Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Lalat besar


__ADS_3

...30🕊...


Davin berjalan dengan sepelan mungkin, menetralisir suara yang akan timbul dari ketukan sepatu mewah nya di atas lantai marmer.


Davin memiring kan alis nya, melihat gaya tidur Aelin yang mirip seperti ayam mati.


Di mana kaki nya di biar kan menjuntai ke bawah, lalu hanya setengah tubuh nya yang tertidur di atas kasur.


Belum lagi posisi tubuh yang miring ke samping dengan gaya asing, yang entah mirip dengan makhluk apa.


"Dasar bocil, lihat lah cara tidur nya yang sudah seperti ayam mati... Ha.. ha.. " Kekeh Davin dengan tangan menutup mulut nya, agar suara nya tidak membangun kan Aelin yang bahkan mungkin sudah sampai langit ke tujuh.


Perut Davin benar- benar terasa di gelitik oleh ribuan cacing.


Sangat menggemas kan. Pekik Davin dalam hati.


Entah setan apa yang saat ini sedang merasuki diri nya, hingga ia tertawa dengan lebar bahkan tanpa diri nya sadari sedikit pun.


Davin mendekati Aelin, ke dua tangan nya menyusup ke bawah ke dua lutut kaki putih Aelin dan di bawah punggung nya.


Dengan sangat pelan dan perlahan , Davin membawa Aelin masuk ke dalam gendongan nya.


"Hmmmm...." Lengkuh Aelin saat merasa kan ada nyamuk yang menggigiti lutut nya. Namun sayang ke dua mata nya tidak berminat untuk terbuka sedikit pun. Seperti ke dua mata nya di lem dengan lem super lengket.


Davin menahan nafas nya, saat Aelin melengkuh, namun tidak ada tanda- tanda jika gadis itu akan bangun.


Glek...


Davin menelan saliva nya paksa, wajah nya dan wajah Aelin hanya berjarak sepuluh centimeter saja.


Memori ingatan nya kembali melayang jauh, saat diri nya mengambil kesucian gadis kecil dalam gendongan nya.


Ia tak menampik jika ia sangat puas malam itu.


Dengan pelan, Davin melangkah ke samping ranjang king size mewah tersebut.


Menurun kan tubuh kecil yang sangat ringan dalam gendongan Davin dengan perlahan.


Membaring kan nya, lalu menarik selimut menutupi tubuh Aelin yang masih setia tertidur lelap.


Davin memandang lekat wajah cantik dan putih Aelin.


Aelin benar- benar terlihat seperti boneka porselin yang sangat cantik.


Bulu mata panjang lentik, dengan ke dua kelopak mata mirip mawar, lalu hidung mancung yang mencuat tajam, serta bibir ranum berwarna merah menggoda itu.


Glek..


Lagi- lagi Davin menelan ludah nya paksa. Ia adalah pria normal, wajar saja ketika melihat wanita kecil tak berdaya dengan kecantikan yang memikat, membuat sisi pria nya muncul seketika.


Namun ia tidak mengalami dan merasakan hal yang sama saat melihat Mrs. Lussi.

__ADS_1


Davin mendongak kan kepala nya, menatap pada lampu yang terpasang pada plafon rumah.


"Semoga aku tidak bertemu lagi dengan wanita ulat itu..." Lirih Davin dengan harapan agar takdir tak mempertemu kan diri nya lagi dengan makhluk wanita yang bernama Lussi.


Davin kembali membuang pandangan nya pada Aelin yang masih memejam kan ke dua mata nya dengan begitu damai.


Tangan besar nya terulur, untuk menyentuh pipi indah Aelin yang terlihat begitu menggoda.


Namun tinggal satu inci lagi, tangan Davin terhenti.


Wajah nya berubah merah, dengan rahang yang mengeras tegas.


Dapat di lihat saat ini gigi nya saling bergesekan dan bergemelatuk menimbul kan suara.


