
...173...
"Aku ini Syaila, bodoh!" bentak Syaila dengan kesal.
Darren langsung melepaskan Syaila. Ia benar-benar sangat konyol. Sudah dipastikan ia akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Apalagi, sempat-sempatnya dirinya mengatai Syaila nenek lampir.
Tapi ini bukan sepenuhnya salahnya. Siapa suruh istri majikannya itu berpenampilan seperti itu.
"Maaf Nyonya, saya tidak mengenali Nyonya." Darren langsung membungkukkan tubuhnya 90Β°.
Sedangkan Syaila terlihat sangat marah dengan wajah merah padam, persis seperti banteng yang siap menyeruduk kain merah.
Syaila merapikan penampilannya yang sempat berantakan karna kebodohan Darren. Namun, ia juga merasa senang. Jika Darren saja tidak mengenali dirinya apa lagi orang lain.
"Kali ini aku memaafkan pelayan sepertimu. Untung moodku lagi bagus jika tidak sudah aku potong kepalamu dan ku gantung menjadi hiasan."
Glek!
Darren menelan salivanya paksa, ucapan Syaila mampu membuat bulu roma di tubuhnya berdiri.
Setelah mengatakan hal itu, Syaila langsung melenggang pergi. Ia mengeluarkan kaca mata dari dalam tas mahal miliknya. Lalu memasang kaca mata tersebut dengan gaya angkuh dan sombong.
...----------------...
Davin dan Aelin kini berada di dalam kamar mereka. Jendela besar yang ada di hadapan mereka sengaja mereka biarkan terbuka. Sehingga angin malam menusuk kulit berhembus menerpa tubuh mereka yang kini sedang berpelukan di atas ranjang.
Tirai jendela melambai-lambai seperti sedang menari dengan lemah gemulai. Membuat mata Davin dan Aelin terpaku pada tirai yang bergerak.
Davin mengeratkan pelukannya pada tubuh Aelin. Sesekali mengecup dalam puncak kepala Aelin, dimana wangi rambut soft Aelin mampu menghipnotis dirinya.
Ia tidak menampik jika aroma dari tubuh Aelin, selalu membuat dirinya menjadi rileks dan mabuk kepayang. Jika saja waktu bisa dihentikan, maka dengan senang dirinya akan menghabiskan momen dengan memeluk Aelin.
"Bukankah malam ini begitu indah?" cicit Aelin dengan sebuah pertanyaan. Ia merasa sangat nyaman berada dipelukan Davin.
"Hmm, andai aku bisa menghentikan waktu. Aku selalu ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu," balas Davin dengan tulus.
__ADS_1
"Aku berharap semua kebahagian menyertai kita. Aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu, aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada dirimu mungkin aku sudah tiada." Aelin mengulum senyumnya.
Wajah Davin terlihat sedih, saat mendengar ungkapan isi hati Aelin. Ia benar-benar pria yang tidak tahu di untung. Aelin begitu mencintainya dengan sepenuh hati, sementara ia mengkhianati cinta setulus itu.
Di sisi rumah Arselion tepatnya di depan gerbang utama, terlihat sebuah mobil mewah berwarna coklat berhenti.
Syaila turun dengan samarannya, lalu berjalan mendekat ke arah gerbang utama yang sedang di jaga oleh dua anak buah Darren.
"Buka gerbangnya!" titah Syaila sambil menurunkan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
Ke dua anak buah Darren yang sedang berjaga, melirik satu sama lain. Sebelum melangkah semakin dekat pada wanita aneh dengan penampilan seperti badut.
"Maaf Nona Anda siapa?" tanya salah satu anak buah Darren dengan suara datar.
Syaila memutar kedua bola matanya jengah. Jika saja ia tidak sedang menyamar, sudah dipastikan nasib dua anak buah Darren akan berakhir menjadi gelandangan di jalanan.
Syaila melepas kaca matanya, lalu tersenyum dengan menggoda. Ke dua anak buah Darren mengerjit ngeri melihat senyuman wanita aneh di depannya, yang terlihat menjijikan.
"Aku Livia, sepupu Davin. Jangan bilang kalian tidak tahu," jawab Syaila yang mengubah namanya menjadi Livia.
