
...84😻...
Antonio melambai kan tangan nya, sebelum kaca jendela mobil nya tertutup.
Aelin juga memberi kan lambaian tangan, sebelum mobil Antonio mulai bergerak dan menghilang di balik gerbang besar dan menjulang di hadapan nya.
Hati Aelin benar- benar sedih berpisah dengan Antonio, rasa nya ia hanya sendiri di tengah dunia yang begitu kejam ini.
Namun bayangan wajah Davin yang tersenyum, mulai terbayang di pelupuk mata Aelin.
Membuat Aelin menguat kan hati dan tekad nya. Aelin menghembus kan nafas kasar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Kau sudah puas berselingkuh dengan pria itu...!" Suara sinis seorang wanita yang sangat familiar lagi- lagi menyapa gendang telinga Aelin.
Siapa lagi jika bukan Nyonya Tissa yang sudah seperti kuntilanak yang terus menggentayangi Aelin.
Sedetik saja, ibu mertua nya tidak menghina nya mungkin perut mertua julid nya akan sakit.
"Ma.. Aku mohon jangan lagi.. Aku lelah kasihani lah aku. Papy ku baru saja meninggal ma..." Sahut Aelin dengan nada memohon, di mana ia benar- benar tidak ingin berdebat atau pun bertengkar dengan sang ibu mertua.
"Mama.. Tahu tapi hal itu bukan menjadi alasan diri mu untuk bermesraan dengan pria yang kau panggil kakak itu.. Kau sok- sok berkoar jika menjadi wanita yang suci, tapi aku melihat pria itu mencium kening mu bahka memeluk diri mu.. Ingat Aelin kau sudah punya suami...!" Sarkas Nyonya Tissa yang semakin menggebu- gebu.
Ia tidak akan pernah puas untuk menghina Aelin.
Karna memang itu pekerjaan nya di rumah ini.
Mengganggu dan terus menekan mental Aelin, jika bisa membuat nya gila dan hidup nya hancur.
"Ma di sini seperti nya aku tidak salah.. Seperti nya pikiran mama yang terlalu kotor... Kak Antonio adalah kakak ku jadi wajar jika kami berpelukan atau dia mencium kening ku... Aku saja tidak masalah lalu kenapa mama yang marah..."
Plak...
Satu tamparan lepas mendarat di pipi Aelin. Di mana wajah Aelin langsung berpaling saat tangan Nyonya Tissa menyambar pipi nya.
"Bagaimana bisa putra ku menjadi kan mu istri... Menantu macam apa yang dia bawa ke rumah ini... !!" Bentak Nyonya Tissa dengan gigi yang bergemelatuk marah.
Aelin menyentuh pipi nya yang terasa panas, di mana pipi nya saling bergesekan dengan kulit telapak tangan Nyonya Tissa.
Tentu saja rasa nya sangat sakit, bahkan rahang nya terasa penyok seketika.
Namun ia harus sabar, meladeni dan menimpali setiap perkataan Nyonya Tissa hanya akan membuat sang mertua bertambah benci kepada nya.
Bukan kah ia ingin membuka hati untuk Davin?
Itu arti nya ia juga harus bertahan dan mengambil hati sang mama mertua.
Aelin menatap sekilas ke arah Nyonya Tissa yang sedang marah, bahkan dari telinga nya Aelin bisa melihat asap kemarahan mengepul.
__ADS_1
"Lebih baik aku pergi.. Buang- buang tenaga menghadapi nenek lampir bermulut besar ini...." Batin Aelin yang langsung melenggang pergi, dari hadapan Nyonya Tissa. Memendam amarah dan kekesalan nya dalam dada, dan berusaha menjadi sosok pemaaf.
Nyonya Tissa semakin geram, melihat Aelin yang pergi meninggal kan diri nya.
Bahkan diri nya belum sempat menumpah kan cacian dan makian yang sudah ia siap kan sejak kemarin malam.
"Aelin... Berani sekali kau pergi...! Aelin....!" Panggil Nyonya Tissa dengan berteriak, bahkan suara cempreng nya memantul- mantul di setiap dinding rumah.
