Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Lumpuh


__ADS_3

...39🕊...


"Apa itu arti nya kamu sudah menikah dengan Aelin?"


"Iya aku sudah mengikat nya dalam rantai kesengsaraan..."


Blarrrrr....


Tubuh Antonio rasa nya langsung hancur di sambar petir saat ini juga, saat mendengar jawaban Davin yang penuh dengan kebencian.


Seluruh tulang nya rasa nya meleleh seperti jelly, bahkan tak mampu untuk menopang berat tubuh nya.


Sedang kan hati nya terasa hancur berkeping - keping, bahkan kini mungkin menjadi abu yang sudah siap di terbang kan oleh angin.


Rasa nya sangat sakit, jika gadis kecil yang kau cintai kini sudah di miliki oleh orang lain.


Dunia nya rasa nya terbalik 360° dengan tangan yang memegang ponsel yang langsung merosot, hingga benda pipih itu jatuh ke lantai begitu saja.


Orang yang menjadi alasan nya bertahan di tempat ini, ternyata adalah orang yang sama yang sudah membuat sang kakak terbujur dalam derita.


Gadis yang selalu tersenyum manis di depan nya kini adalah istri orang lain.


Rasa sakit mana lagi yang lebih menghancur kan diri nya selain ini.


Ia masih sangat tidak percaya, dan ingin berteriak pada Davin jika semua nya tidak benar.


Tidak mungkin gadis manis dan masih remaja seperti Aelin adalah orang yang sudah membuat kakak nya dalam kondisi mengenas kan itu.


"Tidak... Tidak... Tidak mungkin Aelin... Pasti Davin salah ... Pasti dia sudah salah menangkap orang... Tidak mungkin gadis kecil ku yang melakukan itu...." Ringgis Antonio yang terus menyangkal semua perkataan Davin yang terus terngiang di dalam kepala nya.


"Permisi... Kerabat Mr. Arkelin?" Suara lembut langsung menyapa gendang telinga Antonio yang masing duduk dengan tatapan kosong seperti hantu.


Antonio langsung mengerjap, saat di hadapan nya sudah berdiri wanita yang cukup sudah berumur, namun masih terlihat begitu elegant, memakai jas dokter dengan ke dua tangan memakai sarung tangan tipis.


Antonio mengangkat wajah nya, mengusap wajah nya dengan cukup kasar. Menetralisir rasa perih yang sedang bergemuruh di dalam hati nya.


"Dokter..." Antonio langsung bangkit dari duduk nya.


"Apa anda kerabat Mr. Arkelin?" Tanya sang dokter lagi, karna tidak mendapat kan jawaban dari Antonio yang terlihat begitu frustasi dengan pikiran yang menggunung.


"Saya asisten nya dok... Bagimana keadaan tuan saya?" Seru Antonio menetralisir peperangan antara hati nya yang hancur dengan otak nya yang syok, yang kini sedang berkecamuk di dalam diri nya, rasa nya tubuh nya hampir ingin meledak dengan semua hal yang di kata kan sepupu nya, yang benar- benar sudah membuat diri nya hancur di tempat.

__ADS_1


Sang dokter menatap nanar pada Antonio, di mana tatapan nya terlihat sendu, namun wajah nya tersenyum kecut.


"Mr. Arkelin berhasil kami selamat kan.. Namun kondisi nya saat ini benar- benar kritis... Dia terlalu stres hingga membuat salah satu pembuluh darah nya pecah, oleh karna itu saya mengata kan jika sebagian tubuh Mr. Arkelin lumpuh total... Keadaan nya sekarang sedikit membaik, tapi ia tetap dalam kondisi yang sangat buruk alias kritis... Saya tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dengan alat- alat itu...." Jelas panjang lebar sang dokter, sembari tangan nya menepuk bahu Antonio.


Jika Mr. Arkelin berada dalam posisi ini, maka diri nya sangat prihatin pada Antonio karna bagaimana pun, pekerjaan pria muda dan tampan di depan nya ini akan terganggu, atau mungkin di pecat. Pikir sang dokter yang masih melempar tatapan kasihan pada Antonio.


