
...179...
Aelin berhenti di pinggir jalan. Ia menoleh ke samping kiri dan kanan. Namun, ia tidak melihat keberadaan mobil Davin. Seharusnya Davin sudah datang untuk menjemputnya.
Aelin memilih untuk berteduh di sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempatnya. Cuaca hari ini cukup cerah tanpa awan, sehingga cahaya matahari begitu menyengat kulit.
Aelin mengeluarkan ponselnya, menekan nomer ponsel Davin. Namun, Aelin menghembuskan nafasnya kasar saat yang menjawab hanyalah operator.
"Apa Dav lupa untuk menjemputku? Semakin ke sini sikapnya semakin berubah. Dia sering meninggalkanku tanpa memberi alasan," gumam Aelin dengan wajah penuh kekecewaan.
Aelin memilih menunggu Davin. Ia tidak berniat sedikitpun untuk memesan taksi online atau menaiki angkutan umum.
Tanpa Aelin sadari, seorang sosok hitam bertubuh tegap sedang memperhatikan dirinya dari balik tembok sebuah bangunan rumah.
Sosok hitam itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel lalu mendekatkan ke telinga.
"Target sudah temukan!" seru sosok hitam itu yang ternyata adalah seorang pria.
"Lakukan!" satu kata perintah dari ujung telpon, membuat pria tersebut bersiap. Ia memutus panggilan telpon tersebut, dan kembali memasukkan benda persegi itu ke dalam saku celananya.
Pria dengan pakaian serba hitam itu memakai tudung kepala, sehingga wajahnya tertutupi dan hanya menyisakan ke dua mata dengan sorot siap menerkam.
Dengan gerakan cepat, pria tersebut melompat ke atas tembok pagar bangunan, lalu berjalan dengan pelan dan cepat mendekat ke arah Aelin.
Aelin menatap layar ponselnya. Lagi-lagi Davin menghilang. Davin sudah mengatakan akan menjemputnya pulang sekolah, tapi sepertinya dia mengingkari janjinya lagi.
Tidak ingin terus menjadi pajangan di pinggir jalan. Aelin memutuskan untuk memesan taksi online. Percuma ia menunggu Davin, yang mungkin lupa akan dirinya, sama dengan saat ia di tinggalkan begitu saja di hotel.
Hap!
"Ekkhmmm."
Tepat dari belakang Aelin, sosok pria dengan pakaian hitam yang terus mengintai Aelin membekap dan menggeret tubuh Aelin masuk ke dalam gang sepi.
Aelin yang belum bisa mencerna apapun, merasa panik dan ketakutan. Saat menyadari jika ada orang yang membekap dan menggeret tubuhnya entah kemana.
Aelin berusaha melawan, dengan menyikut beberapa kali perut penculik tersebut. Bahkan mencoba menarik tangan kekar yang Aelin tahu jika tangan tersebut adalah tangan seorang pria.
Namun, usaha Aelin sia-sia belaka. Ia seperti melawan patung yang meski dipukul tidak merasakan sakit sedikitpun. Akan tetapi, Aelin tidak menyerah begitu saja. Ia terus mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman penculik itu.
Bruk!
__ADS_1
"Aaahhhhh" ringgis Aelin kesakitan saat tubuhnya didorong dengan keras hingga membentur tembok di belakangnya.
Aelin menatap ke arah pria berpakaian serba hitam itu. Sorot mata pria itu terlihat sangat mengerikan, seolah ingin melenyapkan dirinya.
"A--apa yang kamu inginkan?" tanya Aelin dengan suara terbata-bata. Air matanya sudah mengalir dengan sangat deras. Ia ketakutan bahkan sangat takut. Tubuhnya gemetar dengan cukup hebat dengan keringat dingin yang keluar dari tubuhnya.
Tubuh Aelin merosot jatuh ke tanah. Ke dua lututnya terasa mati rasa dan lumpuh seketika. Aelin memundurkan tubuhnya hingga mentok pada sudut tembok.
"Berikan ponselmu!" seru pria tersebut dengan suara dingin menusuk tulang.
Aelin mengeratkan genggaman tangannya pada ponsel miliknya. Mengapa pria ini menginginkan ponselnya? Jika ditelisik ponselnya bukanlah ponsel mahal yang jika di jual akan menghasilkan uang banyak.
"Tidak!" teriak Aelin, yang berusaha bangkit dan hendak berlari. Namun, baru satu langkah kakinya bergerak, tubuhnya kembali jatuh tersungkur di tanah karna pria tersebut menyandung kaki Aelin.
