
...56🌲...
Aelin dan Davin kini sudah berada di dalam pesawat di mana hanya mereka berdua yang menumpangi pesawat VVIP itu.
Ia sebenar nya tidak suka jika terus berdua- an dengan Davin, rasa nya jantung nya berdetak dengan tidak normal.
Berada di dekat Davin membuat kesehatan jantung nya terganggu.
Sebenar nya ada apa dengan diri nya?
Kenapa saat berada di dekat Davin ia sangat gugup.?
Sebelum nya ia tidak pernah merasakan hal ini saat berada di dekat Davin.
Bukan kah ia sangat membenci pria yang sudah mengambil mahkota nya.?
Lalu kenapa sekarang rasa benci itu mulai pudar dari dalam diri nya.
Sebenar nya apa yang terjadi pada diri nya?
Pekik Aelin dengan pertanyaan- pertanyaan yang terus bermunculan dalam pikiran nya.
Ia sangat bingung dengan reaksi yang sekarang ia rasa kan saat berada di dekat Davin.
Dulu saat ia melihat wajah pria itu, benci dalan diri nya begitu besar.
Namun kini rasa nya rasa benci itu mulai terkikis dengan rasa yang entah rasa aneh apa itu?
Diri nya pun tidak tahu.
"Kenapa melamun?" Ucap Davin membelah keheningan di antara diri nya dan Aelin.
"Sebenar nya apa tujuan mu Om?" Kini Aelin bertanya dengan serius.
Davin mengerjit bingung dengan apa yang di tanya kan Aelin.
Meski sebenar nya ia tahu kemana arah tujuan pembicaraan Aelin.
Namun ia harus pura- pura baik di hadapan Aelin untuk mendapat hati gadis ini.
"Maksud mu?" Tanya Davin dengan tampang lugu.
Aelin mendengus kesal, melihat wajah tidak tahuan Davin yang di tunjuk kan nya.
Kini bahkan ia tidak tahu, apa ekspresi wajah Davin jujur atau dia hanya bersandiwara.
Bahkan kini ia di buat bingung dengan apa yang ada di depan mata nya.
__ADS_1
Namun ia harus tetap waspada dengan sikap Davin.
Mungkin saja Davin melakukan semua hal itu untuk bersandiwara di hadapan nya.
Karna ia tahu Davin adalah pria yang licik.
"Jangan sok berpura- pura atau bersandiwara lagi om... Sekarang hanya ada kita berdua, kau tidak perlu memain kan sandiwara menjijik kan seperti ini dengan sok baik dengan ku..." Kini Aelin menatap Davin dengan tajam, mencoba mencari kebenaran dari mata tajam Davin.
"Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau tanya kan... Di sini seharus nya aku yang menanya kan sikap mu yang selalu saja sinis kepada ku... Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Aku mengakui jika aku terlalu egois hingga melakukan hal bejad seperti itu. " Balas Davin dengan raut wajah menyesal.
Aelin semakin mengerjit bingung.
"Maksud mu?" Tanya Aelin dengan tatapan menyelidik.
"Kamu mungkin akan sangat marah jika mendengar apa yang akan aku kata kan... Tapi aku tidak pernah bersandiwara atau pun berpura- pura baik terhadap diri mu..." Bohong Davin namun berhasil ia sembunyi kan.
Jika seperti nya ada sebuah kejuaran berbohong , maka pasti Davin akan menjadi pemenang nya.
"Hmmmm lalu untuk apa kamu memperkosa ku...!" Sentak Aelin yang kini mulai terbawa emosi.
Ia ingin dengar alasan apa yang akan di kata kan Davin.
Ia ingin mendengar tujuan Davin melakukan semua itu.
Ia ingin mendengar apa kebohongan atau kejujuran yang akan ia dengar dari mulut Davin yang berbisa.
Duar...
Sebuah bom waktu terasa meledak di tubuh Aelin saat ini, saat mendengar jawaban Davin yang terdengar begitu tidak masuk akal.
Apa semua ini?
