Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Pingsan


__ADS_3

...200...


"Liv, kamu pilihin baju buat siapa?" tanya Aelin memastikan apa yang ia pikirkan benar atau salah.


"Davin."


Deg.


Jantung Aelin terasa dicabut paksa dari tempatnya. Kedua tangannya mengepal begitu erat meremas pakaian yang ia bawa. Ternyata Livia memang memilih kemeja untuk Davin, suaminya. Rasa curiga dalam dirinya pun semakin mengakar dengan kuat. Bisa ia lihat, betapa semringah dan bahagia wajah Livia saat memilih pakaian untuk Davin. Apa semua hal itu wajar, bila dilakukan oleh sepupu yang mungkin saja memiliki perasaan pada suaminya.


Kedua mata Aelin seketika berkaca-kaca. Ada rasa yang ingin meledak dengan kecemburuan serta amarah yang bercampur menjadi satu padu siap diledakkan. Namun, ia memilih menahan saat pikiran positif melawan keraguan dalam dirinya.


Livia lebih dulu mengenal Davin. Mereka sangat dekat karena mereka memiliki hubungan keluarga. Aku tidak bisa menjadikan ekspresi wajah orang menjadi bukti, tapi sungguh ini sangat menyakitkan. Batin Aelin.


"Hei, kamu mau membelikan Davin baju dengan warna cerah seperti itu?" Livia menunjuk baju yang dipegang oleh Aelin. Dimana wanita yang ditanya mengangguk kaku.


"Lebih baik kamu mengurungkan niatmu," lanjut Livia.


"Ke--kenapa?" tanya Aelin dengan suara terbata-bata serta tertekan. Ia berusaha menahan buliran air mata yang sudah siap mendobrak pertahanan terakhir dari kelopak matanya.


"Davin tidak akan suka. Davin tidak suka dengan warna cerah seperti itu. Dia terlihat tampan jika memakai pakaian dengan warna gelap. Aku akan mengambil ini untuk Davin." Livia menyerahkan kemeja dengan warna hitam bercorak pada pelayan toko. Ia lupa kalau saat ini sedang bersama Aelin. Memilih baju untuk Davin menjadi kesenangan tersendiri baginya.


Tanpa menjawab atau merespon. Aelin kembali meletakkan baju yang ia pilih untuk Davin. Kata-kata Livia yang begitu mengenal suaminya seakan membuat ia begitu rapuh dengan kepala yang terasa akan pecah karena berbagai macam opini terus berperang satu sama lain. Air mata yang ditahan dengan begitu susah, akhirnya tumpah tanpa dilihat oleh Livia. Aelin segera menghapus buliran bening tersebut dengan cepat. Memaksakan bibirnya yang gemetar dan kaku untuk tersenyum walau hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Setelah selesai membeli beberapa keperluan serta kebutuhan dapur. Aelin dan Livia memutuskan untuk duduk sebentar di salah satu stand makanan yang ada di mall tersebut. Terlihat beberapa menu dengan bahan dasar daging ayam menjadi menu utama.


"Aku sangat suka berbelanja, ini sangat menyenangkan!" seru Livia sambil menyedot jus alpukat yang ia pesan. Sudah cukup lama, ia tidak melakukan kegiatan menyenangkan seperti ini.


"Hmm," jawab Aelin hanya dengan deheman. Mungkin bagi Livia ini adalah kegiatan menyenangkan. Akan tetapi bagi dirinya, ini seperti ia sedang berjalan di atas jalan berduri. Sejak tadi, Livia sudah seperti istri sesungguhnya Davin. Semua keperluan sang suami sangat diketahui oleh Livia. Hal itu yang semakin membuat ia yakin kalau perasaan Livia bukanlah sekedar antara sepupu melainkan wanita itu menyukai suaminya.


"Setelah pulang nanti, aku akan memberikan baju yang aku beli untuk Davin. Aku yakin, dia akan suka. Oh ya, kamu beli apa untuknya?" Wajah Livia sedikit cemberut saat menanyakan pertanyaan terakhir.


"Aku membelikan dia dompet."


"Hah? Dompet? Kamu benar-benar tidak tahu apa kesukaan Davin."

__ADS_1


Jlep.


Sebuah samurai seakan membelah tubuh Aelin menjadi dua. Sindiran Livia memang begitu tajam dan berhasil mengenai titik sensitif yang ada pada dirinya.


"Aku tahu apa yang disukai oleh Davin. Mungkin, ini hanya sekedar dompet, tapi Davin tidak pernah melihat sesuatu dari harga atau pun dari apa yang dia suka. Apa yang aku berikan, dia pasti suka," balas Aelin yang berhasil membuat goresan pada ego Livia.


