Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Xtra Part


__ADS_3

...Extra Part...


Sebuah mobil mewah berhenti di tepi jalan. Cuaca langit mendung dengan hawa dingin menusuk kulit benar-benar terasa. Belum lagi, tiupan angin dingin yang menerbangkan puluhan daun kering yang jatuh.


Daerah tempat mobil tersebut berhenti sangat sepi. Tidak ada satu orang pun, selain beberapa batu dengan berbagai rupa yang tertancap di tanah dengan rapi. Bunyi suara pintu mobil yang terbuka memecahkan kesepian tempat itu.


Dari balik pintu mobil, terlihat keluar sepatu kecil dengan warna merah muda. Gambar kelinci menyembul lucu dengan gigi terlihat. Kedua kaki pendek berdiri dengan pandangan bulan sabit yang tertuju pada daerah pemakaman. Yah, ini adalah tempat pemakaman, rumah terakhir untuk manusia yang telah berbeda alam.


Dari pintu samping yang berlawanan arah. Seorang pria dengan usia hampir setengah abad keluar menggunakan syal melilit di leher, serta jaket tebal yang ia kenakan menunjukkan bahwa cuaca hari ini begitu dingin.


Pria itu setengah berlari menuju ke pintu samping lainnya. Wajahnya yang lesu dengan beberapa gurat keriput serta bibir pucat menampakkan duka yang begitu dalam.


"Aleyya!" panggil pria itu yang membuat anak kecil perempuan berumuran tiga tahun itu menoleh.


"Dady, sepatuku kotor," cicit anak kecil perempuan yang bernama Aleyya tersebut. Ia menunjuk ke arah sepatu kelincinya yang kotor karena terkena tanah lembab.


Pria itu tersenyum lembut. Ia langsung berjongkok dan mengusap sepatu kecil tersebut dengan tangannya tanpa merasa jijik.


"Sekarang sudah bersih, Ayo!" Pria itu bangkit kembali, lalu menggandeng tangan kecil Aleyya. Keduanya mulai berjalan ke dalam tempat pemakaman.


Rambut bergelombang Aleyya tertiup angin, membuat gadis kecil itu tertawa ringan. Menampilkan gigi-giginya yang kecil dan rapi. Sorot mata seperti bulan sabit dengan bulu mata yang lentik menjadi karya tuhan yang paling indah. Pipi chuby dan putih bersih membuat dia terlihat sangat cantik dan lucu.


Langkah kaki mereka berhenti pada kuburan dengan nisan bertuliskan Aelin Dirwantar. Yah, dua orang yang kini berdiri di depan kuburan Aelin adalah Davin Arselion dan Aleyya Arselion, yang tak lain adalah putri mungil yang dilahirkan oleh Aelin sebelum menjemput ajal.


Air mata Davin luruh dengan deras tak terbendung. Rasa penyesalan dan bersalah yang begitu besar membuat ia selalu hidup dalam lingkaran kesengsaraan dan duka. Setelah kematian Aelin, untuk sejenak atau sedetik ia tidak pernah menikmati hidup. Kenangan indah dan cara ia menyakiti Aelin hingga akhir hidup wanita itu menjadi hukuman telak yang terus menggerogoti hidupnya setiap saat.


Ingin sekali rasanya ia memutar waktu dan mengubah semuanya. Ia ingin membuat Aelin menjadi wanita satu-satunya yang sangat bahagia. Namun, akibat kebencian bodohnya, ia membuat putrinya yang manis ini hidup tanpa sosok ibu.


Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini. Setiap hari, ia selalu ada di rumah. Tidur di dalam kamar Aelin tanpa berniat untuk keluar. Semua aset perusahaan yang ia miliki telah di ambil sepenuhnya oleh Antonio. Namun, pria itu sepertinya masih berbaik hati. Dia melimpahkan semua harta yang dia rampas atas nama Aleyya.


Setiap hari yang Davin lalui hanya untuk menangis mengenang kematian Aelin. Sesekali, ia menjadi orang gila dengan berbicara banyak hal dengan foto besar Aelin yang dipajang di dinding kamar. Semuanya terasa berat bagi Davin hingga tiga tahun berlalu dengan cepat.


Aleyya menatap polos sang ayah yang selalu menangis setiap mengunjungi makam sang ibu. Tidak hanya di makam, tapi di rumah pun juga sama. Bahkan sampai seringnya sang ayah menangis, kantung matanya sampai membengkak besar.

__ADS_1


"Dady, berhenti menangis!" seru Aleyya sambil menarik tangan Davin.


"Dady sangat merindukan Momymu." Tubuh Davin terduduk di depan makam Aelin. Ia mengelus rumput hijau yang basah karena embun. Sudah sangat lama, mereka tidak bertemu. Ingin sekali rasanya, Davin masuk ke dalam kubur ini dan memeluk Aelin.


"Dady, Momy tidak suka pria cengeng." Aleyya berusaha membuat Davin berhenti menangis. Ia mengusap lembut air mata di wajah sang ayah dengan tangan mungil miliknya.


"Hai, Sayang. Lihat, aku datang lagi bersama Aleyya. Sekarang putri kecilmu sudah bertambah besar. Umurnya juga bertambah satu tahun," ujar Davin mengajak berbicara kuburan Aelin dengan suara gemetar penuh kesedihan. Sementara Aleyya tersenyum lebar.


