Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Ku sadari rasa ini


__ADS_3

...106💚...


Maya menyerah kan paper bag yang berisi salad sayur yang di buat oleh Aelin.


Aelin tersenyum dengan lebar, hari ini diri nya terlihat begitu bahagia.


Beban yang menumpuk selama ini di hati nya hilang begitu saja.


Wajah Aelin yang berseri juga seperti nya tertular pada Maya yang selalu memasang wajah datar nya.


Apa lagi tadi ia sudah memakan salad sayur buatan Aelin, yang benar- benar mampu membuat moodboster nya meningkat.


"Bagaimana penampilan ku May?" Tanya Aelin meminta pendapat Maya.


"Nona terlihat sangat cantik.. Dan hari ini terlihat begitu bahagia dengan wajah berseri..." Jawab Maya yang masih berjalan di samping Aelin menuju parkiran.


Ucapan Maya yang mengata kan nya cantik, membuat Aelin sedikit mengambang di udara.


Padahal ia sedang memakai kaos kebesaran. Apa iya ia terlihat cantik?


Bahkan Aelin sama sekali tidak memakai make- up sedikit pun.


"Ahhh... Kamu membuat kepala ku membesar May.. Baik lah aku pergi dulu... Jaga mama mertua ku yang mulut nya seperti burung beo itu dengan baik ya.. Seperti nya malam ini aku akan menginap di rumah sakit..." Pesan Aelin dengan menepuk bahu Maya, bahkan Aelin memeluk hangat Maya yang langsung tersentak kaget dengan ulah majikan nya yang kini memeluk nya.


Maya benar- benar merasa canggung dan tidak enak.


Seumur hidup nya, tidak ada yang berani memeluk nya kecuali ibu nya.


Tapi jujur, Maya merasa hangat dengan pelukan Aelin yang terkesan tulus.


"Dan juga jaga diri mu baik- baik..." Bisik Aelin yang mampu membuat hati Maya melunak.


Aelin segera masuk ke dalam mobil.


Melambai kan tangan nya pada Maya sebelum mobil yang di tumpangi nya benar- benar bergerak meninggal kan istana Arselion.


Maya yang masih mematung di tempat, di mana ia masih mencerna pelukan hangat yang baru saja ia terima.


Bahkan kini Maya yang di kenal dingin berlinang air mata.


Ia sungguh kagum dengan sisi lembut Aelin.


Dalam hati nya , apa memang keputusan yang benar majikan nya Davin menghancur kan hidup wanita yang begitu baik dan lembut.?


Rasa nya apa yang sudah di lakukan Davin begitu kejam.


Tapi apa lah daya diri nya, yang hanya mampu menjalan kan tugas seperti yang di perintah kan oleh majikan nya. Karna diri nya hanya seorang pesuruh yang menggantung kan hidup nya yang sebatang kara di bawah kaki Davin.


"Nona Aelin sangat lembut.. Bahkan dia berhasil meluluh kan hati ku yang selama ini mengeras seperti batu... Tapi sayang sisi kelembutan nya, tidak selembut takdir yang di jalani nya.. Andai Nona tahu jika Tuan Davin sudah memiliki istri lain pasti hati nya yang lembut itu akan hancur...." Gumam Maya berbicara pada diri nya sendiri.


Mengasihani nasib Aelin yang begitu tragis.

__ADS_1


...----------------...


Aelin menatap paper bag yang ada di pangkuan nya.


"Aku harap Om Davin menyukai salad sayur ini..." Lirih Aelin lalu melempar pandangan nya ke arah luar jendela.


Menikmati pemandangan malam, di mana lampu- lampu di pinggir jalan menyinari sisi jalanan.


Terlihat begitu indah.


Hingga akhir nya mobil yang di tumpangi Aelin memasuki area parkir rumah sakit.


Aelin langsung turun dengan cepat, lalu melangkah hampir setengah berlari.


Rasa nya meninggal kan Davin hanya beberapa jam saja membuat hati nya rindu pada suami tampan nya itu.


