
...53🌲...
"Bukan kah kamu sangat mencintai Syaila.. Lalu kenapa kamu menikahi gadis lain saat kondisi istri mu tidak berdaya Davin..." Sinis Stefan yang langsung melangkah keluar dari kamar yang membuat kepala nya rasa nya ingin meledak, karna menghadapi kegilaan sahabat nya.
Davin terdiam di tempat, kata- kata Stefan terus tergiang - giang di kepala nya, seperti sebuah bisikan menyeram kan.
Davin tak memungkiri jika apa yang di kata kan Stefan kini membelah pikiran kusut nya.
Ia memandangi Aelin yang masih meringgis di samping nya.
"Kenapa aku menikahi gadis lain di saat kondisi Syaila terkapar tidak berdaya? Apa semua yang aku lakukan memang salah?" Batin Davin yang mulai terusik dengan apa yang di kata kan Stefan.
Namun Davin segera menepis pikiran itu dari pikiran nya, bagi nya semua ini sudah benar.
"Eehhhh... Papy... " Lirih Aelin yang masih terus saja memanggil sang ayah.
Saat ini ia sungguh ingin bertemu dengan ayah nya, ia ingin di samping ayah nya meski kini tubuh nya benar- benar lemah.
"Ssssttttt tenang lah,,, jangan memikir kan hal itu dulu... istirahat lah tubuh mu sangat lemah.." Timpal Davin dengan suara penuh kelembutan, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Aelin, agar tubuh gadis di hadapan nya tetap hangat.
Aelin membuka mata nya sayu, di mana ia hanya bisa melihat sosok Davin yang sedang mengelus puncak kepala nya.
Namun ia tidak ingin berdebat dengan pria itu sekarang, karna sekarang ia hanya bisa meminta pada Davin untuk membawa nya pada ayah nya.
"Om Davin... Tolong bawa aku pada papy.. Papy terkena serangan jantung... Aku tidak bisa terus diam di sini..." Pinta Aelin dengan wajah memelas, berharap ada sedikit rasa kasihan di hati Davin.
Ia sungguh hanya mengingin kan hal itu sekarang.
Air mata Aelin mengalir begitu saja dari ke dua sudut mata hitam keabu- abuan nya.
Melihat Aelin menangis, Davin sedikit panik. Ia mengusap air mata Aelin dengan lembut.
"Aku akan membawa mu menemui papy besok... Tapi sekarang tidur lah, istirahat lah..."
"Apa itu benar?"
Davin mengangguk menjadi jawaban untuk pertanyaan Aelin.
"Terimakasih..." Ucap Aelin dengan bibir tersenyum kecil.
Deg...
Jantung Davin langsung membeku, saat mendengar ucapan terimakasih yang begitu tulus dengan senyum kecil di wajah Aelin.
Terlihat begitu tulus.
Bibir yang selama ini selalu mengeluar kan kata- kata kasar dan pahit ternyata juga bisa mengucap kan kata terimakasih.
Davin menatap nanar pada Aelin yang kini kembali memejam kan ke dua mata nya dengan tenang.
Sementara tangan nya terus mengelus puncak kepala Aelin yang rasa nya sangat lembut.
Perlahan tapi pasti, Davin beranjak naik ke sisi kepala Aelin dan bersandar pada headboard ranjang.
__ADS_1
Sedang kan tangan nya tak ingin berhenti untuk mengelus puncak kepala Aelin.
Seharus nya ia merasa senang bukan?
Lalu kenapa hati nya saat ini merasa biasa- biasa saja.
Seharus nya ia merasa bahagia di atas penderitaan Aelin yang saat ini terbaring tidak berdaya.
Bahkan kondisi sang mertua juga sama, bahkan kini sedang menghadapi maut.
Bimbang.
Itu lah kata yang saat ini menggambar kan perasaan Davin.
Davin memejam kan ke dua mata nya, saat dua benda itu rasa nya sudah sangat berat dan ingin tidur.
