
...192...
Syaila merogoh tas mahal miliknya yang diletakkan di atas meja. Mengeluarkan benda persegi dengan bentuk pipih yang biasa di sebut ponsel.
Ia bukanlah tipe orang penyabar, menunggu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini. Syaila menekan salah satu nomer tidak dikenal, lalu mendekatkan ponsel pada daun telinganya.
Tut!
Tut!
Tut!
Hanya terdengar suara nada sambung dari ujung telpon, tanpa ada tanda-tanda panggilannya di angkat.
"Kau tidak perlu menelpon, aku sudah ada di sini," ujar suara bass mengagetkan Syaila.
Syaila menoleh ke arah samping, senyum di bibirnya seketika terbit dengan sempurna. Terlihat seorang pria gagah dengan wajah yang begitu tampan menatap ke arahnya dengan datar. Seolah pria itu tidak senang melihat dirinya.
Ingatan Syaila kembali mundur, saat moment kebersamaan ia dengan pria di depannya yang tak lain adalah Arjun. Pria yang selalu memberikan kepuasaan di atas ranjang. Pria yang selalu berhasil membuat Syaila melayang terbang tinggi ke awang-awang, dan lupa jika dirinya sudah memiliki suami. Namun, Arjun adalah pria sewaan yang hanya bertugas memuaskan dirinya.
Arjun menarik kursi dan duduk tepat di depan Syaila, di mana meja bundar kecil menjadi sekat di antara mereka. Arjun masih tidak percaya, jika Syaila ternyata selamat dari kecelakaan maut itu. Awalnya ia mengira jika Syaila telah mati. Sehingga Tante-Tante seksi ini tidak pernah menghubungi dirinya.
"Ternyata kau lolos dari kecelakaan maut itu," ucap Arjun dengan suara serak yang mampu menggoda Syaila.
Syaila meraih tangan Arjun, mengelus punggung pria itu dengan penuh damba. Jujur, ia sangat merindukan pria muda ini. Namun, ia tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama karena tujuan menemui Arjun adalah untuk menghancurkan seseorang.
"Aku tidak akan mati semudah itu, sayang. Kamu terlihat semakin menarik dan tampan. Aku yakin, pasti banyak wanita hidung belang yang menyewa jasamu," kekeh Syaila denga tawa sumbang.
Arjun segera menarik tangannya, membuat Syaila mencebikkan bibirnya.
"Biarpun aku menjual diri Nona Syaila. Tapi, aku tidak serendah yang kau pikirkan. Aku menyerahkan keperjakaanku padamu, dan aku tidak pernah mengizinkan wanita hidung belang lainnya menyentuhku." Arjun menjeda kalimatnya, menatap wanita dengan usia yang jauh di atasnya dengan tajam.
__ADS_1
"Aku cukup kaget, saat kau kembali menghubungiku. Tapi, sekarang aku tidak akan melakukan hal konyol itu lagi. Cukup aku melakukannya di masa lalu sebagai sebuah kekhilafan. Jadi, jika kamu membutuhkan pria untuk memuaskanmu di atas ranjang, maka carilah pria lain karena aku akan menolak tawaranmu," lugas Arjun, lalu segera beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Namun, Syaila segera mencekal tangan Arjun, membuat Arjun menatap Syaila dengan tatapan tidak suka.
"Kau sungguh percaya diri, jika aku akan menyewa jasamu. Akan tetapi, sayangnya kamu salah Arjun," ujar Syaila tersenyum miring. Arjun mengerjitkan dahinya bingung, jika bukan karena ingin menyewa jasanya, lalu untuk apa Syaila menghubungi dirinya?
Syaila merogoh sesuatu dari dalam tas selempang miliknya. Lalu, meletakkan sebuah foto dengan posisi terbalik di atas meja.
"Yakin, kau tidak ingin duduk dan mendengarkan aku?" tanya Syaila melihat Arjun yang semakin penasaran.
Mau tidak mau, akhirnya Arjun kembali duduk di kursi. Sebenarnya ia tidak ingin lagi berurusan dengan Syaila. Namun, ia juga penasaran dengan foto yang ada di atas meja.
