
...155💚...
Davin menatap laptop di depannya dengan fokus, sembari jarinya memainkan keyboard benda tersebut.
Brak....
Davin menggebrak meja dengan sangat keras, bahkan beberapa benda yang ada di atas meja kerjanya bergetar.
"Aku sama sekali tidak bisa fokus bekerja jika seperti ini." Davin mengacak kepalanya frustasi. Seumur-umur baru kali ini ia merasa tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Padahal sejak tadi ia terus memaksa dirinya untuk bekerja, tetapi pikirannya terus melayang tertuju pada dua wajah wanita yang sangat penting dalam hidupnya. Syaila dan Aelin.
Siapa di antara kedua wanita tersebut yang harus ia pilih. Dirinya benar-benar di belit dilema, ia tidak bisa memutuskan salah satu karna dirinya juga takut melukai keduanya.
Berada diposisi ini sungguh sangat sulit, rasanya kematian lebih baik dari pada hal ini.
"Anda sepertinya membutuhkan kopi," seru Darren yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Davin. Lalu meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja majikannya.
Davin mendengus kasar, lalu menatap ke arah Darren yang malah duduk santai dengan menyeruput kopi yang ada di tangannya.
"Kepalaku rasanya ingin pecah!" pekik Davin menatap tidak suka pada Darren. Bisa-bisanya Darren bersikap santai di saat melihat dirinya sedang gelisah galau merana. Benar-benar asisten yang tidak tahu diri.
Darren menarik sudut bibirnya ke atas, melihat majikannya yang begitu frustasi hanya karna masalah wanita.
"Kenapa memusingkan masalah yang bisa kamu putuskan sendiri ... Tinggal pilih salah satu, lalu tinggalkan yang lain, maka masalahmu akan selesai," ujar Darren menyeringgai.
"Kamu hanya bisa berbicara saja, pada dasarnya mengambil keputusan membutuhkan suatu pertimbangan yang tepat. Tapi, kenapa kamu ada di sini? Bukankah aku memintamu untuk menemani Syaila berbelanja?" Selidik Davin.
"Nyonya Syaila memintaku pergi karna dia akan bertemu dengan Antonio." Darren menatap lekat pada majikan sekaligus sahabatnya. Sejujurnya ia merasa kasihan dan iba melihat keadaan Davin. Tapi, kali ini ia tidak bisa membantu. Mungkin ini adalah karma yang di dapatkan oleh Davin karna sudah menghancurkan hidup Aelin.
Akan tetapi, semua keadaan berbalik. Pria yang ingin balas dendam kini terjebak cinta tawanannya sendiri.
__ADS_1
"Entah, apalagi yang di rencanakan oleh Antonio. Tapi aku yakin dia mempunyai konspirasi besar untuk merampas Aelin dari hidupku," geram Davin yang semakin kesal dan frustasi.
"Seharusnya kamu merasa senang. Karna tanpa di sadari Antonio akan membantu menyelesaikan masalahmu, biarkan saja dia merampas Nona Aelin dari tangan pria busuk seperti dirimu. Setelah itu kamu bisa bersama Syaila dan Nona Aelin bersama Antonio, lalu semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak bisa serakah Davin. Kamu tidak bisa berdiri bersamaan di atas dua perahu sekaligus. Karna pasti meski perlahan kamu akan jatuh dan tenggelam. Dan kini kamu tinggal menunggu waktu mu untuk tenggelam." Darren menyeruput kopinya, lalu menatap Davin dengan tajam.
"Tutupi lehermu itu!!!" Darren langsung berlalu keluar dari ruangan Davin setelah mengatakan hal tersebut.
Davin langsung merapikan kerah kemejanya, tadi pagi Aelin yang melihat bekas merah di lehernya, lalu sekarang Darren.
"Bagaimana bisa aku mendengarkan saran yang sangat mustahil dari Darren. Membiarkan Aelin bersama Antonio, tidak akan pernah aku biarkan. Saat ini yang lebih penting adalah menghapus semua kecurigaan Aelin pada ku. Aku akan menyiapkan kejutan untuk Aelin .... " Davin kembali menatap layar laptopnya, mengetikkan beberapa kalimat, seketika wajah Davin tersenyum.