Tapi tunggu, rindu?


Hati nya merindu kan Davin?


Sejak kapan ia merasa kan hal ini?.


Ke dua pipi Aelin tanpa blush on itu memerah seketika dengan pikiran nya.


"Entah sejak kapan rasa ini tumbuh dengan begitu subur. Berawal dari rasa takut kehilangan mu membuat aku begitu merasa kan rasa sakit yang luar biasa.. Tapi kini aku tidak akan salah lagi.. Mungkin pertemuan kita tak seindah warna pelangi.. Namun aku yakin dengan rasa di hati ku yang kini mencintai mu... SUAMI KU...!" Batin Aelin.


Aelin menatap sekilas daun pintu yang ada di hadapan nya, saat kini ia sudah sampai di ruangan Davin.


Rasa di hati nya benar- benar membuncah dengan sangat hebat, bahkan rasa nya sedang meledak seperti kembang api yang di nyala kan.


Aelin mendorong daun pintu ruangan Davin, lalu kaki jenjang nya yang terbungkus oleh celana jins melenggang masuk.


Darren yang sedang duduk di Sofa langsung menatap ke arah Aelin yang baru saja masuk.


Aelin tersenyum pada Darren, lalu melempar kan pandangan nya pada Davin yang ternyata sedang tidur.


Aelin harus kecewa saat melihat pria yang sedang di rindu kan nya ternyata sedang tertidur.


Padahal ia sudah membawa makanan yang ia buat sendiri untuk Davin.


Namun seperti nya ia harus menunggu beberapa waktu lagi untuk memberikan salad sayur yang sudah di buat nya.


Aelin menatap wajah Davin yang terlihat begitu damai saat tertidur.


Jauh lebih tenang dan manis ketika tidur dari pada saat terbangun.


Aelin meletak kan paper bag yang di bawa nya di atas meja nakas.


"Kamu sudah datang...!" Lengkuh suara bantal seorang pria.


Aelin mengalih kan pandangan nya, saat mendengar suara bas khas bangun tidur Davin.

__ADS_1


Di mana kini Davin tengah menatap nya dengan senyum manis di bibir nya.


"Tentu saja aku datang... Apa kamu tidak suka ?" Aelin membuat ekspresi wajah cemberut.


Melihat ekspresi cemberut Aelin, benar- benar membuat Davin gemas.


Srapp....


Dengan sekali tarikan di tangan Aelin, tubuh Aelin seketika jatuh menimpa Davin.


Di mana wajah Aelin kini tepat berada di atas wajah Davin.


Tatapan ke dua nya langsung membeku satu sama lain.


Di mana ke dua tatapan mereka saling bertubruk satu sama lain nya.


Bahkan ke dua nya mampu merasa kan hembusan nafas satu sama lain nya.


Darren yang menyaksi kan adegan intim antara majikan nya dan juga Aelin hanya bisa menelan saliva nya paksa.


Jiwa jomblo dalam diri nya meronta - ronta melihat adegan romantis di depan nya.


Biasa nya ia hanya melihat adegan romantis itu di layar televisi atau pun handphone. Tapi sekarang ia menyaksi kan di depan mata nya.


Ia harus bersyukur atau mengumpat?.


Tangan Davin terangkat menyelip kan rambut Aelin yang tergerai menutupi wajah cantik Aelin.


Wajah cantik yang mampu menghipnotis diri nya, bahkan saat ia melihat wajah Aelin rasa nya ia melupakan semua tentang diri nya.


Perlahan tangan Davin membelai wajah Aelin yang memerah merona.


Aelin yang menerima sentuhan Davin memejam kan ke dua mata nya.


Di mana ia terbuai dengan sentuhan lembut tangan Davin yang tengah membelai pipi nya.


"Terimakasih sudah menunggu ku dengan sabar di saat ke dua mata ini terpejam..." Ujar Davin tulus tanpa ada kebencian dan dendam yang selama ini di pendam.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2