Arjun menyentuh foto itu, lalu membaliknya. Dalam sekejap kedua mata Arjun langsung melebar dengan sempurna saat melihat wajah dalam foto tersebut, yang tak lain adalah foto Aelin yang tengah tersenyum dengan manis.
Rasa rindu yang menumpuk, tiba-tiba menyeruak ke dalam relung hatinya. Kenangan saat Aelin terus menempel di sekitarnya kembali teringat, seperti sebuah video yang berputar dengan otomatis. Tatapan Arjun terlihat sendu.
Syaila yang memperhatikan perubahan ekspresi Arjun tersenyum miring. Ia sudah menduga jika foto itu akan sangat ber-efek pada Arjun. Ia tidak bodoh, ia sudah menyusun semuanya dengan sangat rapi. Sebelum ia bertemu dengan Arjun, ia mencari tahu siapa gadis yang di sukai pria itu. Dan sungguh sangat beruntung, ternyata Arjun menyukai Aelin. Takdir memang selalu mendukung dirinya. Sepertinya alam juga ingin melihat hidup Aelin hancur.
"Kau tentu mengenal siapa wanita yang ada di dalam foto itu," ujar Syaila dengan menyeruput minumannya nikmat.
Syaila tersenyum kecut, sebelum kembali mengeluarkan suara.
"Dia adalah maduku, alias istri kedua suamiku."
Deg!
Jedder!
Bagai disambar petir di siang bolong. Tubuh Arjun langsung lemas seketika. Ia tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya.
Aelin sudah menikah, dan menjadi istri kedua dari suami Syaila. Wow, sungguh lelucon yang sangat tidak masuk akal.
"Sepertinya, kepalamu mengalami gangguan akibat kecelakaan itu," kata Arjun tidak percaya.
__ADS_1
Syaila mencebikkan bibirnya. Lalu meletakkan satu foto lagi di depan Arjun.
"Aku tahu, kamu tidak akan percaya semudah itu. Tapi, saat kau melihat foto ini jangan katakan jika foto ini di edit. Aku yakin, kamu cukup pintar untuk mengenali foto yang di edit atau tidak."
Arjun segera meraih foto yang selanjutnya yang diberikan oleh Syaila, dan lagi-lagi tubuhnya terasa disambar petir dengan jutaan volt. Bahkan, kedua bola matanya hampir keluar saat melihat foto pernikahan, di mana ia bisa melihat sepasang pengantin dengan Aelin sebagai mempelai wanita.
Hati Arjun terasa hancur berkeping-keping. Dadanya terasa begitu sesak melihat kenyataan pahit ini. Ia merasa dikhianati oleh Aelin. Ia masih ingat saat Aelin mengatakan jika hanya ia satu-satunya yang dicintai oleh Aelin. Namun, ternyata gadis itu malah menikah dengan pria lain. Ternyata Aelin hanya mempermainkan dirinya. Arjun sedikit bergeming, saat menyadari jika wajah pria di dalam foto itu tidaklah asing. Arjun berusaha mengingat-ingat pemilik wajah itu.
Rahang Arjun mengetat dengan sempurna, di mana gejolak amarah dalam dirinya siap meledak detik ini juga. Ia ingat jika pria itu adalah pria yang memukulnya di depan gerbang sekolah saat ia memeluk Aelin. Ternyata pria itu adalah suami Aelin.
"Sial, pengkhianat," umpat Arjun meremas foto yang ada di tangannya.
"Ck, ck sayang sekali kau tidak bisa memiliki Aelin. Kau kalah saing dengan suamiku yang berbeda 10 tahun dari usia Aelin. Ternyata Aelin menyukai pria dengan tipe Om-Om," ejek Syaila menaburkan garam pada luka yang masih basah.
"Tutup mulutmu!" bentak Arjun dengan wajah merah padam karena amarah.
"Aku mengajakmu bertemu, untuk memisahkan Aelin dari suamiku. Aku bukan wanita yang baik, yang bisa membagi suaminya dengan wanita lain. Aku tahu, kamu mencintai Aelin. Oleh sebab itu, aku akan membuatmu kembali memiliki Aelin," ujar Syaila menjelaskan tujuannya bertemu dengan Arjun.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
Vote
__ADS_1