Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
sampai


__ADS_3

...58🌲...


Davin meninggal kan Aelin mencari kotak p3k untuk mengobati tangan Aelin yang semakin lama terus mengeluar kan darah.


Davin menatap pergerakan Davin yang begitu tergesa- gesa.


Ia bahkan melihat betapa kalang kabut nya Davin karna mengkhawatir kan nya.


Namun sikap Davin yang seperti ini membuat diri nya terjebak dalam kebingungan antara kebenaran atau hanya sebuah sandiwara belaka.


Davin kembali dengan kotak p3k yang ada di tangan nya.


Ia segera berlutut di depan Aelin, dan menarik tangan Aelin yang terluka.


Membersih kan telapak tangan Aelin yang penuh dengan darah secara perlahan.


"Assshhhh...." Ringgis Aelin saat luka di tangan nya terasa perih.


Wajah Davin langsung mengerjit, seolah dia juga merasa kan rasa sakit luka itu.


"Maaf aku akan melakukan nya lebih pelan lagi... Tahan lah sedikit lagi..." Davin meniup luka Aelin, supaya luka itu tak terlalu sakit.


Aelin menatap lekat pada Davin yang kini berjongkok di hadapan nya.


Bahkan Davin kini mengobati luka nya dengan penuh kelembutan.


Sebenar nya apa kebenaran nya?


Teriak Aelin dalam hati namun tak mampu untuk menyuarakan nya.


...----------------...


Akhir nya pesawat mewah yang di tumpangi akhir nya sampai di kota tujuan.


Kini terlihat Aelin dan Davin yang berjalan beriringan ke tempat pengambilan koper mereka.


Saat koper Aelin tiba, Aelin hendak meraih koper nya namun segera di hentikan oleh Davin.


"Biar aku yang membawa nya.. Tangan mu sedang terluka sayang..." Seru Davin dengan tersenyum penuh perhatian, yang cukup membuat Aelin terpukau.


Namun Aelin tidak membantah atau pun menolak tawaran Davin.


Ia hanya diam tanpa mengata kan apa pun usai kejadian di atas pesawat.


Ke dua nya kembali berjalan beriringan menuju ke pintu Airport di mana Davin sudah meminta anak buah nya untuk menjemput nya.


Suasana siang kali ini cukup terik, di mana mereka langsung di sapa oleh sengatan sinar matahari saat keluar dari pintu utama airport.


Aelin langsung terhenyak saat wajah nya yang terkena sina matahari langsung teduh, karna Davin merentang kan jas di atas kepala nya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu melakukan ini, semua orang melihat ke arah kita..." Sinis Aelin yang merasa risih melihat tatapan orang yang tertuju ke arah mereka.


"Sekali saja kau jangan memprotes apa yang aku lakukan... Diam dan nikmati saja keteduhan ini..." Ujar Davin dengan penuh perhatian walau diri nya terkena terik nya cahaya matahari.


Tak berselang lama, sebuah mobil berhenti di depan mereka.


Di mana dari dalam mobil keluar seorang pria dengan tubuh tegap yang langsung membungkuk hormat ke arah Davin dan Aelin.


"Kau ini lama sekali.. Gara- gara kau istri ku harus menunggu..." Gertak Davin menunjuk kan wajah garang pada pria yang tak lain adalah pengawal nya.


"Maaf kan saya tuan..." Seru sang pengawal yang lagi- lagi membungkuk.


Aelin mendongak ke arah Davin, di mana wajah tampan itu terlihat begitu kesal.


Sungguh kini Aelin merasa seperti seorang ratu, karna perlakuan Davin yang begitu lembut dan manis.


Bahkan Davin tidak membiar kan kulit nya terkena sinar matahari, sementara dia membiar kan tubuh nya terkena sengatan matahari yang cukup terik.


"Ayo..!" Seru Davin menggiring tubuh Aelin untuk masuk ke dalam mobil, di mana sang pengawal telah membuka mobil untuk ke dua majikan nya.


