
...136💚...
Aelin mendengus saat melihat ke arah meja makan yang masih kosong.
Apa Davin belum selesai bersiap?
Pikir Aelin dengan memasang wajah kesal.
Setiap pagi ini lah yang terjadi.
Davin selalu saja membuat diri nya kelimpungan.
Setiap pagi jika tidak di tahan oleh Davin di atas ranjang, maka pintu kamar akan di kunci hingga ia memberikan apa yang di ingin kan oleh Davin.
Dan setelah bangun tidur, pria manja itu bukan nya langsung masuk ke kamar mandi dan membersih kan diri tapi malah menghampiri nya ke dapur dan meminta jatah morning kiss.
Davin benar- benar sudah seperti anak kecil, di mana Aelin harus mengguna kan tenaga yang ekstra untuk menghadapi sikap manja suami nya itu.
Tapi Aelin senang akan hal itu, Davin arti nya begitu mementing kan kehadiran nya. Bahkan pria itu begitu ketergantungan pada nya.
Tapi hari ini adalah hari yang berbeda. Karna hari ini Davin harus pergi ke kantor untuk meraya kan hari kembali nya ke kantor nya.
Yah selama suami nya itu sakit semua pekerjaan nya di handle oleh Darren.
Sementara suami nya itu terus bermanja dan selalu menempel pada nya.
Aelin meletak kan sarapan yang ia buat di atas meja.
Sementara dari arah lain terlihat sang ibu mertua, Nyonya Tissa datang dengan sikap angkuh dan sombong nya.
"Selamat pagi ma...!" Sapa Aelin dengan ramah.
"Pagi..." Jawab Nyonya Tissa singkat tanpa menoleh ke arah Aelin.
Aelin mendekat ke arah Nyonya Tissa, hati nya sedikit tercubit melihat sikap Nyonya Tissa yang semakin dingin terhadap nya.
Ibu mertua nya itu seolah menganggap jika kehadiran nya di rumah ini sama sekali tidak ada.
Meski semua hal sudah ia lakukan untuk mengambil hati ibu mertu nya itu. Tapi tetap saja ia gagal dan hanya mendapat kan perlakuan buruk.
Nyonya Tissa semakin bersikap dingin terhadap nya.
Saat Davin memarahi ibu nya karna diri nya yang hampir terjatuh dari lantai dua. Hal itu di sebab kan karna Nyonya Tissa meminta diri nya untuk mengganti gorden.
Hari itu benar- benar adalah perang besar. Amarah Davin benar- benar memuncak. Davin pun mengirim Nyonya Tissa untuk pergi ke luar negri selama satu bulan.
Dan setelah kembali nya Nyonya Tissa ke rumah ini , sikap Nyonya Tissa semakin dingin terhadap nya. Dan tentu saja tatapan tidak suka dan penuh kebencian selalu tertuju pada nya.
Aelin hendak meletak kan satu potong roti yang sudah ia oles kan selai pada piring Nyonya Tissa.
__ADS_1
Namun belum sempat roti tersebut mendarat di piring Nyonya Tissa. Nyonya Tissa mengangkat tangan nya ke udara.
Mengisyarat kan agar Aelin tidak meletak kan apa pun di piring nya.
"Kamu bisa mengurusi putra ku... Tapi tidak dengan ku... Aku tidak mau jika roti yang ku makan terkandung racun untuk membunuh ku..." Sinis Nyonya Tissa tanpa menatap ke arah Aelin.
Hati Aelin terasa di remas dengan kuat. Rasa nya mendengar ucapan Nyonya Tissa selalu saja membuat diri nya sedih.
Ibu mertua nya itu selalu saja mencari celah untuk menjatuh kan diri nya.
Nyonya Tissa mengulur kan tangan nya untuk mengambil roti dan mengoles kan dengan tangan nya sendiri.
Kehadiran diri nya di sini yang awal nya hanya untuk bermain peran dan berpura- pura menjadi mertua yang jahat kini berubah arah.
