
...109💚...
"Tertawa saja kamu sampai rahang mu lepas..." Sentak Davin dengan suara sebal. Karna Darren menertawa kan diri nya.
Darren melipat bibir nya dalam. Mengontrol tawa nya yang ingin pecah karna lucu melihat wajah cemberut Davin yang sudah seperti pantat bebek.
"Oke... Oke baik lah aku tutup mulut..." Timpal Darren dengan meletak kan satu jari telunjuk nya di depan bibir, sembari kepala nya menggeleng- geleng pelan.
Davin memutar ke dua bola mata nya malas, melihat tingkah laknat asisten sekaligus sahabat nya.
Andai diri nya tidak sedang sakit, sudah ia pasti kan ada benda yang akan melayang ke arah Darren.
Ke dua manik mata Darren terfokus pada mangkok bubur ikan yang terlihat lezat.
Apa lagi sekarang perut nya sedang lapar, dan minta untuk di sini.
Akibat menjaga Davin ia sering melewat kan makan bahkan sering terlambat.
Kali ini sakit nya Davin benar- benar membuat diri nya sangat kerepotan.
Diri nya berdoa agar tuhan segera menyembuh kan Davin.
Ia sudah sangat bosan terus berada di rumah sakit dan di suguh kan adegan dewasa di depan mata bocil nya.
Belum lagi ia harus meladeni Frans yang sangat cerewet lebih cerewet dari peluit yang di tiup.
Dokter muda yang terlihat cool itu ternyata tak lebih dari emak- emak berdaster yang terus mengoceh tanpa henti.
"Hah... Gara- gara menjaga diri mu membuat perut ku lapar..." Cicit Darren meraih mangkok bubur yang ada di samping ranjang Davin.
Melihat tangan Darren yang hendak mengambil bubur nya. Dengan kecepatan kilat Davin segera merampas mangkok bubur itu dan menatap Darren tajam.
Wajah Darren langsung mengkerut seperti apel kering, saat tangan nya hanya menangkap udara kosong.
Sungguh ia kecewa.
"Kau...!" Desis Darren menatap Davin.
"Kau apa? Enak saja kamu ingin makan bubur ku.. Ini bubur ku Darren..!" Tekan Davin dengan berat.
"Tapi kamu sudah sarapan tadi... Bahkan di suapi oleh Aelin... Jadi beri kan bubur itu aku juga ingin makan.. Aku kelaparan karna menjaga diri mu..." Oceh Darren yang tidak terima.
"Tidak boleh... Aelin membuat kan bubur ini untuk ku.. Itu arti nya bubur ini hanya milik ku.. Dan aku tidak mau berbagi pada mu... Aelin membuat nya dengan penuh perhatian... Jangan mimpi kamu bisa makan bubur ini... Lebih baik kamu beli saja di kantin rumah sakit..." Kekeh Davin yang bahkan semakin mengerat kan pegangan nya pada mangkok.
Darren benar- benar tidak percaya. Davin sangat pelit pada nya.
Seumur hidup baru sekarang Davin tidak mau berbagi dengan diri nya. Selama bersama Davin, pria yang bernotabene sebagai majikan nya itu sangat royal pada nya. Bahkan di hari ulang tahun nya yang kemarin pria itu menghadiahi nya sebuah jet pribadi.
__ADS_1
Lalu sekarang?
Apa ini?
Hanya sisa bubur Davin tidak mau membagi nya dengan diri nya.
"Aku bosan makan makanan kantin rumah sakit..." Dengus Darren sebal sambil memasang wajah masam, lebih masam dari asam.
"Aku tidak peduli.. Kamu boleh makan apa pun tapi tidak dengan bubur ini.. Kamu tidak boleh memakan masakan istri ku.. Hanya aku yang boleh makan makanan dari tangan istri ku.. Dan itu berlaku bukan untuk kamu saja. Tapi untuk semua orang..."
Entah sejak kapan Davin begitu egois hanya karna masakan Aelin.
