
...43🐳...
Aelin mengeluar kan benda persegi dengan layar menyala dari dalam ransel nya.
Memain kan benda pipih tersebut, lalu mendekat kan benda tersebut ke telinga nya.
Tut...
Tut...
Tut...
Hanya nada sambung yang terdengar, tidak ada tanda- tanda jika panggilan telpon tersebut akan tersambung.
Detak jantung Aelin semakin berdetak dengan hebat, pikiran- pikiran negatif semakin terbayang - bayang di pelupuk mata nya.
Bahkan ia menggigiti kuku- kuku jari nya, kebiasan yang selalu ia lakukan saat ketakutan.
Aelin kembali mencoba, setelah suara operator kembali menyapa gendang telinga nya.
Air mata nya tak henti untuk turun, sementara nafas nya terasa sesak karna rasa takut yang semakin mencekik diri nya.
"Papy ku mohon ankat telpon nya.. Aelin sangat khawatir.." Lirih Aelin dengan ketakutan yang benar- benar kini membalut diri nya.
Wajah nya semakin memucat, dengan tubuh dingin gemetar.
Aelin kembali mendekat kan ponsel nya ke telinga nya.
Berharap jika panggilan nya kali ini terjawab.
Ia tidak ingin lagi kehilangan sosok yang sangat penting bagi nya, meski terakhir kali sang ayah sama sekali tidak mempercayai diri nya.
Tapi hal itu bukan lah alasan untuk diri nya, untuk marah terlalu lama pada Mr. Arkelin.
Karna bagaimana pun selama 12 belas tahun pria itu adalah sosok yang sangat penting bagi Aelin.
Karna kasih sayang yang begitu besar yang di curah kan Mr. Arkelin, ia tidak pernah mengeluh mengingin kan kasih sayang sang ibu yang sudah meninggal kan diri nya.
Sosok pria yang benar- benar membuat Aelin merasa menjadi putri kastil, dengan segala kemanjaan yang selalu di berikan oleh ayah nya.
Ia tidak ingin kehilangan ayah nya, setelah mengalami kehilangan seorang ibu. Ia tidak punya siapa pun kecuali ayah nya di dunia ini.
Jika terjadi sesuatu pada Mr. Arkelin bagaimana Aelin bisa bertahan di dunia yang begitu kejam pada diri nya.
Ia sudah kehilangan banyak hal, dan diri nya tidak ingin kehilangan sumber kekuatan nya.
Ia tidak mau merasa kan rasa sakit yang bahkan lebih buruk dari kematian.
"Tidak.. Aku harus berfikir positif.. Aku tidak boleh berfikiran negatif. Semua nya akan berjalan sesuai dengan apa yang aku pikir kan. Papy akan baik- baik saja. Mungkin ia sedang sibuk, hingga tidak mengangkat ponsel nya. Aku adalah putri kesayangan nya bukan? Papy baik- baik saja..." Oceh Aelin menenang kan diri nya sendiri.
__ADS_1
Mensugesti diri nya bahwa tidak terjadi apa- apa. Menyingkir kan prasangka buruk nya yang benar- benar berhasil membuat nya kalang kabut.
Tapi ia tidak bisa membohongi hati nya, yang saat ini terasa tidak karuan. Dengan pikiran yang hanya tertuju pada Mr. Arkelin.
Meski ia memaksa diri nya untuk tenang, namun tetap saja ketakutan , kekhawatiran , dan kecemasan menjadi satu dan kini telah mengusai hati dan pikiran nya yang semakin kalut.
Aelin mengusap wajah kasar, meremas kepala nya yang terasa penuh. Saat lagi- lagi mendapat jawaban dari operator jika nomer tujuan tidak menjawab panggilan.
Aelin benar- benar merasa putus asa. Ia sudah memghubungi nomer sang ayah sebanyak dua puluh kali, dan diri nya selalu mendapat kan jawaban yang sama dari operator.