Di lubuk hati nya, ia benar- benar sangat membenci Aelin.
Karna wanita ****** itu diri nya harus di asing kan ke tengah hutan dan hidup sendiri oleh Davin.
Dengan topeng mengirim diri nya ke luar negri.
"Sayang...!! Aelin...!!" Teriak Davin dari kamar nya.
Membuat Aelin langsung tersadar dari lamunan nya.
Ia menatap sekilas pada Nyonya Tissa yang sedang menikmati sarapan nya.
"Aku berharap kamu juga segera pergi dari dunia ini..." Timpal Nyonya Tissa dengan rahang yang mengeras.
Aelin yang mendengar ucapan Nyonya Tissa berhenti sejenak.
Lalu menelan saliva nya dengan paksa ketika ibu mertua nya sendiri mengharap kan kematian diri nya.
Ia menghemhus kan nafas nya lalu kembali berjalan menuju kamar Davin.
"Sekarang drama apa lagi yang dia akan buat...?" Gumam Aelin dengan memutar knok pintu dan mendorong daun pintu.
Kaki Aelin melangkah masuk, namun dahi nya berkerut saat melihat ke arah kamar yang kosong.
"Di mana Davin?"
Srak..
Hap...
Dengan gerakan kilat , tubuh Aelin terhuyung masuk ke dalam pelukan Davin.
Rasa nya jantung nya merosot jatuh ke dasar perut nya karna tingkah suami nya yang benar- benar membuat nya kaget.
"Kamu lama sekali...!" Beo Davin dengan memeluk pinggang Aelin dengan kuat.
__ADS_1
Ia tidak mau melepas kan istri kecil nya yang senang sekali kabur- kaburan.
"Kamu mengaget kan ku sayang.. Lepas kan...!" Pekik Aelin kesal karna ulah Davin detak jantung nya jadi bekerja dua kali lipat.
Kekesalan Aelin semakin bertambah saat melihat suami nya yang masih berantakan.
Kemeja kerja yang di kenakan nya benar- benar berantakan, lalu rambut dan juga dasi nya sudah seperti orang mabuk.
"Itu hanya kejutan kecil sayang... Siapa suruh kamu tidak memberi hak ku pagi ini..." Wajah Davin cemberut dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Ck... Ingat sayang hari ini adalah hari penyambutan kedatangan mu kenbali ke kantor.. Jadi bersiap lah.. Tidak etis sekali diri mu datang terlambat..."
Aelin dengan jahil mencubit tangan Davin dengan keras.
Sehingga Davin meringgis sakit, dan melepas pelukan nya.
"Aahhh sakit.. Kau?.."
"Astaga kamu benar - benar membuat kesabaran ku habis.. Apa waktu sepanjang itu tidak cukup untuk membersih kan diri dan bersiap... Kemari lah...! Bagaimana bisa seorang pria terkaya di asia tidak bisa memakai kemeja dan dasi.. Dan sekarang diri mu juga tidak bisa menyisir rambut mu sendiri... Yang sakit kaki mu tapi yang geser otak mu..." Omel Aelin dengan wajah ala emak- emak yang sedang mengomeli anak nya.
Davin tersenyum senang melihat wajah Aelin yang mengomel.
Dua pipi indah Aelin terus bergerak tanpa henti saat mengomel hal itu mampu membuat mood Davin meningkat.
Setiap pagi ia selalu membuat ulah, membuat istri kecil nya selalu kesal dan mulai mengomeli diri nya.
Tapi hal itu membuat diri nya bahagia karna ia merasa menjadi suami sungguhan.
Selalu di perhatikan dan di utama kan oleh istri nya.
"Nah kan jika begini kamu terlihat rapi... Duduk lah aku akan mengering kan rambut mu...!" Titah Aelin lalu melangkah ke arah laci meja di mana ia biasa menyimpan hair drayer.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1