Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Tanda tangan


__ADS_3

...212...


Cairan hangat dengan rasa latte itu mengalir membasahi kerongkongan Syaila. Rasa lembut dan juga menggoyang lidah begitu memanjakan lidahnya. Namun, di detik berikutnya, tiba-tiba tenggorokannya menjadi panas seperti terbakar, bersamaan dengan nafasnya yang menjadi sesak. Secangkir kopi yang ada di tangannya pun jatuh tumpah mengotori pakaiannya. Ia menoleh ke arah Davin yang malah hanya diam melihat ia kesakitan.


"Aku menambahkan racun dalam kopimu," seloroh Davin santai, tapi berhasil membuat Syaila kaget dengan mata melotot.


"Tenggorokanmu pasti terasa terbakar. Dalam dua jam racun itu akan menyebar ke seluruh pembuluh darah dan kamu akan mati, tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan pada Aelin!" bentak Davin dengan melemparkan amplop coklat di depan Syaila.


Rasa sakit seperti terbakar api membuat Syaila terus bergerak sambil mencekik lehernya sendiri. Namun, ia tersentak kaget melihat bukti-bukti kejahatannya kini bertebaran di depan matanya sendiri. Ternyata Davin sudah tahu semua kebenaran kecelakaan itu. Ia menatap ke arah Davin yang kini menatapnya penuh amarah dan kebencian.


"Se-- selamatkan aku," lirih Syaila dengan meringgis kesakitan.


"Tidak, kamu pantas untuk mati dengan cara seperti ini. Kamu membuat aku membenci Aelin yang tidak pernah mengkhianatiku. Bahkan, kamu membuat aku tidak mengakui anakku sendiri. Wanita murahan, sialan kamu Syaila!" teriak Davin yang sudah dikuasai amarah yang menggebu-gebu. Ia menarik kerah baju istri pertamanya itu, ingin sekali ia memenggal kepala Syaila karena telah membuat ia melakukan kesalahan yang sangat besar.


Ia menyiksa Aelin, merenggut semua orang terdekatnya dan membantai kehidupan wanita malang itu dengan duka. Namun, dendam yang ia tanam untuk Aelin adalah dendam yang salah. Ternyata, istri yang begitu ia lindungilah yang telah mengkhianati dirinya. Ia benar-benar merasa sangat bodoh dan bersalah. Ia kembali terluka, tapi bukan karena luka Aelin melainkan luka yang diberikan Syaila.


"Kamu membuatku menjadi pembunuh dan membuatku percaya pada wanita brengsek sepertimu. Kamu tahu, aku sangat membencimu. Seharusnya aku tidak pernah menikahi wanita licik seperti dirimu, Sya. Kamu mengkhianatiku dengan Arjun, tapi kamu malah memfitnah istriku. Kamu tahu, aku ingin sekali menghancurkan tubuhmu sekarang juga!" teriak Davin lagi dengan kemarahan yang meledak-ledak. Ia mencengkram kerah baju Syaila semakin erat hingga wanita itu semakin kesusahan bernafas.


Tidak ada rasa iba yang terpancar di mata Davin melihat keadaan Syaila yang sedang sekarat. Yang ada hanya kebencian yang mencapai puncak tertinggi. Davin menghempaskan tubuh Syaila dengan keras hingga berguling dari sofa ke lantai. Rasa sakit di tubuh Syaila semakin bertambah saja. Ia menangis tanpa suara sambil memegangi lehernya yang semakin terasa panas, serta sesak yang membuat ia tak bisa bernafas. Otak kecilnya tidak bisa berpikir bagaimana bisa Davin sampai tahu tentang semua ini. Yang ada hanya rasa sakit yang ingin segera ia sembuhkan.


"Sa--kit," ringgis Syaila dengan terbata-bata.


"Kamu ingin penawar racunnya?" tanya Davin dengan seringgai iblis, yang diangguki cepat oleh Syaila.


