
...145💚...
"Maaf.. Aku tidak bermaksud untuk mematah kan impian mu sayang... Aku hanya kaget..." Lirih Boy.
Di mana Lia semakin mengeluar kan tangis nya, dengan memeluk tubuh Boy dengan erat.
"Maaf kan aku juga.. Karna sudah membuat mu kecewa..." Ujar Lia di sela- sela tangisan nya.
Aelin tersenyum melihat sepasang kekasih itu kini mengerti dan saling memaaf kan satu sama lain nya.
Rasa nya melihat ke dua nya membuat Aelin iri, karna ia tidak bisa merasa kan cinta remaja nya. Malah langsung menikah dan menjadi istri orang.
"Aku tidak akan menghalangi mu pergi... Tapi janji pada ku jika kamu tidak akan melirik laki- laki tampan amrik..." Boy mengurai pelukan nya lalu menangkup wajah Lia yang sudah memerah di mana ke dua mata nya terlihat membengkak karna menangis.
"Iya aku janji.. Aku tidak akan lirik pria tampan.. Aku hanya akan mendekati nya.."
"Lia...!!" Dengus Boy kesal mendengar ucapan laknat Lia.
Di situasi seperti ini kekasih nya masih saja bisa membuat emosi nya melunjak.
"Hehe.. Aku hanya bercanda.. Aku akan setia pada mu sayang..." Lia memeluk tubuh Boy dengan erat.
Rasa nya ia tidak rela jika harus meninggal kan kekasih nya yang sangat menyebal kan.
Pasti hidup nya akan terasa sepi karna ia tidak memiliki patner untuk bertengkar.
"Jika kamu sudah mendapat kan impian mu.. Aku berharap kamu tidak akan melupakan aku..." Ucap Boy dengan menahan tangis nya.
Ia benar- benar tidak sanggup untuk berjauhan dengan Lia.
"Tenang saja.. Aku tidak akan melupakan kekasih ku yang paling jelek.. Setelah aku pulang aku akan segera menculik mu dan melamar mu..." Jawab Lia dengan konyol membuat Boy tertawa ringan.
Ini lah yang membuat Boy menyukai Lia, karna gadis ini selalu mengata kan hal konyol yang membuat diri nya selalu tertawa.
Aelin menggeleng kan kepala nya, dengan bibir tersenyum.
Ke dua pasangan di depan nya benar- benar konyol.
Gadis nya gila dan pria nya yang kocak. Sungguh perpaduan yang sangat luar biasa.
Lia dan Boy kembali duduk di hadapan Aelin.
Lia sudah menghenti kan tangis nya. Sekarang semua orang yang di sayangi nya mendukung diri nya.
Tidak ada yang perlu ia cemas kan lagi. Ia sangat berterimakasih pada Aelin. Karena berkat Aelin ia tidak perlu menghadapi kemarahan Boy yang pasti akan menguras waktu nya.
__ADS_1
"Lin kamu abis ke rumah sakit? Kamu sakit Lin.?" Tanya Boy tiba- tiba saat melihat paper bag yang ada di dekat kaki Aelin.
Aelin terlihat salah tingkah, di mana ia melirik ke arah paper bag yang ada di dekat kaki nya.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sakit Lin? Kamu selalu saja seperti itu. Menyembunyi kan semua nya dari kami.." Oceh Lia menggebu- gebu tanpa mendengar kan alasan Aelin.
Aelin memutar ke dua bola mata nya dengan malas.
Selalu seperti ini , diri nya juga bodoh kenapa ia bisa meletak kan paper bag dari Dokter Keli di dekat kaki nya. Seharus nya ia buang paper bag nya dan memasukan obat nya ke dalam tas saja.
Boy langsung meraih paper bag tersebut dan meletak kan nya di atas meja.
Kening Boy berkerut saat membaca nama obat yang ada di dalam paper bag tersebut.
"Penyubur kandungan...!" Lirih Boy dengan bingung.
Lia langsung menutup mulut nya spontan.
"Lin jangan bilang kamu berencana untuk punya manusia kecil..." Celetuk Lia dengan wajah terkejut nya.
Sementara Boy semakin bingung mendengar ucapan bodoh Lia. Ia tidak bisa mencerna ucapan di luar nalar.
Aelin terdiam, ia tidak bisa berbohong karna nama obat itu sudah menjelas kan semua nya.
"Bukan manusia kecil Li.. Tap Bayi..." Cicit Aelin dengan tersenyum, di mana ke dua pipi nya merona.
"Hah?" Mulut Boy langsung menganga tidak percaya.
Akhir nya ia mengerti arah pembicaraan ke dua gadis itu.
"Hmm Astaga aku akan menjadi aunty..." Renggek Lia dengan perasaan yang sangat berbunga - bunga.
"Belum.. Ini masih rencana Li.. Tapi kalian jangan buka mulut atau pun memberi tahu Om Davin.. Aku berharap perut ku segera di isi oleh malaikat kecil sebelum tanggal ulang tahun Om Davin... Aku ingin saat hari ulang tahun nya aku akan mengata kan hal ini.. " Pesan Aelin pada Boy dan Lia.
Karna ia tidak ingin rencana nya akan gagal karna mulut lemes ke dua orang ini.
"Aku yakin Om Davin pasti akan senang.. Jangan kan Dia aku rasa nya sudah tidak sabar untuk menjadi Uncle dari anak mu Lin..." Ucap Boy tak kalah antusias.
"Kalian doa kan saja... Aku berharap kali ini takdir tidak mengecewa kan aku.. Aku yakin malaikat kecil itu akan membuat rumah tangga kami akan semakin lengkap..."
"Tapi aku sedih karna aku akan pergi ke amrik.. Itu arti nya aku tidak bisa melihat Keponakan ku lahir di dunia ini..." Wajah Lia kembali berubah sedih.
Dengan cepat Boy meraih tangan kekasih nya.
Ia mengerti kecemasan Lia.
__ADS_1
"Jangan khawatir.. Aku masih di kota ini.. Kamu bisa mengirim kan banyak hadiah pada nya..." Hibur Boy, yang di angguki oleh Lia.
"Ingat Boy.. Jaga lah kepona kan ku itu.." Kecam Lia dengan memasang wajah garang nya.
Di mana Boy langsung menelan saliva nya paksa, melihat wajah horor Lia yang mampu membuat tubuh nya bergidik ngeri.
Aelin tertawa ringan, melihat tingkah ke dua manusia di hadapan nya.
Ia sangat senang melihat ke antusian ke dua sahabat nya.
Padahal semua nya belum terjadi, bahkan ia belum hamil tapi ke dua nya terlihat senang mendengar kabar ini.
Aelin berharap Davin juga akan senang saat ia mengata kan jika di perut nya tumbuh buah cinta mereka.
Membayang kan wajah terkejut dan bahagia Davin membuat Aelin benar- benar tidak sabar dengan kehadiran malaikat kecil di perut nya.
Aelin mengelus perut nya yang masih rata dengan lembut.
"Tuhan aku sangat berharap apa yang aku ingin kan kali ini tercapai... Semoga dengan kehadiran seorang bayi kebahagian ku semakin sempurna..." Batin Aelin dengan berdoa dengan segenap hati nya.
Ketiga sahabat itu terus bercengkrama satu sama lain nya.
Mengobrol dan mengata kan lelucon- lelucon yang mengocok perut mereka.
Melukis kebersamaan yang hanya tinggal sebentar lagi. Untuk di jadi kan sebagai kenangan di mana ketiga nya akan berpisah jalan.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
.
__ADS_1