
...18😇...
Waktu bergulir dengan begitu cepat, Matahari yang sebelum nya tenggelam kini telah terbit pada poros nya.
Warna keemasan yang menghangat kan menyinari setiap sudut kota, bahkan menelisik masuk ke setiap celah yang tergapai.
Semburat awan putih tanpa noda, beriringan berjalan, seolah- olah menikmati sinar sang surya yang semakin membuat warna putih mereka berkilau.
Hilir angin sejuk terkesan cukup dingin , berhembus dengan lembut. Seolah sebagai sapaan pada setiap makhluk bumi.
Burung - burung indah nan cantik mulai meninggal kan sarang mereka, sembari mengeluar kan suara kicauan sebagai tanda pagi telah tiba.
Hari yang begitu indah dan permai, namun kelam bagi sosok yang tengah duduk di lantai, dengan tubuh tertekuk di antara ke dua lutut nya.
Aelin mendongak kan wajah nya, dua mata hitam panda dan juga wajah yang semakin pucat.
Semalaman ia tidak bisa tidur, dengan tepaksa ia memakai gaun minim bahan ini untuk menutupi tubuh nya.
Meski bagaimana pun cara nya, lekuk tubuh indah nya tetap terekspose karna kain yang terlalu menerawang.
Kepala nya terasa berdenyut nyeri, tanpa memejam kan mata tubuh nya kali ini benar- benar terasa lemas.
Namun ia sungguh merasa bersyukur jika pria brengsek itu tidak datang seperti yang dia ucap kan di telpon.
Karna ucapan Davin dan juga penemuan baju minim bahan dalam lemari, ia terus saja waspada hingga pagi menjelang.
Ia tidak berani untuk tidur, karna takut jika tertidur Davin akan datang dan mengambil kesempatan untuk menyentuh nya.
Hanya dengan membayang kan nya saja sudah membuat bulu kuduk Aelin merinding.
Entah bagaimana bisa, takdir nya terhubung dengan pria gila dan brengsek seperti Davin.
Drtttt....
Drrrrtttt...
Drrrt...
Suara ponsel yang sedikit membuat Aelin tersentak, dan mencari dari mana suara ponsel itu.
Mata nya langsung terhenti pada ponsel nya di atas kasur yang tergelatak begitu saja.
Sejak kejadian naas itu, hingga selesai pernikahan. Ia tidak pernah menyentuh atau memainkan benda ajaib tersebut.
Tapi, untung ia masih ingat untuk membawa ponsel nya saat pergi dari rumah.
Aelin meraih ponsel nya, dan melihat nama Mr. Arkelin pada layar ponsel.
Aelin memejam kan mata nya, apa ia harus menjawab panggilan ini?.
Tapi ia masih kecewa dengan ayah nya. Kejadian kemarin kembali terbayang di kepala Aelin. Saat sang Ayah menampar nya dengan begitu keras di iringi dengan kata- kata ketidak percayaan yang menghancur kan diri nya.
__ADS_1
Semua kejadian itu, seperti sebuah vidio yang di putar tanpa izin.
Aelin menghembus kan nafas nya kasar, lalu melempar kembali benda pipih tersebut.
Seperti nya tidak bicara dengan siapa pun adalah hal yang terbaik untuk nya saat ini.
Pagi telah menjelang dan pria brensek itu tidak datang, jadi Aelin merasa sedikit aman untuk tidur sebentar.
Mengistirahat kan pikiran dan tubuh nya yang sudah di siksa dengan habis- habisan oleh Davin, meski cara pria itu begitu halus. Seperti ia tidak melakukan hal apapun.
Namun semua nya berdampak begitu besar bagi Aelin.
Aelin merebahkan tubuh nya yang sudah terasa begitu berat dengan ke dua mata nya yang sangat mengantuk.
Menarik selimut tebal yang tentu saja hangat dan membalut seluruh tubuh nya, yang hanya meninggal kan bagian kepala saja yang menyembul keluar.
Sangat nikmat, batin Aelin saat merasakan hangat nya ranjang serta kasur yang begitu empuk dan nyaman.
Seperti nya ia akan tidur nyenyak kali ini.