Terlihat wajah nya yang langsung menampak kan taring kemarahan dengan semburat kebencian yang ada di ke dua mata nya.


Tatapan penuh amarah dan dendam itu tertuju pada Aelin.


"Aku tidak akan terjebak dalam pesona mu...!" Gertak lirih Davin yang langsung menghempas kan tangan nya kasar.


"Berani sekali kamu tertidur dengan begitu tenang, sedang kan kamu sudah membuat seseorang yang sangat aku cintai menderita...."


Ke dua tangan Davin terulur tepat menuju ke arah leher jenjang Aelin. Namun kembali terhenti saat pikiran jernih nya kembali tersadar.


"Tidak... Jika aku membunuh nya sekarang... Maka aku tidak akan melihat nya hancur menjadi debu..." Davin kembali menarik ke dua tangan nya.


Ke dua tangan nya yang tak bisa menyalur kan kemarahan dan kebencian yang semakin hari semakin menumpuk membuat nya benar- benar tersiksa.


Davin bergegas hendak kekuar, berlama - lama dalam satu ruangan dengan Aelin sungguh membangkit kan jiwa sykopat dalam diri nya.


Namun baru beberapa langkah, kaki nya kembali terhenti. Dengan deruan nafas yanh di stabil kan.


Davin membalik kan tubuh nya, menatap tubuh Aelin yang masih tidur dengan nyenyak.


Senyum misterius terbentuk di bibir Davin, mengeluar kan aura mengerikan dari dalam tubuh Davin.


"Malam ini kamu tidak akan tidur dengan nyenyak..." Gumam Davin yang kembali menghampiri Aelin.


Davin membuka jas yang membalut tubuh indah nya , lalu melempar nya ke sembarang arah.


Lalu tangan nya kembali membuka tiga kancing teratas kemeja nya, yang sudah sangat membuat nya gerah.


Davin mengulur kan tangan nya menyentuh pipi mulus Aelin, menekan dan mengusap nya dengan perlahan.


Ia ingin Aelin terbangun, dan menyadari jika ia sudah pulang.


Ia ingin Aelin mengira jika ia meminta hak nya sebagai suami.


Dan diri nya pasti yakin, Aelin akan ketakutan dan menjerit. Karna ia tahu Aelin saat ini berada dalam fase trauma atas apa yang sudah diri nya lakukan pada gadis belia yang sangat ia benci.


Aelin menggeliat kecil, saat merasakan sebuah sentuhan hangat di pipi nya.

__ADS_1


Ia tahu jika hal itu pasti ulah lalat besar yang sedang berjalan- jalan di pipi mulus nya.


Plak...


Dengan sangat keras, Aelin menepuk tangan Davin yang masih mengelus pipi nya.


"Ssshhhhh.... Dasar bocah bar- bar..." Ringgis Davin merasa kan rasa panas pada punggung tangan nya.


"Dasar lalat kurang ajar... Berani kamu sentuh pipi ku. ku buat kamu jadi sate..." Racau Aelin dengan membalik kan tubuh nya membelakangi Davin.


Davin melihat punggung tangan nya yang memerah , di mana di kulit putih nya tercetak dengan jelas bekas lima jari pukulan Aelin.


"Sial, pukulan nya cukup sakit..." Gumam Davin lagi dengan tatapan tertantang.


"Baik lah... Jika kamu tidak mau bangun dengan elusan, maka aku akan memberikan cara yang lebih dahsyat dari ini..."


Davin dengan cepat naik ke atas kasur, lalu membaring kan tubuh nya di depan Aelin.


Bibir nya menyeringgai dengan tatapan yang jatuh di bibir ranum Aelin yang sedikit terbuka.


Cup..


Tanpa aba- aba Davin mencium dalam bibir Aelin.


Aelin sedikit tersentak, saat sebuah benda kenyal menabrak bibir nya yang indah.


Dengan cepat, Aelin membuka ke dua mata nya dan terbelalak kaget.


"Dasar pria mesum...!!!!"


...----------------...


...****************...


Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2