
...60🌲...
Aelin berjalan mendekat ke arah Mr. Arkelin yang sedang terbujur tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Hati Aelin rasa nya teriris sembilu yang begitu tajam, saat melihat begitu banyak peralatan medis yang kini menempel di tubuh ringkih ayah nya.
Air mata Aelin luruh seketika, ia tidak bisa membendung kesedihan nya saat melihat kondisi sang ayah yang begitu meprihatin kan.
Bagaimana ia begitu kejam pada ayah nya, hingga tidak berbicara dengan nya?
Bagaimana ia begitu kejam dengan mengabaikan telpon dari ayah nya.?
Andai kan waktu bisa di putar kembali, ia tidak akan melakukan hal itu.
Ayah nya adalah satu- satu nya harta yang ia miliki.
Satu - satu nya keluarga yang ia punya di tengah kejam nya kehidupan dunia.
"Hiks... Hiks...." Bibir Aelin bergetar dengan suara isak tangis yang di tahan.
Ia tidak ingin sang ayah terbangun dengan suara tangisan nya.
Semua nya begitu cepat terjadi, tidak ada jeda untuk membiar kan diri nya bernafas untuk sejenak.
Belum usai permasalahan hidup nya yang begitu rumit, namun ia sudah di gempur lagi dengan masalah yang lain nya.
Seolah masalah sangat menyukai diri nya. Hingga terus menempeli diri nya.
Ke dua mata rapuh, Mr. Arkelin terbuka dengan perlahan saat telinga nya mendengar suara tangis seseorang.
Aelin langsung menggengam dengan penuh kasih sayang, tangan sang papy yang rasa nya begitu dingin.
Sementara Air mata nya tak berhenti untuk terus mengalir.
"A--- Aelin..." Lirih Mr. Arkelin dengan suara berat dan tersendat.
"Papy jangan ngomong dulu..." Aelin menggeleng kan kepala nya, meminta sang ayah untuk berhenti bicara.
Karna ia dapat melihat sang papy sangat kesulitan untuk mengeluar kan suara.
Mr. Arkelin menelan saliva nya paksa, menahan rasa sakit yang saat ini bersarang di jantung nya.
Namun ia sedikit senang saat melihat putri kesayangan nya ada di sini.
Namun ia juga tidak ingin melihat Aelin menangis.
"Sayang... Berhenti menangis... Putri papy sangat jelek saat menangis,, jika kau berhenti menangis papy akan membeli kan mu permen sayang..." Ujar Mr. Arkelin dengan nafas yang di paksa kan.
Mencoba menghibur putri nya dengan embel - embel permen, seperti yang biasa ia lakukan untuk menghibur Aelin sejak kecil.
__ADS_1
"Papy... Hiks... Hua.. Hisk... Hmmm" Tangis Aelin semakin mengencang, mendengar perkataan sang papy yang malah terdengar menyedih kan.
Hati nya rasa nya begitu nyilu, mendengar ucapan sang papy yang membujuk nya untuk berhenti menangis seperti saat ia kecil dulu.
Aelin berusaha mengulas senyum di bibir nya, mencium tangan Mr. Arkelin yang sudah membesar kan diri nya dalam pelukan hangat seorang ayah.
Menghapus air mata nya, meski terasa begitu susah.
"Papy.. Aelin tidak akan menangis lagi.. Tapi papy janji akan membeli kan Aelin permen kan? Dan itu akan terjadi jika papy sembuh... Papy jangan menakuti Aelin Py... Aelin tidak bisa melihat papy dalam kondisi seperti ini... Hiks... Hiks..." Tangis Aelin kembali tumpah.
Sungguh ia sudah berusaha menahan tangis nya namun itu terasa begitu sulit.
Mr. Arkelin tersenyum melihat Aelin yang terus saja menangisi diri nya.
Hal itu membukti kan jika putri nya sangat menyayangi diri nya.
Tangan Mr. Arkelin terangkat menghapus air mata di pipi Aelin dengan begitu lembut.
"Iya sayang.. Maaf kan papy sudah membuat mu takut, papy ku ini kuat sebentar lagi papy akan sehat kembali... Kita bisa membeli permen yang kau sukai, dan kita juga akan mengunjungi makam momy mu... Papy sudah sangat merindukan momy mu sayang.. Jadi berhenti lah menangis..."