"Iya, Mom. Aku sudah besar sekarang. Bagaimana kabar Momy?"


"Momy pasti baik-baik saja di sana." Davin menjawab pertanyaan putrinya sendiri.


"Momy, kali ini aku ingin mengeluh tentang Dady."


Davin menoleh heran ke arah sang putri kecil yang kini cemberut dengan pipi mengembung.


"Momy tahu, selama tiga tahun ini Dady selalu menangis setiap tiga jam sekali. Setiap aku masuk ke dalam kamar untuk mengajak dia bermain, pasti aku selalu melihat Dady menangis. Dia tidak pernah tersenyum lebar sepertiku. Aunty Maya bilang, Dady sangat rindu pada Momy. Kau tahu, Mom, aku juga merindukanmu, tapi aku tidak cengeng seperti Dady. Aunty Maya bilang Momy tidak suka orang cengeng. Bisakah, Momy katakan pada Dady untuk tidak menangis lagi?" tutur Aleyya panjang lebar menyuarakan masalahnya selama ini. Ia sudah lelah melihat sang ayah terus menangis setiap hari. Ia ingin sang ayah bahagia selalu.


Air mata Davin semakin merembes deras mendengar keluhan dari sang putri. Isakan kecil dari bibirnya terdengar di tengah-tengah pemakaman sepi ini. Ia menarik tubuh mungil Aleyya dan memeluknya dengan hangat. Sifat putrinya sangat mirip dengan Aelin. Aleyya lah yang menjadi kekuatannya untuk hidup selama ini. Pesan Aelin untuk menjaga putri mereka menjadi tujuan hidup seorang Davin Arselion.


"Dady sangat rindu Momy, ya?" tanya Aleyya yang diangguki oleh Davin.


"Momy juga rindu sama kita, tapi Momy bilang kita harus bahagia," lanjut Aleyya.


"Dady sudah membuat banyak kesalahan pada Momy. Andai Momy masih hidup, Dady akan meminta maaf seumur hidup, tapi Momy menghukum Dady sangat berat. Dia pergi meninggalkan Dady sendiri."


"Momy sengaja ninggalin Dady buat jaga Leyya."


Davin mengangguk pelan. Ia mengecup penuh kasih sayang punggung tangan sang putri, kemudian kembali memeluk Aleyya. Setidaknya dengan memeluk Aleyya ia bisa mengurangi rasa rindu pada Aelin.


Suara gemerisik daun yang saling bergesekan menemani Aleyya dan Davin yang masih mengobrol dengan kuburan Aelin. Setiap datang kemari, mereka bisa menghabiskan waktu dua jam untuk menceritakan banyak hal pada Aelin. Mereka tahu, Aelin tidak akan menjawab atau merespon, tapi hal itu memberikan kelegaan hati untuk Aleyya ataupun Davin.


Awan mendung yang memenuhi langit bergeser perlahan ke arah barat. Memberikan celah pada matahari untuk menyelipkan sedikit sinar hangat miliknya.

__ADS_1


Aleyya kecil hidup tanpa sosok ibu. Akan tetapi, Maya, pelayan sang ibu selalu memberikan kasih sayang seorang ibu menggantikan sang majikan. Sehingga, Aleyya masih beruntung bisa merasakan cinta kasih dan hangatnya pelukan ibu walau bukan dari wanita yang melahirkan dirinya.


...----------------...


...****************...


...Attention...



Hadir dalam acara pertemuan keluarga Colorta untuk menemui sang calon mertua dari sang kekasih. Berpikir akan diterima dengan cinta dan sambutan hangat dari keluarga Colorta. Bersatu dengan Verix sang tambatan hati, serta pria yang sangat ia cintai adalah mimpi seorang Aleyya.


Akan tetapi, siapa sangka ia harus mengubur mimpinya itu. Saat ibu Verix menyatakan tidak bersedia menerima Aleyya untuk Verix karena hubungan masa lalu. "Selama aku hidup, kamu tidak akan pernah menikah dengan Verix putraku."


"Tapi kami saling mencintai," bela Aleyya.


"Selama gadis itu kamu, aku tidak akan pernah memberi restu. Katakan, Verix kamu tidak akan menikahi perempuan bodoh ini!" bentak Nyonya Colorta.


"Aku tidak akan menikahinya, Mom." Verix memberikan keputusan yang membuat Aleyya hancur seperti tersambar petir.


"Jika kamu tidak ingin menikahinya, biar aku yang menikahi gadis ini." Suara bass serak yang tiba-tiba menggema di seluruh ruangan membuat seluruh mata tertuju pada satu titik. Tidak terkecuali Aleyya yang kaget melihat sosok pria yang menawarkan pernikahan dadakan padanya.


Siapakah sosok itu?


Apa Aleyya akan menerima pernikahan itu atau menolaknya?


Kisah dari anak Davin dan Aelin akan hadir dalam empat hari ke depan. Akan segera launching, kisah hidup gadis cantik tanpa kasih sayang ibu yang membuat dia setegar karang. Yok di cek, seru banget


Jangan lupa Like


Komen


Gift

__ADS_1


Vote


tips


__ADS_2