...----------------...
Davin merenggang kan otot - otot tubuh nya.
Merentang kan ke dua tangan nya dan mengakat nya tinggi di udara.
Saat ini ia berada di balkon villa, tempat utama yang menjadi favorit bagi nya.
Davin menyangga ke dua tangan nya pada pembatas balkon.
Ke dua mata nya mengedar, memperhati kan setiap pemandangan hijau yang menyapa pandangan nya.
Tumbuh- tumbuhan hijau rimbun di iringi dengan angin yang bertiup, membuat helaian daun- daun pohon tersebut bergoyang. Seakan menari - nari dengan indah.
Pemandangan hijau, dan juga oksigen yang masih begitu murni di daerah puncak ini selalu membuat pikiran Davin menjadi rileks karna masalah pekerjaan.
Apalagi sekarang ia harus menjalan kan misi balas dendam nya.
"Ck.... Gadis tengik itu ternyata cukup merepot kan kehidupan ku.. Rencana balas dendam yang ku susun dengan rapi harus ku rombak lagi dan mengganti nya dengan rencana yang lebih halus lagi. Seperti nya memang membutuh kan sedikit waktu lagi untuk menghancur kan Aelin Dirwantar tapi sebelum itu, bagaimana jika aku bermain- main dulu dengan si tua bangka cerewet itu..." Davin menjeda kalimat nya.
Ia menghirup udara segar dan sejuk dalam- dalam.
Mengisi setiap ruang di paru- paru nya untuk menampung udara yang belum tercemar oleh ulah tangan manusia.
Davin memutar tubuh nya lalu melangkah masuk ke dalam kamar nya kembali.
Kamar yang di desain dengan gaya dingin nya, di mana kamar tersebut dominan dengan warna abu.
Seperti hari- hari biasa, ia harus pergi ke kantor untuk bekerja , namun hari ini sedikit berbeda karna ia juga harus mengurus Aelin, yang sudah dapat ia pastikan jika wanita itu tidak tertidur tadi malam.
Ia tentu sangat mudah bisa menebak emosi labil dan rasa takut Aelin yang hanya notabene adalah seorang remaja, yang telah masuk dalam gerbang trauma karna diri nya.
__ADS_1
Davin menggerak kan kepala nya ke kiri dan kanan, hingga menimbul kan suara gemeretak tulang. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual pagi.
Usai menyita waktu beberapa menit, kini Davin sudah siap dengan tubuh di balut dengan jas mahal dan juga dasi yang bertengger di leher nya.
Kharisma seorang presdir dari Davin begitu terasa dengan penampilan formal yang begitu indah terpahat di setiap lekuk tubuh nya.
"Pagi Tuan..." Suara bariton terdengar sedikit serak menyapa Davin yang sedang menuruti anak tangga, dengan ke dua tangan kekar nya yang memasang kancing jas.
"Pagi..." Balas Davin dengan datar tanpa ekspresi, seperti sebuah boneka batre yang mengeluar kan suara mengerikan.
Meja panjang dengan beberapa kursi yang berderet, di sertai dengan sarapan berbagai macam rupa dan jenis menyapa pandangan Davin.
Davin tersenyum kecut, saat melihat siluet wanita yang akan menatap nya dengan senyuman indah di setiap pagi menjelang keberangkatan nya menuju kantor.
Namun perlahan siluet wanita itu melebur seperti terbawa oleh angin.
Davin menarik salah satu kursi, lalu merebah kan bokong nya.
Dengan sigap seorang pelayan datang, dan langsung menyajikan sarapan di hadapan Davin.
"Darren, apa yang aku katakan semalam sudah kamu lakukan...?"
"Sudah tuan, seperti yang tuan duga nona Aelin tidak bisa tidur hingga dini hari.. Lalu saya juga sudah menyewa wanita yang pandai bersandiwara sebagai ibu mertua palsu, yang sudah saya kirim ke rumah utama.."
Davin menganguk pelan, dengan sudut bibir yang terangkat.
Rencana berjalan dengan sangat baik. Dengan mudah ia membaca pergerakan musuh nya.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1