Akan tetapi, ia harus sedikit bersabar. Ia tidak boleh terpancing emosi dan membuat rencana yang sudah ia susun dengan rapi hancur begitu saja tanpa hasil. Hal itu sama saja mengundang kehancurannya.
"Kenapa kalian diam? Cepat buka gerbangnya!" bentak Syaila dengan suara melengking.
Ke dua anak buah Darren, langsung membuka gerbang besar dan tinggi di samping mereka. Membiarkan wanita yang bernama Livia itu masuk ke dalam.
"Bukankah ini lucu? Aku menjadi orang asing di rumahku sendiri. Wanita yang bernama Aelin itu merepotkan saja. Kenapa harus dia yang menjadi maduku. Davin juga, dia malah menikah saat aku sedang koma. Suami macam apa dia, jika saja dia tidak kaya aku sudah menendangnya dari hidupku," batin Syaila mendumel dengan perasaan kesal.
Syaila memencet bel layaknya seorang yang datang bertamu. Jika saja ada ajang penobatan istri yang paling pandai bersandiwara maka pasti Syailalah pemenangnya.
Krieetttt!
Pintu dengan arsitektur super mewah itu terbuka, menampilkan seorang pelayan yang menatap dirinya dengan aneh.
"Maaf Anda siapa?" tanya sang pelayan dengan sopan.
__ADS_1
"Aku Livia, sepupu Davin. Di mana Davin?" cecar Livia yang langsung masuk begitu saja tanpa menunggu pelayan tersebut mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Sang pelayan langsung tercengang, melihat wanita yang bernama Livia itu langsung masuk begitu saja. Pelayan tersebut memperhatikan tampilan Syaila. Seingatnya Davin sama sekali tidak memiliki sepupu. Bahkan selama ini tidak satupun sepupu Davin yang datang ke kediaman Arselion. Apalagi penampilan wanita yang mengaku-ngaku sebagai sepupu majikannya sangat aneh. Apa jangan-jangan wanita ini maling? Pikir sang pelayan yang langsung menarik tangan Syaila dengan kasar.
Syaila tersentak bukan kepalang, saat tubuhnya diseret tiba-tiba, dan pelakunya adalah seorang pelayan.
"****, berani sekali dia menyeretku!" umpat Syaila dalam hati yang mulai tersulut emosi.
"Hei lepaskan tanganku, berani sekali kamu bersikap tidak sopan pada sepupu majikanmu!" hardik Syaila, berusaha melepaskan cekalan tangan pelayan tersebut yang menyakiti tanganya. Pasti kulit mulus di pergelangan tanganya memerah akibat tangan kasar pelayan tidak tahu diri ini.
"Aku tahu kamu pasti pencuri yang sengaja mengaku-ngaku sebagai sepupu Tuan Davin. Aku sudah sering melihat hal seperti ini. Jadi sekarang pergilah." Pelayan tersebut mendorong tubuh Syaila keluar dari pintu.
Bruk!
Tubuh Syaila tersungkur ke tanah, membuat lututnya lecet dan baju yang dikenakan sobek. Syaila mengepalkan tangannya dengan kuat, hingga buku-buku tangannya memutih dengan sempurna.
Kabut amarah mulai menyelubungi Syaila. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini, apalagi itu dilakukan oleh seorang pelayan.
Syaila bangkit dan menatap pelayan tersebut dengan mata melotot. Ingin sekali rasanya ia mencincang tangan pelayan itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak bisa disatukan lagi.
"Davin!! Davin!!! Keluar kau!!!" teriak Syaila dengan mengeluarkan seluruh suaranya. Ia sudah tidak tahan menerima hinaan dari para pelayan yang tidak tahu diri. Dalam beberapa jam sudah empat manusia rendah yang berani memukul dan melarang ia masuk. Mulai dari Darren yang ingin mematahkan tanganya, lalu dua pengawal yang mengintrogasi dirinya seperti seorang tersangka. Lalu sekarang seorang pelayan dengan posisi sangat rendah berani mengusir Nyonya besar rumah ini.
...----------------...
...****************...
Waduh kasihan banget di Syaila ya. Kena sial terusπ π π
Jangan lupa
Like
Koment
Gift
__ADS_1
Vote