Davin dan Aelin tidur dalam satu kamar, di mana hal yang tidak akan pernah mereka lakukan jika ke dua nya dalam mode bermusuhan.
Tapi semua nya berjalan seperti air, mengikuti arus meski kadang keluar dari alur.
...----------------...
Sang surya mulai naik ke peraduan nya, memuncul kan sinar kemilau yang ia miliki untuk menyinari setiap sudut kota.
Malam yang penuh dengan genjatan petir, serta hujan yang turun dengan deras.
Kini berubah menjadi pagi yang cerah dengan langit berwarna biru cerah.
Mungkin ini yang di sebut, cerah setelah badai berlalu.
Sinar matahari yang berhasil masuk dari celah gorden dan mengenai sebagian wajah bantal Aelin.
Aelin menghembus kan nafas nya, tubuh nya sekarang kini terasa sangat bugar setelah melewati fase yang begitu menyakit kan.
Aelin mengusap wajah nya dengan ke dua tangan nya.
Lalu mengerjap beberapa kali.
Namun tunggu, ada yang aneh di atas kepala nya. Pekik Aelin yang merasa kan ada sesuatu yang berat di atas kepala nya.
Aelin meraba puncak kepala nya dan merasa kan benda hangat seperti daging dengan beberapa ruas.
"Tangan...?" Cicit Aelin bingung. Lalu bangkit dari tidur nya.
Ke dua mata Aelin melebar dengan sempurna saat melihat ternyata sang pemilik tangan adalah suami brengsek yang paling ia benci.
"Kenapa dia tidur di kamar ku? Apa dia susah mengambil kesempatan lagi...?" Gumam Aelin yang langsung merekat kan selimut pada tubuh nya.
Namun kecurigaan nya segera tertepis, kala ingatan tentang semalam berputar dengan otomatis di kepala Aelin.
Bagaimana ia hampir mati kedinginan dan di saat itu Davin datang.
Ia pikir itu hanya bayangan pria brengsek itu, yang ia bayang kan karna saking benci nya pada Davin.
__ADS_1
Tapi seperti nya itu bukan bayangan tapi memang Davin benar- benar datang dan seperti nya pria itu yang membawa nya pulang.
Wajah Aelin semakin menyendu saat ia mengingat bagaimana Davin menemani nya sepanjang malam, di mana diri nya terus merenggek untuk mencari papy nya namun dengan sabar dan penuh kelembutan Davin menenang kan diri nya. Bahkan memberi kan elusan hangat di puncak kepala nya hingga ia tertidur dengan begitu lelap hingga pagi.
Aelin menyentuh puncak kepala nya.
Hati nya tiba- tiba berdesir mendapat kelembutan yang di berikan Davin.
Apa ia sudah salah menilai pria yang kini masih setia tidur.?
Tapi bagaimana dengan semua kejadian di mana Davin merenggut mahkota nya.
"Tidak... Tidak... Aku tidak boleh termakan dengan semua sikap manis nya.. Bagaimana jika pria ini hanya bersandiwara... Tapi dia sudah menyelamat kan ku di saat aku hampir mati kedinginan... Ada apa dengan hati ku?" Gumam Aelin yang kini benar- benar bingung dan dilema menghadapi sikap Davin.
Bahkan kini entah mengapa hati nya luluh dengan sikap lembut Davin apa lagi dengan aksi heroik Davin yang menyelamat kan diri nya di saat ia hampir mati kedinginan.
Ia sungguh merasa berhutang budi pada Davin.
Kenapa harus Davin yang menyelamat kan hidup nya?
Kenapa pria ini tidak membiar kan nya mati?
Bukan kah pria ini ingin melihat nya menderita?
Semua nya sungguh membingung kan.
Aelin menatap lekat wajah tenang Davin yang masih tertidur.
Wajah nya yang begitu tenang dan damai.
"Tampan...!" Lirih Aelin tanpa sadar karna jatuh dalam pesona seorang Davin Arselion.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