat ia mengingat perkataan Davin yang sedikit tak ia mengerti.
Namun sekarang ia mengerti, tugas apa yang di maksud Davin.
"Brengsek....!!!" Geram Antonio dengan mengepal kan ke dua tangan nya erat.
Ingin sekali rasa nya saat ini ia menghilang kan Davin, karna sudah mengambil nyawa seseorang dengan paksa.
Sementara ke dua mata tajam, setajam elang dengan rahang mengeras dan ke dua tangan sedang mengepal dengan kuat, terlihat memperhati kan intraksi Aelin dan Antonio yang kini tengah saling berpelukan sambil menangis.
Tampak dari sorot mata nya, rasa tidak suka dan amarah meletup- letup seperti ledakan bom.
Dia adalah Davin, yang tengah menonton adegan tangis kehancuran Aelin dari balik jendela kaca.
__ADS_1
Bukan merasa bahagia dengan melihat penderitaan Aelin, yang sedang menangis frustasi karna kehilangan orang tercinta, malah diri nya merasa terbakar api amarah karna kini melihat Aelin sedang di peluk oleh Antonio. Bahkan Antonio berani mencium puncak kepala Aelin yang semakin membuat dada Davin terasa bergemuruh panas.
Entah apa yang terjadi pada nya. ?
Tapi ia tidak terima dengan apa yang sedang ia lihat di depan mata nya.
Davin tidak lagi mempedulikan rasa benci nya di mana ia sebelum nya bertujuan ingin melihat derita Aelin, malah ia tidak sanggup lagi melihat istri kecil nya di peluk dan di cium oleh pria lain.
Bahkan diri nya saat ingin mencium Aelin, harus terkena tendangan keras seperti kuda dari gadis itu.
Davin segera masuk ke dalam kamar inap Mr. Arkelin , mendekat ke arah Antonio yang sedang memeluk Aelin.
Tanpa aba- aba, Davin langsung menarik tubuh Aelin ke dalam pelukan nya, sehingga pelukan Antonio terlepas begitu saja.
Antonio sempat terkejut, namun ia menyadari jika yang melakukan nya tidak lain adalah Davin yang sedang menatap nya dengan tajam.
"Tenang lah sayang....." Hibur Davin dengan mengelus surai lembut Aelin yang hanya pasrah saat Davin memeluk tubuh nya.
"Munafik kamu Davin.. Kau yang menghancur kan hidup Aelin dan sekarang kamu berpura- pura menenang kan nya... Busuk..." Umpat Antonio dengan terus menatap Davin penuh kebencian.
Rasa respect yang pernah ia miliki untuk Davin sebagai seorang kakak ipar, kini berganti kan dengan rasa benci.
"Ssshhhhh tenang lah..." Cicit Davin yang masih berusaha menenang kan Aelin.
"Papy... Papy..." Gumam Aelin dengan tangis yang masih kencang, di mana tangis nya terdengar pilu dan menyayat hati.
Antonio melangkah keluar dari kamar, karna ia tidak tahan melihat Davin memeluk Aelin.
Hati nya terasa panas, karna cemburu melihat gadis yang di cintai nya di peluk oleh pria lain.
Ingin rasa nya ia menghajar wajah munafik Davin, namun ia tidak mungkin membuat keributan di tengah- tengah duka seperti ini.
Lebih baik ia menjauh dan menang kan pikiran nya.
Davin menggiring tubuh lemah Aelin untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Mr. Arkelin.
Tangan kekar Davin tak pernah lepas untuk memeluk tubuh ringkih Aelin yang entah terasa nyaman untuk di peluk.
Sementara Aelin terus menangis dalam pelukan Davin, menyandar kan kepala nya di dada bidang suami nya.
Menumpah kan rasa sedih dan duka yang begitu mendalam.
__ADS_1
Meski air mata nya rasa nya sudah kering, namun luka di hati nya masih basah.
Davin menyelip kan anak rambut Aelin yang terjatuh ke wajah Aelin yang sudah sembab dan memerah.
"Papy.. sudah berjanji kepada ku.. Dia akan sembuh dan kita akan pergi ke makam Momy , Papy mengingkari janji nya..." Cicit Aelin dengan suara tersendat.
"Ikhlas kan papy Aelin, dia pasti sedih melihat mu menangis seperti ini..." Balas Davin mengusap wajah Aelin dengan lembut.
"Aku sudah tidak punya siapa pun di dunia ini... Kenapa takdir tega merenggut papy dari ku? Katakan apa takdir membenci ku? apa aku perempuan yang sial, sehingga setiap yang berharga dalam hidup ku, perlahan pergi dan hancur. Ini semua salah ku. Seharus nya aku tidak lahir di dunia ini.. Kenapa takdir tidak membawa ku ikut bersama Momy dan Papy, kenapa hanya aku yang tersisa...? Eeeem... hiks... Hiks... Aakkhhh .... Hiks... Hiks...." Tangis Aelin.
"Tidak... Jangan salah kan diri mu..." Tukas Davin kini menangkup wajah Aelin yang begitu menderita di mana wajah cantik itu terlihat merah dengan ke dua mata yang banjir dengan air mata kesedihan.
Hati Davin sedikit tercubit. Di mana ia tidak bisa mengendali kan rasa aneh yang sedang membalut diri nya.
"Kau tidak sendiri Aelin, masih ada aku... Aku akan selalu ada untuk mu... Di dunia ini kau masih memiliki ku... Jangan takut dengan dunia ini karna kau masih memiliki suami mu..." Ujar Davin dengan begitu serius, tanpa ia sadari ia memberikan janji yang tak mungkin ia tetapi.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1