Namun Aelin tidak ingin berhenti, ia terus berjalan menuju kamar nya, meninggal kan Nyonya Tissa yang sudah hangus terbakar api amarah.
"Dasar Jallang.. Lihat besok aku akan memberikan mu hukuman.. Jika kata- kata penghinaan tidak mempan untuk mu, baik lah akan ku buat kau menderita dengan tindakan... " Gumam Nyonya Tissa dengan tangan memukul udara, di mana tatapan menusuk nya terus mengiringi langkah Aelin yang menghilang di balik tembok besar.
Klek...
Aelin memutar knok pintu kamar nya, lalu masuk dan mengunci pintu tersebut.
Ia menyandar kan tubuh nya di daun pintu, di mana netra nya menatap ke arah langit- langit kamar nya yang polos.
Aelin menghembus kan nafas nya pelan, mengontrol rasa sakit hati karna ucapan ibu mertua nya yang lebih tajam dari pada silet.
Tidak ia pungkiri, jika semua perkataan dan hinaan Nyonya Tissa benar - benar membuat hati nya terluka.
Tidak mudah berpura- pura menjadi sosok yang tegar dan tidak peduli, di mana sebenar nya ia hancur menjadi debu.
Aelin mendekat ke arah ranjang, merebah kan tubuh nya.
Sangat nyaman.
"Aku harus kuat , aku yakin suatu saat aku pasti bisa mendapat kan hati mama mertua.. Dan Davin, aku percaya sepenuh nya pada mu..." Gumam Aelin menyemangati diri nya sendiri. Lalu mengatup kan ke dua mata nya, dengan perlahan.
Mengetuk pintu dunia mimpi, untuk menjelajahi dunia mimpi yang begitu indah di mana ia bisa menjadi apa pun yang ia ingin kan.
Di mana beban dan penderitaan tidak ada, yang ada hanya bayangan indah yang hanya sebatas bunga tidur.
...----------------...
Mobil Darren terus melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Di mana peluh di kening nya merembet, ia benar- benar panik karna kondisi Davin yang terlihat cukup parah.
"Syaila.... Syaila..." Lirih Davin yang terus mengingau menyebut nama Syaila.
Terkadang ia meringgis sakit karna luka yang ada di kaki nya.
Rasa nya tulang kering di kaki nya hancur karna terjepit.
"Darren...!" Panggil Davin dengan suara yang di paksa kan.
__ADS_1
"Iya Tuan.." Jawab Darren tanpa mengalih kan fokus nya yang sedang menatap lurus ke arah jalanan.
"Bawa aku menemui Syaila..." Pinta Davin dengan suara yang masih tercekat.
"Tapi Tuan, kita harus terlebih dahulu ke rumah sakit.. Lihat kondisi mu, Tuan terluka parah.."
"Aku mohon Darren... Jangan membantah dan bawa aku pada Syaila.."
Darren mendengus kesal, dengan permintaan sang majikan.
Tapi mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Davin.
Lagi pula di villa ada donter Nashila, jadi tidak masalah jika diri nya menuruti keinginan tuan nya.
"Baik lah Tuan.. Tapi Tuan tidak boleh sampai kehilangan kesadaran..." Ujar Darren setuju dan kembali fokus menyetir.
Tak butuh waktu lama, Darren sudah sampai di halaman villa, di mana ia menggiring mobil nya untuk parkir.
Begitu mobil berhenti, Davin dengan cepat membuka pintu mobil, yang langsung membuat Darren panik.
"Tuan...!" Panggil Darren yang langsung menyusul Davin untuk turun.
Davin meringgis kesakitan saat kaki nya yang terluka menyentuh tanah.
Hampir saja tubuh nya terjungkal karna ia tidak bisa menahan bobot tubuh nya, namun tangan Darren langsung menangkap tubuh nya dan menyangga bobot tubuh nya.
Beberapa pengawal yang melihat kondisi Davin, segera berlari dan membantu Darren membawa Davin masuk ke dalam Villa.
...----------------...
...****************...
Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1