"Papy sama sekali tidak menjawab telpon ku.. Hiks... Sebenar nya di mana papy? Tidak tidak aku tidak boleh menyerah. Kak Antonio bersama papy bukan, kenapa aku bisa melupakan nya..." Cicit Aelin, saat mengingat sesuatu yang seolah menjadi jalan keluar.
Aelin sedikit merasa lega, bagaimana bisa ia melupakan pria yang sudah ia anggap sebagai kakak itu.
Aelin merebah kan tubuh nya di atas ranjang, sementara tangan nya sudah memencet kontak Antonio.
...----------------...
Antonio yang masih menangis dalam diam, tiba- tiba di kejut kan dengn suara deringan telpon nya yang tergeletak begitu saja di lantai.
Antonio menatap tanpa minat, benda persegi itu yang berdering dengan cukup nyaring.
Ia sungguh memerlukan waktu sendiri untuk mencerna semua hal yang baru saja menimpa diri nya.
Ia masih tergantung pada dilema besar yang terus membentur diri nya tanpa henti.
Dan benda sialan itu berdering di waktu yang tidak tepat. Pekik Antonio sedikit kesal namun tangan nya tetap meraih benda tersebut.
Di mana layar ponsel nya menampil kan kontak gadis kecil ku, yang tak lain adalah Aelin.
Kenapa Aelin harus menelpon nya di saat situasi seperti ini?
Di saat pikiran nya benar- benar kacau, bahkan ia sangat malas untuk berbicara dengan siapa pun.
Ia tengah terluka sekarang, luka yang begitu dalam. Bahkan mungkin tidak akan bisa untuk di sembuh kan.
Luka patah hati dengan cinta yang belum terajut, di iringin dengan mengetahui jika gadis yang sudah membuat sang kakak terbujur kaku di ranjang, adalah gadis yang sama yang sudah mencuri hati nya.
Antonio melirik ke arah pintu rawat Mr. Arkelin.
Apa yang harus ia kata kan pada gadis itu, tentang kondisi ayah nya yang kini sedang sekarat.?
Kenapa semua nya menjadi serumit dan sesulit ini.
Mengapa harus diri nya yang berada dalam posisi membingung kan ini.?
Apa tuhan sedang mempermain kan perasaan nya.?
Atau tuhan sedang mengerjai diri nya dengan menulis takdir yang sangat rumit.
__ADS_1
Antonio menyugar rambut nya, menghela nafas panjang. Sebelum jari nya menekan icon gagang telpon berwarna hijau tersebut. Lalu mendekat kan benda tersebut di telinga nya.
"Kak Antoni...!" Panggil Aelin dengan suara lega dari ujung telpon. Akhir nya panggilan nya di angkat, dan ia bisa tahu kondisi ayah nya yang pasti nya akan baik- baik saja.
Antonio memejam kan ke dua mata nya, saat hati nya terasa tertusuk duri, saat mendengar suara ringgisan tangisan yang selalu bisa mengiris- ngiris hati nya.
Demi apa pun ia paling tidak bisa mendengar atau melihat Aelin menangis.
"Tumben menelpon kakak Aelin..." Balas Antonio dengan alunan suara yang di buat sebiasa mungkin.
Aelin mengerjit mendengar Antonio menyebut nama nya, biasa nya Antonio memanggil nya peri kecil.
Namun hal tersebut bukan lah hal yang terpenting. Tujuan nya menelpon Antonio adalah untuk menanyakan ayah nya.
"Kakak sedang bersama papy kan? Bibi bilang kakak dan papy pergi dinas keluar kota. Aku sudah berkali - kali menelpon papy, tapi ia tidak menjawab telpon dari ku. Jadi aku menghubungi diri mu. Kak bisakah aku berbicara dengan papy...?"
Cetaarrrr....
Blar...
Tubuh Antonio rasa nya langsung hangus di sambar petir karna mendengar pertanyaan Aelin.
Bibir nya benar- benar kelu, ia tidak sanggup untuk mengata kan kondisi Mr. Arkelin saat ini.
Tapi Aelin juga harus tahu jika ayah nya tidak baik- baik saja.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