"Aku bisa memberikannya, tapi tanda tangani surat perceraian ini." Davin melempar surat perceraian yang sudah ia siapkan sebelumnya tepat di wajah Syaila. Hal yang membuat dunia Syaila runtuh seketika. Baru tadi pagi, Davin bersikap sangat manis padanya, tapi kini pria itu berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Ia tidak mau bercerai dengan Davin. Itu sama saja dengan hidup menjadi gelandagan. Ia tidak akan diterima dirumah keluarganya, dan kinipun ia harus pergi dari kehidupan Davin. Kenapa takdir, membalik kisah hidupnya?

__ADS_1


"Ayo tanda tangan!" sentak Davin yang semakin terselubung amarah. Syaila menggeleng perlahan, menolak keinginan Davin.


"Baiklah, kalau begitu aku akan buang penawar racunnya." Davin memperlihatkan botol kecil berwarna putih pada Syaila. Botol yang berisi penawar racun yang ia berikan. Dengan cepat, ia membuka botol tersebut dan hendak membuang cairan itu begitu saja.


"Ja--jangan," cegah Syaila dengan suara hampir hilang sebelum Davin membuang penawar racun itu.


"A--aku, Aku a--akan menan--datanginya." Putus Syaila yang tidak mampu lagi menahan rasa sakit akibat racun di tubuhnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia meraih bolpoin yang tergelatak di dekatnya, lalu berusaha menggoreskan tinta hitam itu di atas kertas surat cerai dengan tangan gemetaran.


Davin merampas surat perceraian itu dengan kasar setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Ia melempar botol penawar itu ke dekat Syaila hingga pecah. Cairan penawar tersebut meluber di lantai.


"Minumlah, aku sudah menepati janji," ujar Davin dengan smirk di wajahnya. Ia merebahkan tubuhnya duduk di sofa untuk melihat bagaimana cara Syaila akan meminum penawar yang sudah tumpah ke lantai.


Syaila mencekik lehernya sendiri, menekan rasa terbakar yang sangat menyakitkan. Ia membalikkan tubuhnya sehingga wajahnya berada tepat di atas cairan penawar. Dengan melupakan harga diri dan ego, ia menjilat cairan penawar tersebut layaknya seperti anjing yang kehausan.


Davin tersenyum tipis melihat penderitaan Syaila. Dendam yang seharusnya dibayar tuntas oleh wanita itu. Wanita yang sudah membuat ia dan wanita yang ia cintai salah paham dan berpisah sangat lama.


"Sudah aku bilang, jangan masuk ke dalam---"


"Nona Aelin dibawa ke rumah sakit. Sepertinya Nona akan melahirkan, Tuan."


Deg.


Lagi-lagi, Davin tertegun. Tubuhnya terasa membeku seketika bersamaan dengan rasa cemas, khawatir, serta bersalah menjadi satu. Selama masa kehamilan Aelin. Ia tidak pernah membahagiakan wanita itu, dan kini, anaknya akan lahir ke dunia. Ayah macam apa dirinya.


"Tuan, Ayo!" pekik Darren lagi yang melihat Davin hanya diam dengan wajah kaget. Dengan perasaan campur aduk dan otak yang tidak dapat berpikir. Davin berlari dengan cepat meninggalkan kantor bersama Darren. Ia harus segera menyusul Aelin ke rumah sakit. Meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah ia perbuat. Meminta pada Aelin untuk membuka lembaran hidup baru bersama anak mereka. Tanpa di duga, air mata Davin jatuh terurai begitu saja. Air mata bahagia karena sebentar lagi anaknya lahir dan juga air mata penyesalan karena sudah membuat wanita yang ia cintai menderita.

__ADS_1


Davin masuk ke dalam mobil, begitupula dengan Darren yang siap di kursi kemudi. Darren melajukan benda besi itu keluar dari parkiran kantor. Bergabung bersama mobil lainnya yang ternyata cukup banyak dan menciptakan kemacetan.


"Darren, cepatlah. Kamu mengemudi sangat lamban, istriku akan melahirkan," ujar Davin cemas.


"Tuan, lihat sendiri kondisi jalanan macet." Darren membela diri. Ia juga sangat ingin sampai di rumah sakit dengan cepat.


"Anakku, laki-laki atau perempuan?" Davin mengulas senyum gembira.


"Entahlah, Tuan. Aku asistenmu bukan dokter. Kita akan tahu setelah sampai di sana."


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


Komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


promosiin


__ADS_2