Lagi- lagi Antonio membatu mendengar penjelasan sang dokter.


Ternyata sudah separah itu kondisi Mr. Arkelin, hingga sebagian tubuh nya lumpuh bahkan kondisi nya masih kritis.


Antonio mengepal kan tangan nya erat, Sejak tadi ia terus di hantam dengan kabar buruk, yang terus datang tanpa berkesudahan.


Orang- orang di sekitar diri nya, yang ia anggap adalah orang baik kini satu persatu mulai masuk dalam jurang derita.


Melihat Antonio yang hanya diam tanpa sepatah kata pun membuat sang dokter mengerti jika Antonio membutuh kan waktu sendiri, untuk mencerna musibah ini.


Sebelum pergi, ia mengembang kan senyum tulus dan ramah, serta menepuk pundak pria tersebut, mengisyarat kan jika dia harus kuat, lalu melenggang pergi.


...----------------...


Davin langsung membanting benda pipih itu hingga mengenai tembok.


Prak....


Brak...


Srak...


Prang...


Davin memukul meja kerja nya dengan sangat keras, yah diri nya saat ini sedang berada di kantor nya. Di mana baru saja sepupu laknat nya menelpon diri nya bahkan berani memgumpati diri nya.


Dengan satu kali sapuan tangan kekar nya, sebagian benda- benda yang tertata rapi di atas meja kerja nya, langsung berpindah le lantai, tentu saja dengan kehancuran benda- benda tak berdosa itu, yang kini menjadi pelampiasan amarah Davin.


Rahang Davin terlihat mengeras, dengan sorot mata yang berubah memerah.


Di mana dada bidang nya terlihat turun naik, dengan deru nafas yang di hembus kan kasar.


Mendengar semua perkataan Antonio yang membela Aelin, benar- benar membakar emosi nya.


Seolah perkataan Antonio seperti bensin yang membuat kebencian nya dan amarah nya semakin membara.

__ADS_1


Ia tidak suka jika ada orang lain yang membela Aelin, karna bagi nya gadis itu pantas untuk menerima semua penderitaan ini.


Davin mendongak kan kepala nya, menatap langit- langit ruang kerja nya yang berwarna putih bersih.


"Ha... Ha.... Hua.... Ha...." Dalam sedetik sikap Davin berubah.


Ia tertawa begitu nyaring hingga suara nya memantul- mantul di ruangan yang kedap suata tersebut.


Mungkin jika ada yang melihat nya ia akan di sangka gila, karna baru beberapa saat yang lalu ia menunduk marah, namun seperkian detik kemudian tawa kepuasan menggelegar dari mulut nya.


"Lihat Aelin, satu persatu orang yang ada di sekitar mu akan pergi meninggal kan mu... Ini masih awal nya saja, aku akan membuat mu hidup tanpa satu sandaran pun. Kamu hanya akan hidup sendiri, bersama ku dengan derita..." Gumam Davin menghirup udara yang berterbangan di sekitar nya, menyalur kan udara tersebut untuk masuk ke dalam paru- paru nya yang saat ini terasa sesak.


Davin tersenyum misterius, dengan nafas yang kini mulai teratur.


"Aku ingin melihat bagaimana reaksi mu saat mendengar jika orang yang selama ini menjaga mu, jika orang yang selama ini sangat penting untuk mu... Pergi meninggal kan mu.. Aku ingin kamu mengalami luka yang sama seperti ku... Luka di tinggal kan oleh orang terkasih... Karna kamu harus merasa kan duka itu..." Gumam Davin lagi, lalu merapikan jas nya yang sempat berantakan karna ulah nya yang mengamuk di dalam ruangan.


Davin memencet tombol yang langsung terhubung ke ruangan Cleaning service.


"Cepat ke ruangan presdir , bersih kan ruangan ku..." Titah Davin mutlak.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2