
...112💚...
Ujian untuk kelas XI di laksana kan dengan lancar.
Jam istirahat akhir nya tiba. Membuat semua murid segera berhamburan keluar kelas.
Begitu pula dengan Aelin.
Ia segara bangkit dari duduk nya, dan segera menghampiri Lia yang sedang berjalan keluar.
Dengan cepat, Aelin menarik pergelangan tangan Lia.
Ia tidak terima di acuh kan oleh Lia.
Ia juga ingin tahu mengapa Lia bersikap dingin kepada nya.
Lia yang merasa kan pergelangan tangan nya di jegal membuat langkah kaki nya berhenti.
Kepala Lia memutar untuk melihat siapa yang menghentikan diri nya dan dia adalah Aelin.
"Li..." Cicit Aelin.
Pushhh...
Namun Lia segera menghempas kan tangan Aelin, hingga cekalan tangan Aelin di pergelangan tangan nya terlepas.
Aelin cukup tersentak kaget melihat sikap Lia yang bahkan kini kasar pada nya.
Hal ini membuat Aelin yakin jika Lia sedang marah kepada nya.
Tapi alasan nya?
Aelin sangat mengenal Lia, Lia akan bersikap seperti ini saat dia marah.
"Li kamu marah pada ku?" Tanya Aelin yang sudah sangat merasa tersiksa dengan sikap Lia.
Lia memutar bola mata nya kesal mendengar pertanyaan Aelin.
Tentu saja ia marah, karna Aelin sudah banyak menyembunyi kan hal yang membuat diri nya sangat kecewa.
Tapi dengan polos nya Aelin masih bertanya apa diri nya marah?
Kali ini ia tidak marah, namun ia marah besar.
"Tidak.. Untuk apa aku marah pada mu.. Bahkan aku tidak memiliki hak untuk marah pada mu..." Sarkas Lia dengan sinis yang langsung meremas kuat hati Aelin.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? bukan kah kita sahabat... Kamu tentu punya hak untuk--"
"Aku tidak memiliki hak itu Aelin... Kita sahabat? apa kamu tahu arti kata itu? Bagi ku kata itu hanya lah kata bulshit mu saja... !" Bentak Lia dengan marah.
Ia sudah tidak bisa menahan amarah nya. Ia benar- benar marah.
Aelin terhenyak mendengar ucapan Lia. Bahka Lia membentak nya.
__ADS_1
Ia semakin bingung , kenapa Lia bersikap seperti ini pada nya.
Sebenar nya apa salah nya?
"Apa maksud mu Li.. Kita kan memang sahabat... Kenapa kamu berkata seperti itu?" Keluh Aelin hendak meraih tangan Lia.
Namun Lia segera menghindar, membuat tangan Aelin hanya menangkap udara kosong.
"Sahabat seperti macam apa yang kamu kata kan...--"
"Lia...!" Pekik suara bariton yang langsung membuat ucapan Lia terpotong.
Terlihat Boy menghampiri dua gadis yang sedang bertengkar.
Aelin dan Lia menatap ke arah pria yang kini mendekat.
Aelin sama sekali tidak mengenal siapa pria yang memanggil Lia. Namun dari penampilan nya pria itu terlihat seperti brandal apa lagi dengan telinga nya yang bertindik.
Aelin menatap tajam pada Boy, di mana Boy sedikit ngilu dengan tatapan Aelin yang terasa mencincang tubuh nya.
"Untuk apa kamu kemari?" Tanya Lia menatap tidak suka pada Boy.
Ia sedang berbicara dengan Aelin. Meluap kan semua rasa kecewa yang sejak kemarin menumpuk di dada nya.
Namun pria menyebal kan ini malah datang dan membuat semua nya kacau.
"Siapa dia Li?" Tanya Aelin cukup penasaran. Ia tidak menyangka jika Lia bisa mengenal pria seperti pria di hadapan nya.
"Untuk apa kamu tahu..." Jawab Lia dengan sinis. Membuat Aelin hanya bisa menelan saliva nya paksa.