Aelin membeku di tempat , lidah nya terasa kelu di mana kerongkongan nya mengering seketika.
Alasan macam apa yang di kata kan Davin?.
Aelin terkekeh tertawa, alasan atau pun jawaban Davin sama sekali tidak masuk akal.
Mereka tidak pernah bertemu sebelum nya atau pun saling mengenal.
Lalu dari mana datang nya kata Cinta jika di antara mereka tidak pernah bertemu sebelum nya.
Aelin beranjak dari duduk nya, dengan bibir yang masih tertawa dengan wajah gila.
"Cinta?.. Alasan bodoh apa itu? Om pikir aku senaif itu hah? Kita bahkan tidak saling mengenal sebelum nya lalu bagaimana bisa kau melakukan semua itu karna cinta.? Seperti nya di sini kau yang sudah gila... Ha... Ha..." Ucap Aelin yang masih tidak percaya dengan tawa sumbang mengolok.
Davin menatap Aelin dengan serius.
__ADS_1
"Yah aku sudah gila karna jatuh cinta dengan mu!!!" Seru Davin kini dengan nada menyentak.
Membuat tawa sumbang Aelin terhenti seketika, saat merasakan atmosfer di sekeliling nya terasa berat.
Bahkan kini Davin menatap nya sendu, di mana ke dua bola mata pria di hadapan nya bahkan berkaca- kaca.
"Apa semua yang di kata nya benar? Apa ini bukan sandiwara lagi?.. Bahkan aku tidak bisa mengenali mana kebohongan dan kejujuran nya... Semua nya terlihat suram..." Batin Aelin dengan mengusap wajah nya kasar, menghapus sisa air mata nya yang masih menempel di pipi putih nya.
"Aku melakukan semua itu karna keegoisan ku karna mencintai mu...!" Davin menekan kan nada bicara nya serius.
Di mana telunjuk nya juga kini menunjuk ke arah Aelin yang masih menampak kan wajah tidak mengerti.
"Kau mengata kan dari mana datang nya Cinta? Kenapa aku bisa mencintai mu? Kau ingin tahu jawaban nya bukan.? Maka dengar kan aku...! Kau pasti pernah mendengar tentang cinta pada pandangan pertama? Yah itu lah yang terjadi pada ku.. Saat melihat mu aku tertarik pada mu... Aku memang bejad, brengsek dan tidak tahu malu. Aku menjebak mu dalam ke egoisan ku hanya untuk memiliki mu... Aku tidak mau kau di miliki orang lain... Aku memang egois dengan mengikat mu dalam hubungan yang bahkan tidak kau ingin kan. Terikat dengan pria tua... Ha... Aku pasti sangat terlihat mengenas kan bukan... Tapi ini lah kenyataan nya... Mungkin malam itu entah apa yang merasuki ku hingga melakukan hal sebejad itu... Aku pikir setelah melakukan hal itu dan setelah kita menikah aku bisa menebus nya dengan cinta dan perhatian... Tapi aku seperti nya salah... Hiks... Hiks..." Bahu Davin bergetar, di mana kini ke dua mata nya mengeluar kan benda bening yang di sebut air mata.
Sedang kan ingatan nya membentur pada memori tentang di mana Davin melihat Aelin dalam cctv, di situ lah untuk pertama kali nya Davin melihat Aelin ,dan saat itu juga, Davin memutus kan akan menjadi kan Aelin mainan balas dendam nya.
Davin berjalan mendekat ke arah Aelin yang berdiri bisu.
"Sekarang kau sudah mendengar nya... Kamu sangat membenci ku kan... Ayo lampias kan semua nya sekarang.. Pukul aku atau bunuh aku detik ini juga...." Lanjut Davin dengan menarik ke dua tangan Aelin dan memberikan sebilah pisau buah yang di ambil dari atas meja yang di sediakan dalam pesawat.
"Ayo gunakan pisau ini.. Dan bunuh aku Aelin karna telah lancang mencintai mu...!" Cecar Davin lagi dengan buliran air mata, di mana wajah nya terlihat begitu menderita.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1