Tapi jujur ia tidak terima jika Darren sampai memakan bubur ini.
Mungkin memang sisa, tapi ini adalah buatan Aelin.
Aelin membuat bubur ini dengan penuh kasih sayang, membayang kan Aelin sedang bekerja di dapur saja membuat dada Davin bergemuruh kencang.
Darren menatap lekat pada Davin, melisik setiap tingkah Davin yang kini terlihat sangat berbeda.
Sahabat nya sekaligus majikan nya itu lebih sering tersenyum belakangan ini. Apa lagi saat berada di depan Aelin. Bibir hitam nya tidak pernah terlihat tidak tersenyum.
Hal itu membuat Darren sedikit curiga dengan tingkah Davin.
Ia merasa Davin sedang berjalan di jalan yang lain dari jalan yang sudah di buat oleh pria itu.
Seakan tatapan Darren tengah mengupas seluruh tubuh di kulit nya.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" Sinis Davin.
"Kenapa kamu begitu egois tentang Aelin?" Balas Darren dengan sebuah pertanyaan.
Kepala cerdas nya sudah tidak bisa mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan nya.
Ia ingin menanyakan apa yang sedang ada di pikiran nya.
Apa lagi kemarin Davin memberikan tugas untuk mencari tahu masalah gejala penyakit aneh yang sedang di derita.
Dan dari sekian banyak nya survei jawaban yang ia dapat kan.
Jawaban nya hanya satu.
Orang yang sering merasa debaran jantung nya tidak normal saat dengan seeorang , lalu bawaan nya selalu bahagia dan rindu.
Orang itu tengah jatuh cinta.
Lalu apa Davin sudah jatuh cinta dengan Aelin?
__ADS_1
Itu yang harus ia cari jawaban nya.
"Aku tidak tahu.. Aku hanya tidak ingin orang lain menyentuh makanan yang di buat kan Aelin..." Jawab Davin apa ada nya.
Dan memang hal itu yang ia rasa kan.
"Apa kamu merasa kan rasa yang aneh saat berada di dekat Aelin?" Tanya Darren lagi.
"Aku tidak tahu... Aku sudah menyebut kan semua gejala yang aku rasa kan pada Aelin pada mu bukan..."
"Aelin sangat membenci mu Davin... Aelin tidak membutuh kan mu... Aelin menganggap mu sebagai monster yang sudah menghancur kan hidup nya. Ia peduli pada mu karna ingin menghancur kan mu... Jika ada kesempatan dia ingin melenyap kan mu..." Kata Darren menjelek- jelek kan Aelin dengan menggebu- gebu.
Rahang Davin mengeras, dengan ke dua tangan nya yang memegang mangkok semakin erat, bahkan mangkok di tangan nya mulai retak karna mendapat tekanan yang cukup besar.
Hati Davin rasa nya terbakar hangus mendengar ucapan Darren.
Ia tidak terima Aelin di jelek- jelek kan seperti itu.
Rasa nya seluruh darah di dalam tubuh nya mendidih hingga mencapai puncak suhu terpanas.
Swingg...
Prangg...
Mangkok bubur yang ada di tangan Davin melayang dan jatuh tepat di ujung kaki Darren.
Membuat mangkok itu hancur berkeping- keping dengan cipratan bubur yang mengenai ujung celana Darren.
"Tidak... Aelin tidak seburuk itu... Aelin tidak membenci ku... Dia peduli dengan diri ku bukan karna dia ingin menghancur kan ku... Jika dia ingin melenyap kan aku maka dia bisa melakukan nya saat kondisi ku tidak sadar kan diri.. Bahkan kamu tahu Darren jika dia rela tidak makan dan minum selama dua hari hanya untuk menjaga ku... Dia tidak membenci ku karna aku tahu dia mencintai ku dan mulai menerima ku menjadi suami nya....!" Teriak Davin dengan amarah yang meletup- letup tidak terkontrol.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1