Aelin meringgis kesakitan, merasakan ke dua lututnya terasa perih. Terlihat bercak darah segar bercampur tanah mengalir dari ke dua lututnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, berikan ponsel itu dan aku akan melepaskanmu!" seru pria itu dengan suara yang meninggi.
Tidak, aku tidak akan memberikan apa yang dia inginkan. Aku yakin ada sesuatu di ponselku yang sangat pentingnya, tapi apa?
Pria tersebut berjalan mendekat ke arah Aelin yang sudah terlihat acak-acakan. Tangannya terulur hendak meraih ponsel Aelin yang ada pada saku seragam gadis itu.
Srasss!
"Aaaaa!!!" teriak pria tersebut saat matanya kemasukan tanah. Rasanya sangat sakit dan perih. Aelin segera bangkit dan berlari menjauh. Ia harus berlari sejauh mungkin agar pria itu tidak menangkapnya.
Pria tersebut terus mengucek ke dua matanya. Di saat matanya berhasil kembali melihat, mangsanya sudah berlari cukup jauh.
Tidak ingin Aelin kabur lebih jauh. Pria itu segera melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Lompatan pria itu begitu sempurna sehingga bisa mendahului Aelin.
Aelin menoleh ke belakang. Ia tidak menemukan sosok pria itu. Hal itu membuat ia berpikir dimana penculik itu?
Bruk!
"Aaaauuuu!" Tubuh Aelin terpental cukup jauh saat menerima tendangan keras di belakang punggungnya, bahkan tubuh Aelin sampai berguling-guling di tanah.
Aelin berusaha bangkit, tapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Ia yakin jika kini tubuhnya pasti terluka cukup banyak.
Pria berpakaian hitam berjalan mendekat ke arah Aelin. Lalu tanpa iba menginjak tangan Aelin yang terlentang.
"Aaaaa!!!" teriak Aelin kesakitan, rasanya tangannya remuk seketika. Air mata mengalir dengan begitu deras diiringi dengan teriakan kesakitan yang terdengar menyayat hati.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku. Hiks ... hiks ... ini sangat sakit," mohon Aelin di sela isak tangisnya.
"Aku sudah bilang jangan melawan dan serahkan ponselmu, tapi kamu memilih melawan dan inilah akibatnya," sarkas pria itu dengan geram. Lalu mengambil ponsel Aelin.
Buk!
Bruk !
Tubuh pria itu terpelanting dengan keras ke belakang. Ia sedikit lengah dan berhasil terkena pukulan mendadak yang entah datang dari mana.
Tangis Aelin semakin pecah dan kencang, saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Kak Antonio, hiks," lirih Aelin dengan perasaan lega. Akhirnya ada seseorang yang menyelamatkan dirinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Antonio dengan khawatir dan cemas. Ia segera membantu Aelin berdiri. Aelin hanya menangis, lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
Rahang Antonio mengetat dengan sempunra, sorot matanya memerah karna amarah. Antonio menoleh ke arah pria yang sudah berani melukai Aelin. Namun, dengan cepat pria itu berlari dengan kencang.
Melihat pria itu kabur, Antonio hendak mengejar pria itu. Namun, Aelin langsung menarik lengan Antonio.
"Lepaskan Ae, aku harus memberi pelajaran pada pria itu," ujar Antonio dengan kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Jangan kak, biarkan saja dia pergi. Jangan di kejar, dia orang yang sangat berbahaya. Dia bisa menyakitimu," cegah Aelin dengan mempererat pegangannya di lengan Antonio.
Antonio menatap Aelin yang sudah pucat karna ketakutan. Ia langsung memeluk gadis itu, memberikan kehangatan untuk menghilangkan rasa takut Aelin.
Aelin semakin menangis sejadi-jadinya. Apa yang baru saja terjadi padanya sangat mengerikan. Ia sangat takut, jika Antonio tidak datang tepat waktu. Mungkin pria itu sudah menghabisi dirinya.
"Ssstt, tenanglah ada aku di sini," ucap Antonio menenangkan Aelin. Meski ia masih merasa tidak terima dan sangat marah.
Berlarilah dan pergi sejauh yang kamu bisa, tapi aku pasti akan menemukanmu. Batin Antonio bertekad akan menangkap pria yang sudah melukai Aelin.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like
Koment
Gift
__ADS_1
Vote