"Papy...!!" Pekik Aelin dengan suara tercekat, lalu menghambur memeluk tubuh sang papy.
Meluap kan rasa sayang dan cinta , berharap kondisi sang papy akan membaik.
Mr. Arkelin membalas pelukan hangat sang putri, rasa nya ini adalah pelukan terhangat Aelin untuk nya.
Aelin mengurai pelukan nya, mengontrol kesedihan nya.
Ia tidak boleh terlihat terlalu sedih di hadapan sang papy, karna ia tidak ingin papy nya memikir kan kesedihan nya.
Mr. Arkelin mengusap puncak kepala putri nya, menatap lekat dan dalam pada ke dua manik mata indah Aelin yang begitu mirip dengan istri nya.
"Kau kemari bersama siapa sayang?" Tanya Mr. Arkelin dengan senyum yang terlihat di paksa kan.
"Aku bersama om Davin py..." Jawab Aelin tak bersemangat.
Mr. Arkelin terlihat kecewa saat mendengar jawaban tak bersemangat Aelin.
Apa putri nya masih belum bisa menerima Davin sebagai suami ?
Tanya Mr. Arkelin dengan menarik tangan putri nya, dalam genggaman tangan nya yang bergetar.
"Sayang... Apa kau bahagia dengan Davin? Papy mu tidak salah kan menikah kan mu dengan Davin ?. Papy hanya tidak ingin kau menjadi gadis ternoda tanpa sebuah pertanggung jawaban nya sayang... Maaf kan papu karna telah membuat mu menikahi Davin." Nada bicara Mr. Arkelin sedih, dengan ke dua pelupuk mata nya yang terlihat berair.
"Ini bukan salah siapa- siapa papy.. Semua nya sudah terjadi tidak ada yang perlu di salah kan... Aku masih mencoba untuk menerima dia sebagai suami ku... Tapi papy tahu semua nya begitu cepat dan tidak mudah..." Kepala Aelin menunduk, di mana ia menatap lantai kamar rumah sakit.
"Aelin dengar kan papy sayang,,, kau sudah menjadi istri nya Davin... Dalam rumah tangga tidak boleh ada jarak antara suami dan istri karna hal itu membuat segala nya rumit... Papy tahu jika kau menikah dengan Davin karna sebuah kesalahan. Tapi dia tetap suami mu... Coba lah buka hati mu untuk nya.. Dia adalah pria yang baik, cobalah untuk menerima diri nya.. Kau tahu dulu Momy sangat menghormati papy, ia menjadi kan papy seorang raja... Hinga papy mu ini sangat mencintai diri nya..." Mr. Arkelin menjeda kalimat nya.
Mengangkat wajah menunduk Aelin untuk menatap diri nya.
__ADS_1
"Jadi papy mohon, jalani kodrat dan kewajiban mu sebagai seorang istri.. Jangan biar kan suami mu mengeluh... Bukalah hati mu untuk nya.. Coba lah untuk mencintai nya.. Papy akan sangat bangga pada mu jika kau berhasil melakukan semua itu..." Lanjut Mr. Arkelin seperti sebuah permohonan di telinga Aelin.
Harus kah ia menerima Davin menjadi suami nya?
Melupakan kesalahan yang pria itu perbuat.?
Menyingkir kan rasa benci dalam diri nya dan mencoba untuk mencintai dia?
Tapi apa yang di kata kan sang ayah memang ada benar nya.
Jika Davin ingin menghancur kan hidup nya, untuk apa Davin memperlakukan diri nya seperti seorang ratu.
Selalu membela diri nya dengan melawan ibu nya sendiri.
Bahkan ia melindungi Aelin meski dari sengatan matahari, dan membiar kan diri nya terkena terik nya matahari asal diri nya merasa teduh.
Jika Davin ingin menghancur kan nya, kenapa ia tidak di siksa?.
"Seperti nya aku harus mencoba membuka hati untuk Davin... Lebih baik menerima kenyataan dari pada terus melawan takdir yang sudah di garis kan..." Batin Aelin dengan sebuah keputusan yang ia ambil.
Aelin mengangguk kan kepala nya, menyetujui dan menyanggupi permintaan sang ayah.
Mr. Arkelin tersenyum lebar, rasa sakit nya terasa sedikit menghilang dengan jawaban sang putri yang akan menerima Davin sebagai suami nya.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1