Mobil mewah tersebut langsung melaju dengan kecepatan normal, membelah jalanan yang begitu asing untuk Aelin.


"Tuan ke mana tujuan kita, ke hotel atau ke rumah sakit..?"


"Ke rumah sakit...!" Sahut Aelin dengan cepat saat mendengar pertanyaan dari sang pengawal.


Sang pengawal melirik ke arah Davin lewat spion depan , memastika jawaban yang tepat ke mana diri nya akan mengantar sang tuan.


"Tidur lah... Kau terlihat mengantuk sayang...!" Seru Davin yang lagi- lagi menunjuk kan perhatian nya.


"Tidak.. Aku tidak mengantuk... Berhenti sok perhatian pada ku..." Jawab Aelin dengan nada sinis, meski hati nya marah pada diri nya karna mengata kan perkataan sinis itu.


"Sampai kapan kau akan mengata kan jika aku sok perhatian..? Apa sedikit pun kau tidak bisa melihat ketulusan di mata ku..." Davin menyugar kepala nya frustasi, ternyata sangat sulit untuk menyakin kan seorang gadis remaja.


Menyakin kan pemegang saham untuk terus berinvestasi di kantor nya saja tidak sesulit menyakin kan Aelin.


Menyakin kan Aelin sungguh menguras danau kesabaran yanga ada dalam diri nya.


Sejak tadi ia sudah ingin melampias kan dan memperlihat kan taring nya, namun ia harus menahan semua nya, agar semua rencana nya tidak kacau atau keluar dari alur.


Aelin sedikit merasa bersalah dengan perilaku kasar nya kepada Davin.


Namun apa lah daya diri nya, yang masih di jerat oleh ketakutan dan kecurigaan pada pria itu.


Apa ia harus percaya dengan apa yang tunjuk kan Davin?


...----------------...


Tak butuh waktu terlalu lama, akhir nya mobil Davin tiba di area rumah sakit.

__ADS_1


Bangunan megah yang menjulang beberapa lantai dengan tulisan hospital besar yang menempel dengan kuat di dinding depan.


Akhir nya ia sampai di rumah sakit, dan ia akan segera bertemu dengan papy nya. Batin Aelin dengan wajah berbinar bahagia.


Ia berharap setelah bertemu dengan sang ayah, kondisi sanga ayah segera membaik.


Bukan kah diri nya adalah segala nya untuk sang ayah?


Dan ia yakin kehadiran nya mampu untuk membuat sang ayah keluar dari masa kritis nya.


Davin mengenggam tangan Aelin, yang langsung membuat Aelin cukup tersentak.


"Kali ini jangan menolak ku..." Ujar Davin dengan tatapan memohon, yang tak mampu untuk Aelin tolak, sehingga Aelin membiar kan Davin menggandeng tangan nya, sembari ke dua nya berjalan masuk ke dalan rumah sakit, seperti sepasang kekasih yang terlihat begitu mesra dan harmonis, tanpa orang lain ketahui jika di balik itu semua ada luka yang besar.


Aelin langsung berlari dengan cepat, saat melihat Antonio yang sedang berdiri di depan sebuah pintu kamar inap rumah sakit.


"Kak Antonio!!!" Panggil Aelin dengan cukup keras membuat tubuh Antonio berbalik menatap ke arah sumber suara.


Aelin langsung berlari berhamburan melepas pegangan tangan Davin dan memeluk Antonio. Yang sedikit terkejut dengan kehadiran Aelin di rumah sakit.


Krak...


Wajah Davin seketika menjadi pias, saat melihat pemandangan di depan nya, di mana Aelin sedang memeluk Antonio yang tak bukan adalah saudara sepupu sekaligus ipar nya.


Hati nya sedikit nyilu dan retak melihat pelukan Aelin yang begitu erat dan penuh kasih sayang pada Antonio.


Entah mengapa ia sedikit kesal melihat hal itu.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2