Ia hanya tidak ingin masalah Aelin dan Lia menjadi konsumsi publik.
Aelin dan Lia mengedar kan pandangan nya. Ternyata memang benar banyak mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Jika kalian ingin bicara tidak di sini... Dan kamu Lia tidak seharus nya kamu membentak Aelin... Kamu bisa membicara kan nya baik- baik... Apa kamu tahu sikap kekanak- kanakan mu itu membuat keributan..." Lanjut Boy dengan suara yang menegas.
Lia hanya mendelik kesal. Terus saja ia yang di salahkan oleh Boy.
Wajar saja karna pria di hadapan nya menyukai Aelin karna itu diri nya yang di salah kan di sini.
"Kalian berdua ikut aku...!" Boy segera menarik ke dua pergelangan tangan Aelin dan Lia dan menggeret ke dua tubuh itu untuk pergi dari kelas.
Aelin hanya pasrah saat tangan nya terus di tarik, sementara Lia hanya mendengus kesal melihat tingkah Boy.
Rasa nya ia ingin memecah kan kepala pria itu.
Ketiga nya berhenti saat mereka sudah sampai di taman sekolah.
Di mana suasana di sekeliling mereka terlihat sepi.
"Di sini lebih aman... Silah kan kalian menyelesai kan masalah kalian di sini..." Ujar Boy yang langsung duduk pada bangku panjang di belakang nya.
"Kamu membawa ku ke sini hanya untuk melindungi Aelin bukan Boy..?" Tanya sarkas Lia dengan menatap Boy bermusuhan.
__ADS_1
Aelin yang mendengar hal tersebut semakin bingung dan tidak mengerti.
Kenapa Lia mengata kan hal itu pada pria bertindik itu.
Boy memicing kan mata nya, saat mendapat kan tuduhan menjijikkan dari Lia.
Gadis bar- bar di hadapan nya memang mempunyai mulut berbisa.
"Kenapa kamu menuduh ku seperti itu Lia..? Berhenti berpikiran buruk pada ku.. Aku membawa mu ke sini karna aku ingin kalian berdua bicara dengan cara baik- baik... Karna jika kalian berbicara dengan emosi meledak- ledak maka semua nya tidak akan selesai..." Balas Boy tidak terima.
"Tapi kamu menyalah kan semua nya pada ku.. Wajar aku bersikap seperti ini karna dia... Sahabat macam apa yang menyembunyi kan banyak hal dari sahabat nya.. Dia bilang aku sahabat nya tapi dia memperlakukan ku tidak seperti seorang sahabat.. Wajar jika aku kecewa dan marah pada nya.." Lia membela diri nya. Di mana tangan nya menunjuk pada Aelin.
"Aku tahu dia salah Lia.. Tapi kamu juga salah... Kamu langsung memvonis Aelin tanpa mau mendengar kan penjelasan nya.. Sekarang kata kan pada ku apa kamu sudah menjadi sahabat yang baik?"
Skakmat.
Bibir Lia langsung bungkam, perkataan Boy benar- benar membuat pikiran nya terbuka.
Sementara Aelin masih diam tidak bergeming. Ia hanya mendengar perdebatan dua orang di depan nya. Yang sedang membicara kan diri nya.
Menyembunyikan sesuatu?
Sahabat yang buruk ?
Aelin belum bisa mengerti apa pun.
Lia menatap Aelin. Raut rasa bersalah terlihat dengan jelas di wajah Lia.
Seharus nya ia tidak sekasar itu pada Aelin. Pada kenyataan nya apa yang di kata kan Boy memang benar.
Ia tidak bisa memvonis Aelin tanpa mendengar penjelasan Aelin.
Terdengar sangat tidak adil dan egois.
"Lin maafin aku..." Lirih Lia yang langsung menghambur memeluk tubuh Aelin.
Aelin pun membalas pelukan Lia.
"Iya tidak apa- apa tapi sebenar nya ada apa?" Aelin mengusap punggung Lia yang sudah gemetar karna menangis.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