...----------------...
"Kakak!" pekik Antonio saat melihat seorang wanita sedang berdiri tak jauh darinya, sembari tersenyum dengan begitu manis.
Syaila dan Antonio langsung berpelukan, melepas kerinduan yang selama ini tertahan karna terpisah oleh pintu maut.
"Kamu semakin tampan saja," puji Syaila dengan mengurai pelukannya. Ia menatap lekat pada Antonio, adik yang sangat di sayanginya.
"Aku benar-benar sangat merindukanmu," lirih Antonio dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ia benar-benar sangat senang karna akhirnya, setelah sekian lama ia bisa melihat saudarinya kini berdiri di depannya seperti sedia kala.
"Asataga!!! Kamu tetap saja cengeng." Syaila meninju pelan bahu Antonio, dengan memasang wajah meledek.
Antonio terkekeh, ternyata Syaila sama sekali tidak berubah. Dia akan terus menggodanya hingga telinganya terasa berasap.
"Kali ini aku tidak akan membalasmu, tapi lain kali aku pastikan kamu tidak akan lolos."
"Dan aku yakin, kamu tidak akan bisa mengalahkanku."
"Papa juga sangat merindukanmu, dia pasti akan sangat senang melihat putrinya telah kembali."
__ADS_1
"Ayo pergi!" Syaila berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil Antonio yang terparkir dipinggir jalan, sementara di belakangnya Antonio segera bergegas menyusul Syaila.
Mobil Antonio mulai begerak, dan berbaur bersama pengguna jalan yang lainnya, memebalah jalanan dimana di dalam mobil kedua adik kakak yang baru saja bertemu saling melemparkan guyonan jenaka, yang membuat suasana di dalam mobil terasa hangat.
"Apa sekarang aku sudah punya calon adik ipar?" tanya Syaila dengan bibir mencebik, sedangkan Antonio terkekeh geli mendengar pertanyaan kakak perempuannya itu.
Jangankan calon, bahkan cintanya saja sudah di rampas sebelum ia bisa memiliki. Namun, ia akan segera mengambil kembali cintanya. Dan semua hal itu akan terjadi sebentar lagi.
"Sudah, sayangnya aku butuh waktu untuk membawanya kehadapanmu dan juga papa," timpal Antonio dengan senyum kecut tipis di bibirnya, saking tipisnya Syaila tidak melihat senyum duka di wajahnya.
"Cepatlah, aku tidak sabar untuk segera melihat keponakanku."
"Tapi, aku ingin tahu tentang kecelakaan hari itu kak." Antonio memelankan mobilnya, sesekali ia melirik ke arah Syaila yang langsung menundukkan wajahnya.
Antonio memang sudah tahu apa yang terjadi hari itu, tapi ia ingin mendengar hal tersebut dari mulut Syaila. Karna ulah Syaila, Aelin wanita yang di cintainya harus menerima dendam Davin, dan harus hidup menderita bersama pria brengsek itu.
Antonio menggengam erat stir mobilnya, dimana emosinya tersulut.
Sedangkan, Syaila meremas jarinya satu sama lain. Dimana pelipisnya mulai berkeringat. Apa Antonio tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika waktu itu ia sedang bertemu dengan seorang anak remaja yang dirinya ia sewa untuk memuaskan hasratnya.
"Hmmm ... A‐aku tidak tahu," jawab Syaila terbata-bata dengan ketakutan yang membuat tubuhnya rasanya mati rasa.
Bruk....
Antonio memukul stir mobil dengan keras, hingga Syaila langsung terkejut.
"Bohong!!" teriak Antonio yang langsung menginjak rem mobil, sehingga mobil tersebut berhenti mendadak.
...----------------...
__ADS_1
...****************...
maaf jika typo, tolong like koment gift anda vote ya