"Yah, kalau istri yang memberikan sesuatu pada suami pasti dia akan sangat menghargainya. Lagi pula, dia sangat mencintaimu." Suara Livia sedikit terdengar berat.


"Boleh aku bertanya, Liv?"


"Apa?"


"Aku ingin kamu menjawab ini dengan jujur, apapun jawabanmu aku tidak akan menghakimi atau marah. Aku melihat bagaimana bahagianya kamu saat memilih barang-barang untuk Davin. Semua kebutuhan Davin baik kecil atau besar kamu begitu tahu akan hal itu. Seorang sepupu menurutku tidak akan tahu jauh tentang sepupunya yang lain sebaik dirimu. Apa kamu memiliki perasaan lain pada Davin?"


Tubuh Livia seketika menegang seakan tersengat oleh aliran listrik dengan jutaan volt. Ia tidak menyangka kalau Aelin akan menanyakan hal itu lansung padanya. Rasa takut sedikit menyeruak, tapi sungguh ingin sekali ia mengatakan semuanya pada Aelin. Namun, hal itu percuma karena wanita yang berstatus sebagai istri kedua suaminya sudah memberikan mantra cinta yang membuat Davin berpaling darinya.


Drrt.


Getaran ponsel membuat suasana cukup mencekik dan tegang antara Livia dan Aelin melebur seketika. Livia segera merogoh ponselnya dimana panggilan itu dari Arjun.


"Aku udah sampai di tempat yang kamu maksud. Kamu sedang bersama Aelin?"


"Yah, aku akan ke sana."


"Cepatlah, aku sudah tidak sabar lagi."


"Aku juga begitu."


Livia mematikan panggilan tersebut, lalu tersenyum pada Aelin.


"Sepertinya kita harus pulang sekarang. Teman kantorku menelpon." Livia memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Baiklah, aku juga ingin melihat sampai mana dekorasi ulang tahun Davin dikerjakan," setuju Aelin. Kemudian bangkit dan mulai menenteng belanjaannya. Ia sudah tidak sabar untuk malam ini. Dimana ia akan memberitahu bahwa dirinya tengah hamil pada Davin. Livia yang melihat senyum tipis tersungging di bibir Aelin mencebikkan bibirnya.


Kisahmu berakhir sampai disini, Aelin. Batin Livia yang lansung mengikuti jejak langkah Aelin.

__ADS_1


Kedua wanita tersebut memasukkan semua belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil. Livia lansung mengambil kursi kemudi, sedangkan Aelin duduk di kursi samping.


Livia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil untuk bergabung bersama mobil lainnya. Kali ini, ia menempuh jalan yang berbeda. Hal yang membuat Aelin sedikit bingung.


"Kok kita lewat sini?" celetuk Aelin menyuarakan kebingungannya.


"Jalan besar sedang macet. Aku paling tidak suka dengan kemacetan. Jadi, aku memilih untuk lewat jalan ini."


"Tapi jalan ini sedang dalam perbaikan."


"Tinggal sedikit, tapi bisa dilewati."


Aelin mengangguk dan memilih untuk diam. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Senyum licik terulas tipis di bibir Livia saat mereka memasuki jalan perbaikan dengan debu yang berterbangan. Debu-debu yang mengepul karena pengguna jalan ditambah tiupan angin membuat debu berterbangan ke sana-ke mari menganggu pernapasan manusia.


"Uhuk ... uhuk ...." Aelin dan Livia mulai batuk karena debu jalanan tersebut. Mereka mengibas-ngibaskan tangan mereka di depan wajah untuk menyingkirkan benda kecil yang cukup merepotkan. Livia meraih dua botol minuman yang ada di dalam mobil. Ia memberikan satu pada Aelin.


"Lin, kamu minum dulu, biar ngak batuk. Uhuk ...," ujar Livia. Aelin mengambil sebotol minuman air mineral tersebut dan meneguknya cepat. Ia memang membutuhkan air sekarang.


"Terimakasih," ucap Aelin berterimakasih saat air tersebut berhasil menghilangkan rasa batuknya. Namun, ada yang sedikit aneh. Tiba-tiba pandanganya entah mengapa menjadi sangat buram. Kepalanya terasa pusing, benda-benda yang ia lihat menjadi sangat banyak. Kesadaran yang ia miliki pun semakin menipis dengan rasa pusing yang semakin menghantam. Ia berusaha untuk terus membuka mata, tapi sepertinya kegelapan adalah jalan akhir.


Kedua mata Aelin seketika tertutup dengan rapat. Bersamaan dengan mobil yang telah keluar dari jalan perbaikan. Livia menoleh ke samping, rencananya memang sangat luar biasa dan berjalan dengan lancar. Aelin sudah tidak berdaya, saatnya menggantarkan wanita itu pada Arjun.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


komentar


Gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2