
...89...
"Aelin sandiwara apa lagi yang kamu buat.?!" Teriak Nyonya Tissa dengan wajah garang nya.
Tidak ada rasa iba atau pun kasihan di ke dua mata nya, melihat kondisi Aelin yang nyaris seperti orang gila.
"Mama.. Om Davin.. Hiks.... Hiks..." Aelin mencoba mengata kan apa yang baru saja di lihat, namun sungguh yang keluar dari bibir nya hanya isakan tangis.
Tenggorokan nya terasa kering, dengan rasa takut yang benar- benar membuncah.
Ia tidak ingin di tinggal kan lagi, bayangan Davin yang tersenyum saat mengata kan jika dia ada untuk Aelin , semakin membuat rasa takut dan benteng Aelin menjadi tegar hancur berkeping- keping.
Nyonya Tissa semakin berdecak dengan kesal, lalu mengedar kan pandangan nya pada tatapan semua pelayan yang memasang ekspresi kaget.
Ke dua mata Nyonya Tissa langsung melebar dengan sempurna, di mana tangan nya langsung terangkat menutup bibir nya yang terbuka saat melihat mobil Davin yang terbalik di layar televisi di depan nya.
"Da... Davin..." Lirih Nyonya Tissa dengan ekspresi terkejut.
"A.. Aku harus menelpon om Davin.. Hiks.. Hiks..." Cicit Aelin merogoh ponsel nya, lalu memain kan benda pipih itu dengan tangan yang bergetar.
Namun Aelin memejam kan mata nya rapat, saat tidak menemukan kontak suami nya itu.
Ia lupa jika ia selalu menghapus panggilan masuk dari Davin, bahkan nomer ponsel Davin pun sama sekali tidak ia simpan.
Istri seperti apa diri nya?
Bahkan nomer ponsel suami nya sendiri pun tidak ia miliki.
Tapi ia tidak boleh menyerah , ia ingin segera menemui Davin dan bersama suami nya.
__ADS_1
"Tidak.. Aku tidak boleh menyerah.. Aku harus sampai pada om Davin apa pun yang terjadi.. Ya tuhan aku mohon semoga om Davin baik- baik saja..." Batin Aelin dengan menggeleng- geleng kan kepala nya, sembari berdoa untuk Davin.
Aelin segera bangkit, mengusap lelehan bening di pipi nya yang tak pernah surut, di mana hati dan dada nya terasa di remas dengan kuat, bahkan terasa akan hancur.
Aelin menelan saliva nya kasar, membasahi kerongkongan nya yang terasa begitu kering, agar suara nya bisa keluar meski tersendat dan terhalang isakan tangis nya yang tak kunjung reda.
"Ma.. Beri kan nomer ponsel om Davin..!" Cicit Aelin dengan wajah memelas dan frustasi.
Namun Nyonya Tissa tidak bergeming, ia masih kalut dengan kejadian yang benar- benar membuat nya kaget.
Bos nya sedang mengalami kecelakaan, ia sedikit takut, bagaimana jika Davin sampai meninggal melihat kondisi mobil Davin yang penyok dan setengah hancur. Terlihat jika sangat sedikit harapan jika Davin akan selamat.
Jika Davin meninggal, itu arti nya kemewahan yang sedang ia nikmati sekarang akan berakhir.
Ia tidak akan bisa menjadi Nyonya besar keluarga Arselion.
"Hah?" Tubuh Nyonya Tissa seketika tersentak saat Aelin menggoyang kan tubuh nya.
"Mama berikan nomer ponsel om Davin.." Ulang Aelin dengan tidak sabaran.
Tanpa bisa berpikir, Nyonya Tissa mengeluar kan ponsel nya, yang langsung di raih oleh Aelin.
Aelin terlihat begitu gusar dan kalut, di mana ketakutan yang besar sedang membalut diri nya.
Ia tidak bisa kehilangan lagi, ia tidak bisa membiar kan takdir mengambil Davin.
Ia tidak akan pernah bisa.
Aelin menekan kontak Davin, dan mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.
__ADS_1
Berharap jika panggilan telpon dari nya bisa tersambung, dan ia bisa mendengar suara Davin.
Suara yang sebelum nya sangat ia benci saat mendengar nya, namun kini ia sangat menanti kan untuk mendengar suara bariton khas Davin.
Tut...
Tut...
Tut...
...----------------...
...****************...
Jika ada yang mau karya ini tetap lanjut... Jangan lupa koment, like, gift, dan vote , dan juga kalau bisa promosiin ya😊
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1